
"Siapa kau?" tanya Fathir.
"Aku? Heh, apa kau ingat? 25 tahun silam? "Aku adalah anak dari wanita bergilir malam itu," ucapnya, matanya penuh sinar kebencian.
"Bergilir?" Huda pun kaget mendengar ucapan wanita itu.
"Apa maksudmu? jangan bertele-tele, katakan saja langsung keinginanmu," ucap Fathir lagi emosi.
"Apa kau ingat? wanita yang kalian gilir di Villa waktu itu? seorang wanita yang tak berdaya, di gilir di hadapan suaminya sendiri, hingga suaminya pun sudah tidak ada nafsu sama wanita tersebut, akhirnya dia di campakkan begitu saja bagai sampah."
FLASHBACK 25 Tahun silam.
"Ayo pergi!"
Para pembunuh bayaran itu pun pergi meninggalkan Villa.
"Bos, kau tidak apa-apa?"
Terlihat seorang lelaki tua sedang di ikat di atas kursi,cdan seorang wanita telanjang bulat di atas kasur. Sepertinya dia baru saja di gilir oleh lara pembunuh bayaran suruhan istri pak tua tersebut.
"Mas... Hiks hiks hiks." tangis wanita yang ada di kasur sambil mengambil selimut, dan menutupi tubuhnya.
"Pengawal, bawa wanita itu oergi dari sini, antarkan dia ke rumahnya! dan berikan dia uang 500 juta," ucap sanga Bis
"Baik Bos," ucap pengawalnya yang baru datang.
Sepertinya lelaki tua itu adalah seorang pengusaha yang sedang berkencan dengan istri mudanya, namun istri tuanya mengirim pembunuh bayaran dan menggilir istri mudanya di depan pak tua sendiri, sehingga pak tua merasa jijik dengan istri mudanya.
"Mas! apa maksud ma?" tanya wanita malang tersebut.
"Jangan kau temui aku lagi, uang 500 juta cukup untuk kau bikin modal usaha, ingat! Kalau kau berani datang, maka kau akan mati sia-sia," ancam pak tua.
"Mas... Mengapa Mas begitu tega, mengapa Mas ingin membuang ku bagai sampah?" ucapnya histeris.
"Apa kau kira aku mau denganmu lagi? Setelah apa yang mereka lakukan padamu tadi? Heh, di gilir 3 orang pria di hadapanku sekaligus, mau di taruh di mana mukaku ini heh? pergilah! dan hiduplah dengan tenang, uang itu sangat cukup untuk modal usahamu."
Lelaki tua itu pun pergi meninggalkan kamar dan keluar rumah pergi bersama sang sopir sang wanita hanya menangis.
End.
***
"Jadi kau mengira yang menggilir ibumu itu aku? Heh, saat itu aku masih perjaka ting-ting, mana mau aku sama lobang semut, yang semut mana saja bisa masuk," tegas Fathir merasa kesal.
"Heh... Mana mungkin kau tidak tertarik setelah,kau melihat teman-temanmu melakukannya pada ibuku heh? Munafik," Bentak Gadis cantik itu.
"Pa, apa maksudnya ini?" Huda jadi bingung sendiri.
"Baiklah, kalau kau tidak percaya, kita akan menemui orang-orang yang telah menodai ibumu waktu itu, aku akan membantumu," ucap Fathir.
"Sok baik, munafik,"
Wanita itu oun berdiri dan berjalan meninggalkan kantor Fathir.
"Aku akan membantumu kalau kau ingin, tapi kalau kau tidak mau, terserah, tapi aku demi Allah tidak sedikit pun menyentuh ibumu," ucap Fathir sambil berteriak.
__ADS_1
"Ayah, aku akan mengejarnya."
Entah mengapa Huda merasa kasian dengan wanita itu, dan mengejarnya tanpa menunggu jawaban dari ayahnya.
"Nona... Ayo terima saja tawaran Ayahku!" ucap Huda membujuk.
"Jadi kau anaknya?" Wanita itu pun memindai wajah tampan Huda.
"Tampan" lirih hatinya.
"Siapa namamu?" tanya Huda.
"Saila," Saila mengulurkan tangannya, dia terpana oleh ketampanan Huda.
"Aku Huda. Ayo kita temui ayahku, aku pun akan membantumu."
Saila pun melemah dan bersedia kembali ke ruangan Fathir.
"Pa, aku akan membantunya untuk mencari siapa ayahnya," ucap Huda.
"Duduklah, biar aku ceritakan pada saat itu."
Saila pun duduk dan tetap memasang muka angkuh dan judesnya.
"Baiklah, aku akan membantumu dengan kesepakatan yang ku buat, pertama, kau harus merubah penampilanmu, baru kau bisa tinggal di rumah kami."
"Maksudnya apa?" tanya Saila.
"Kau akan berpakaian sopan selagi berdiam di rumah kami!" pinta Fathir.
"Hmmm."
***
Fathir dan Huda juga Saila sudah sampai di rumah mereka.
"Wa alaikumsalam, Beng? Siapa dia?" Shaina heran ketika suaminya itu kini membawa wanita seksi yang pakaiannya sangat kekurangan bahan.
"Nanti aku jelaskan Ma, sekarang, beri dia pakaian yang layak."
Fathir pun masuk ke kamarnya, sementara Huda yang memang minim pelajaran agamanya saat tinggal dengan keluarga Jery malah sesekali melirik tubuh Saila yang sangat mempesona. Bahkan dia sengaja duduk di sofa ruang tamu agar tetap bisa menatap Siala dari dekat.
"Mama___astagfirullah."
Lain lagi dengan Rangga yang segera mengucap istigfar dan memalingkan wajah, dia pun tidak jadi turun tangga, malah kembali ke kamarnya yang ada di atas.
"Siapa Dia? Apakah dia juga saudara pemuda ini? Tapi mengapa dia sangat berbeda? Dia bahkan memalingkan wajahnya saat melihatku berpakaian begini, mengapa orang rumah ini tampan-tampan semua?" gumam Saila dalam hati.
"Ayo kita ke kamar sebelah."
Shaina pun mengajak Saila masuk ke kamar Zahwa, dan mengambilkan baju Zahwa yang memang sengaja di tinggal.
"Ini kamar siapa Tan?" tanya Saila.
"ini kamar anak pertama kami, dia sudah menikah, dan ikut suaminya," jawab Shaina.
__ADS_1
"Oooh. Kalau yang di tangga tadi?" Saila memang bukan tipe orang yang suka penasaran, baginya lebih baik bertanya dari pada diam.
"Dia Rangga anak ke 3 kami," jawabnya.
"Kalau yang bernama Huda?" tanyanya lagi.
"Dia anak ke dua kami," sahutnya.
"Nah sementara kamar kamu di sini ya! jangan sungkan kalau kau mau sesuatu, makan, cari saja di dapur, atau kau tanya sama Bibi, sekarang kamu ganti baju dulu ya!"
Shaina pun keluar. Saila mengganti baju dan mengenakan kerudung yang di berikan Shaina.
"Cantik," lirihnya.
Ceklek
Saila pun keluar untuk makam malam.
"Siapa kamu?" tanya Yola ketika Yola juga mau ke dapur untuk makan sore.
"Aku? Aku tamu di sini, kamu siapa?" tanya nya.
"Ooh, aku penghuni rumah. Kamu mencsri siapa?"
"Yola... Ini Saila, dia akan tidur di rumah kita untuk beberapa waktu, tolong kau temani dia, mungkin dia akan tidur di kamar Zahwa dulu," ucap Fathir yang tiba-tiba keluar dari kamarnya.
"Iya Pa."
***
Makan pagi bersama. Huda slalu menatap wajah cantik Saila, sedang zsaila malah asik sesekali melirik wajah tampan Huda, yang memang wajahnya lebih tampan di banding Huda. Wajah yang teduh dan mempesona.
"Saila, hati ini kita akan menemui seseorang!" ajak Fathir.
"Hmmm."
Dia hanya menggumam.
"Ma, Pa, hari ini aku ada tugas kuliah ke luar kota, mungkin agak malam baru datang," ucap Rangga.
"Baiklah, hati-hati ya," ucap sang ibu.
"Iya Ma,"
Rangga pun pamit untuk berangkat, dia terburu-buru pergi dari dapur dan menuju kamarnya untuk mengambil keperluannya.
"Hey!"
Saat Rangga turun tangga, ternyata Saila sudah menunggunya di ujung tangga basah.
"Hey," sapa Rangga dengan menundukkan pandangannya dan terus berjalan menuju pintu utama.
"Apa kita boleh kenalan? 'kan aneh kalau kita tinggal satu atap namun kita tidak saling kenal." ucapnya.
"Namaku Rangga, kau Saila 'kan? Salam kenal," ucap Rangga sambil terus berjalan meninggalkan rumahnya menuju garasi.
__ADS_1
"Sombong sekali dia, aku akan mendapatkannya, walau bagaimana pun caranya," batinnya.
Bersambung*...