
Bram dan orang kepercayaannya pun menuju sebuah Pt.Shinwa untuk menemui pemilik perusahaan Shinwa. Perusahaan Shinwa adalah perusahaan Shaina( Shaina dan Zahwa) yang di jual Huda pada saat itu.
Setelah perjalanan 20 menit, mereka pun sampai di gedung bertingkat yang tampak tak terurus itu, sudah 5 bulan perusahaan itu kosong tanpa penghuni.
"Mari Tuan, saya antar menemui pemiliknya," ucap seorang security yang sudah di peringati sebelumnya untuk menjemput tamu hari ini.
"Hmm," gumam Bram.
Bram pun mengikuti secury di iringi asisten pribadinya. Setelah sampai di lantai yang di tuju Mereka pun tampak memasuki ruangan yang terlihat berantakan.
"Silahkan duduk Tuan Bram," Seseorang lelaki tua tampak sudah duduk menunggu di kursi kerajaannya.
"Aku berminat membeli perusahaan ini, jadi berapa Tuan ingin menjualnya," tanya Bram.
"15M," ucap lelaki itu enteng.
"Waaah, kalau segitu aku mah nggak ada uang, uangku hanya di bawah 10M," sahut Bram.
"Maaf Tuan, kalau di bawah 10M aku tidak bisa jual, karena aku ingin bikin usaha baru," sahut pemiliknya.
"Oooh begitu ya Pak, baiklah kalau begitu, mungkin belum jodohku," ucapnya.
Bram pun bersalaman dengan pemiliknya kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut. Bram turin dan kembali menuju mobilnya, ketika melihat pasangan muda mudi sedang berjalan mesra, saling bergandengan tangan.
"Sayang, apakah kau ingin sesuatu? Seperti hadiah perusahaan, atau apa saja?" tanya Rangga. Ternyata Rangga dan Diba juga berada di perusahaan Shinwa.
"Nggak usah, aku mau urus anak- anak saja di rumah," sahut Diba.
"Maaf Mas, apakah anda baru saja turin dari lantai atas?" tanya Rangga saat berpapasan dengan Bram.
"Iya, aku menemui pemilik saham," ucap Bram.
"Benarkah? Apa kau sudah membeli perusahaan ini? " tanya Rangga.
"Tidak, aku tidak punya uang sebanyak itu," jawab Bram.
"Kalau boleh tau, berapa orang itu mau menjualnya?" tanya Rangga lagi.
"15M, gila... Mana ada aku uang sebanyak itu," ucap Bram.
"Oooh, baiklah, terima kasih ya!"
Rangga dan Diba pun meneruskan perjalanannya memasuki lift dan sampai di depan ruangan Pemilik perusahaan di antar oleh security gedung.
"Ha ha ha, bertemu lagi kita Rangga," ucap pemiliknya, karena mereka pernah bertengkar di masa lalu.
"Iya, Pa, dan aku sudah melupakan kejadian di masa lalu, aku hanya membaca berita di koran tentang perusahaan yang akan kau jual ini, dan aku ingin membelinya," ucap Rangga.
"Apakah kau mampu membelinya?" tanya Orang itu.
__ADS_1
"Kau sebutkan saja harganya, barulah aku akan tau," uapnya.
"15M," ucap lelaki itu.
"Apakah kau ingin memeras ku? Dulu saja kau beli hanya seharga 5M, heh, aku akan beli 6M," ucap Rangga.
"6M? Jangan mimpi kau Rangga," ucapnya lagi.
"Itu terserah kau, kalau kau mau menjual, aku bayar sekarang, kalau kau menolak, aku tidak yakin, ada orang yang ingin membeli lebih dari itu, karena beredar rumor, kalau perusahaan ini ada hantunya," ucap Rangga.
"Hei, jangan menakut-nakuti aku kau Rangga! Tidak mungkin ada hantunya," ucap Pak tua itu terlihat tidak suka.
"Baiklah terserah kau saja, ayo Sayang, kita pulang! Aku carikan perusahaan yang sesuai bajat kita saja kalau begitu," ucap Rangga.
Pamilik lerusahaan tampak ragu saat melihat Rangga pergi.
"Tunggu! Rangga, tolong naikin lagi, aku harus membayar hutangku," ucap Pak Tua.
"Aku tambahin 500 juta, bagaimana?" sahut Rangga.
Lelaki itu tampak menimbang dan berpikir.
"Baiklah, aku setuju."
Akhirnya Rangga membeli perusahaan itu dengan harga 5.M 500.juta. Cash transfer.
"Ini milik kak Ezra, Dia ingin menghadiahkan perusahaan ini untuk kak Zahwa," ucapnya.
"Benarkah? Waaah, Kak Ezra pasti sangat sayang sama Kak Zahwa, sampai segitunya," ucap Diba.
"Aku juga sangat menyayangimu kok, apa kau juga ingin perusahaan?" tanya Rangga pada Diba.
Sambil terus berjalan menuju parkiran mobil.
"Nggak usah Gaga, aku cukup nebeng di perusahaan mu saja," ucapnya
Kemudian mereka kembali menuju rumah mereka.
Sementara Bram yabg berada di parkiran gedung PT. Shinwa masih duduk di dalam mobil, banyak yang ia pikirkan. Tak berapa lama, Dia pun menyuruh sang supir untuk kembali ke Hotel peristirahatannya.
***
Jam 10. Pagi, Huda yang tak berani pulang kemaren tampak baru datang, Zahwa selaku Nyonya Rumah yang paling tua pun menunggu kedatangan Rangga, Adiknya.
"Rangga, ayo kita bicara!" ajak Zahwa pelan.
"Hmmm," sahutnya sambil mengangguk. Rangga pin duduk di sofa ruang keluarga yang ada di pojokan ruangan tersebut. Sementara Yola menempelkan telinganya di daun pintu untuk mengintip pembicaraan mereka.
"Aku ingin mendengar alasanmu, kenapa kau kembali lagi dengan wanita itu?" tanya Zahwa.
__ADS_1
"Kak, aku minta maaf, tapi aku tidak mungkin meninggalkan wanita itu dalam keadaan hamil," ucapnya.
Yola yang mendengar itu kaget, kakinya gemetar, beberapa kali dia menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Hamil? Bagaimana bisa hamil? Bukankah kau sudah putus hubungan dengannya?" ucap Zahwa kaget.
"Tapi Dia hamil setelah kami putus Kak," ucapnya.
"Astagfirullah, Huda...." Tak ada kata yang busa Zahwa ucapkan lagi, Dia hanya mampu beristighfar berulang-ulang.
Ceklek
Yola keluar dari kamarnya. Matanya tampak sedikit merah, mungkin tadi malam dia tidak bisa tidur karena menangis.
"Bawa wanita itu ke rumah ini, karena Dia juga istrimu, dia berhak untuk mendapat fasilitas apa pun yang kau punya!" ucap Yola tiba-tiba.
"Yola?" ucap Huda dan Zahwa bersamaan.
"Aku sudah memutuskan ini dengan baik, aku di vonis tidak bisa hamil sejak keguguran itu, dan kau bisa mempunyai anak dari wanita itu 'kan? Sebelum aku berubah pikiran," ucap Yola lagi pelan dan bergetar.
"Tapi...," ucap Huda ragu.
"Tak ada, tapi-tapian, kalau kau menolak wanita itu untuk kau bawa ke mari, kau boleh memilih, Dia atau aku!" ucap Yola ketus.
"Yola, apa tidak ada cara lain?" ucap Zahwa merasa khawatir.
"Tidak Kak, mungkin lebih baik begitu," ucapnya.
"Baiklah, aku perlu membicarakannya dulu dengan Rina," sahut Huda.
"Kita akan tinggal di lantai atas, Kau dan Dia akan tinggal di kamar Rangga, dan kau bisa bersamanya 3 hari dalam seminggu dengannya, dan... 4 hari denganku," ucap Yola.
Setelah mengatakan itu, Yola kembali masuk ke dalam kamar Zahwa untuk menemui Arsy sang Ponakan tercinta. Zahwa pun menyusul Yola.
"Dik." Hanya sapaan itu yang bisa Zahwa ucapkan, saat melihat Yola sudah tengkurap di ranjangnya dengan tubuh bergetar menahan tangis.
"Kakak, maafkan aku, maafkan aku," ucapnya berulang-ulang.
"Kenapa minta maaf?" ucap Zahwa heran.
"Aku tidak bisa menjadi istri yang baik Kak," ucapnya sambil terus menangis.
"Oooh, Yola... Apakah kau sudah sekuat ini?"
Zahwa pun membelai kepala adiknya lembut.
"Mama, aku tidak tau harus bagaimana? Andai saja kau ada di sini, ini semua pasti akan baik-baik saja." lirih hati Zahwa
BERSAMBUNG...
__ADS_1