
Mita dan Ezra saling pandang. Mereka tidak merasa mencari jasa ART.
"Ezra! Apakah kau mencari jasa ART?" Tanya Mita.
"Tidak Mi, apakah Mama Shaina ya?" Tanya Ezra bingung.
"Saya tidak tau Bu, saya hanya di suruh ke mari dan bekerja pada Tuan itu." Jelasnya.
"Ooh, mungkin Shaina yang mengirimnya untuk Zahwa, baiklah, kau bisa mulai bekerja,"
Wanita itu pun disuruh Mita untuk duduk di sisi Zahwa. Sementara Ezra merebahkan kepalanya di sisi kepala Zahwa.
"Z'ra, apakah kau tidak mau pulang dulu? Kan sudah ada Mbak ini. Oh iya, Mbak siapa namanya?"
"Saya Mai, Bu," Jawabnya.
"Tidak Mi, aku takut saat Zahwa bangun nanti aku malah tidak ada di depan matanya, aku ingin di sini saja, Ummi saja yang pulang, lagian kalau malam, Mama Shaina juga nginep di sini kok." Sahut Ezra.
"Iya Tuan, nggak papa kalau Tuan mau pulang, kan ada saya yang akan menemani Non Zahwa, Ibu juga boleh kok kalau mau pulang," Sahut ART itu.
"Baiklah Z'ra, kalau begitu aku pulang saja, kalau kau perlu sesuatu telepon saja aku,"
Mita pun bersiap mengambil barang-barangnya untuk di bawa pulang.
...***...
"Zaira... Sudah hampir 2 bulan sejak kepergian mu, namun hingga saat ini tak satu pun kabar yang ku dapat, jika kau memang sudah meninggal, di mana jasad mu Nak?"
Ibu Zaira terus menangis meratapi nasib kecelakaan anaknya yang tak pernah di temukan.
"Ma... Sudahlah, jangan terlalu di ingat, nanti Mama malah stres sendiri, apakah aku harus membuat perhitungan dengan Ezra dan keluarganya?"
Kakak Zaira yang play boy dan tak pernah perduli dengan adiknya itu kini mulai perduli. Dia prihatin melihat ibunya yang tiap harinya hanya memanggil nama Zaira di setiap waktunya.
"Aldo, kita memang harus membalas perbuatan mereka, kita akan mengatur rencana, agar rencana kita tidak di ketahui oleh mereka," Ucap mama Zaira.
"Baiklah ma, apa yang akan kita lakukan sekarang?"
"Aku dengar hingga saat ini Zahwa belum sadarkan diri dari komanya, kita bisa masuk saat tidak ada yang jaga, kita suntikan obat agar dia mati pelan-pelan."
"Baiklah ma, kalau begitu, aku akan mencari tau, Rumah sakit mana dia di rawat."
"Hati-hati, jangan sampai mereka melihatmu, kita harus melajukan rencana ini tanpa ada yang tau."
"Siap Ma, kalau begitu aku pamit."
Aldo pun pergi meninggalkan mamanya.
...***...
"Mas Bim, tolong dengarkan aku dulu, ya... aku salah, tapi tolong jangan pergi maafkan aku, aku mohon!"
Yola bersimpuh di kaki Bima yang sedang merapikan bajunya ke dalam tas besar.
"Aku sudah muak denganmu, aku ingin bebas, aku sudah menikahi mu, itu sudah cukup 'kan? Anak itu akan punya ayah, itu sudah cukup, tidak perlu kita bertahan sejauh ini,"
Bima terlihat emosi dan terus mengambil bajunya di dalam lemari memindahkannya ke dalam tas.
"Mas, jangan pergi!"
Yola menarik kaki Bima, saat Bima akan keluar kamar.
__ADS_1
Bruk
Bima menghempaskan kakinya, hinga Yola jatuh ke lantai. Dia memegangi perutnya yang tiba-tiba sakit.
"Aduuuh, Paaaa, sakit."
Sementara Bima terus berjalan dengan tergesak-gesak menuju mobilnya yang parkir di halaman rumah.
"Yola ada apa Nak?"
Shaina yang mendengar teriakan dari dapur pun segera menyusul ke kamar Yola.
"Maaaaa, sakit, aduuuh."
Yola terus meringis kesakitan.
"Papa, Bi, tolong!"
Shaina pun berteriak meminta pertolongan sambil membaringkan Yola di lantai.
"Ada Sayang? Yola ada apa?"
Fathir yang baru datang dari kamarnya lun segera mendatangi Kamar Yola.
"La, ayo! Bawa ke Rumah sakit!"
Fathir pun segera mengangkat tubuh Yola dan membawanya berlari menuju mobil. Di halaman, Bima masih menghidupkan mobilnya yang terlihat mogok.
"Bima___"
Bima menoleh, menatap Yola yang sedang di gendong Fathir.
"Tidak Ma, biarkan dia pergi!"
Sanggah Yola tiba-tiba. Fathir mengerti apa,yabg terjadi, sudah sering mereka bertengkar, namun Fathir slalu diam dan hanya menasehati.
"Bima, awas kau!"
Bima merasa gemetar dengan gertakan Fathir yang seakan bagai racun yang mematikan.
"Ingat! Kau akan menyesal, camkan ini!"
Gertak Fathir lagi saat sudah meletakkan Yola di mobil, dia menatap tajam ke arah Bima.
Di perjalanan.
"Helo, Pak, tolong cabut semua saham kita yang ada di Pak Broto, juga katakan pada semua rekan kerja yang memiliki saham di sana dan di tempat kita harus memilih, aku tidak mau berurusan dengan pak Broto, mengerti!"
Fathir menutup telepon.
"Pa, kok tergesak-gesak?" ucap Shaina.
"Sayang, lihat apa yang telah dia lakukan pada putriku."
"Biarin Ma, aku juga sudah cape," ucap Yola.
"Heh, dia akan menangis darah membayar kelakuan putranya pada putriku." Balas Fathir lagi.
Jiwa jahat Fathir kini mulai hidup kembali.
"Aduuuh, ma, sakit."
__ADS_1
"Ha, darah, pa, ayo cepat!"
Tampak Yola mulai meneteskan darah dari bawah, lumayan banyak.
Fathir pun ngebut melalui jalanan yang lumayan padat karena jam kerja.
...***...
"Tuan Ezra, setelah kami melakukan pemeriksaan, kayaknya ada sesuatu yang terjadi pada istri anda!"
Ucap Dokter wanita, karena Ezra hanya ingin dokter wanita yabg menangani Zahwa.
"Ada apa dok, katakan saja!"
Ezra sangat gugup dan sangat takut.
Sebenarnya anda sudah berapa lama menikah, sebelum kecelakaan ini?" Tanya dokter.
"Sebelum kecelakaan, kami sudah menikah kurang lebih 15 hari dok."
Pernyataan Ezra ini membuat Dokter tersenyum.
"Selamat, istri anda hamil."
Dooor
Ezra termangu, ternganga dan bengong.
"Tuan... Selamat."
"Oh iya, terimakasih, tapi, bagaimana bisa dia hamil dok? Dia sedang koma, dan..." Ezra bingung harus bagaimana, dan menjelaskannya dari mana.
"Ada apa? janin itu hidup sebelum dia koma Tuan, dan itu sah-sah saja kok."
dokter itu memberi penjelasan.
"Tapi... Kami... Baru dua kali melakukannya."
Dokter pun menatap wajah Ezra dan sekejap heran, sudah menikah 15hari namun baru dua kali melakukannya.
"Mmm Itu... Karena dia lagi berhalangan dok."
Ezra merasa malu,di tatap dokter itu, hingga dia punya alasan lain.
"Ooooh... Berarti saat kalian melakukan itu, dia sedang dalam masa subur Tuan."
"Ya Allah... Mudahan ini akan menjadi keajaiban dia untuk bangun. Terima kasih dok."
"Sama-sama."
Ezra pun keluar dari ruangan dokter dan mendorong kursi rodanya menuju kamarnya dengan senyum-senyum sendiri.
Glek
Namun dia terhenti saat di depan kamar istrinya saat, Mai sedang berbicara sendiri dengan Zahwa.
"Kau harus merasakan apa yang aku alami, aku akan memberi sakit yang luar biasa padamu, kau akan menyesal Zahwa, ha ha ha."
Dia terlihat tertawa terbahak-bahak, Ezra yang melihat itu pun heran.
...BERSAMBUNG......
__ADS_1