
Zaira pun mengurus semua keperluan Rangga dan Shaina selama ada di rumah sakit. Mereka berdua masih belum sadarkan diri, untung Rangga hanya mengalami luka bakar di kakinya saja.
"Nona, tolong kabari kami kalau mereka sudah bangun!" ucap salah satu oerawat yang sedang bertugas memeriksa kemajuan kondisi mereka."
"Baik Dok."
Aku pastikan mereka tidak akan pernah bangun untuk selamanya, heh.
Batin Zaira.
***
"Bi... Mana Shaina dan Rangga? Mengapa rumah begitu berantakan sekali?"
Fathir yang baru datang dan ingin mengambil baju ganti kaget, saat memasuki rumah penuh dengan beling dan sofa yang acak adul ke sana ke mari.
"Tuan, Nyonya tadi terluka karena kena lempar Den Bima di kepala, sekarang mereka sedang mencari klinik, tali aku kurang tau Tuan, mereka ada di mana, tadi Den Bima ngamuk, dan merusak semua narang yang ada di sini, dan mengenai kepala Nyonya Tuan."
"Keterlaluan Bima, baik lah Bi, tolong Bibi ke Rumah sakit untuk menemani Yola, aku akan mencari Shaina dan Rangga."
Tirah Fathir.
"Baik Tuan. Tapi aku perlu merapikan ini dulu." Pintanya.
"Tidak usah Bi, biar tinggalkan saja, nanti aku suruh paman yang mencari orang untuk merapikan ini."
Fathir pun berlari menuju mobilnya dan mengendarainya menuju klinik terdekat.
"Assalamualaikum, Bu, apakah tadi ada lasien luka di kepala?" Tanya Fathir pada perawat klinik.
"Iya Tuan, ada wanita dan amaknya tadi ka mari, tapi mereka sudah lulang." Jawab lerawat itu.
"Oooh, arah kemana mereka pergi?"
Tanya Fathir.
"Kurang tau Tuan, karena mereka pergi begitu saja."
"Baiklah, terima kasih."
Fathir kembali melanjutkan pencariannya. Dia mengambil HP dan mulai menelpon. Namun, Shaina atau pun Rangga tidak nisa di hubungi. Hp mereka terdengar tidak aktif.
"Kemana mereka? Mengapa mereka sama-sama tidak aktif? Apakah mereka membloker nomorku? Ah tidak mungkin, walau semarah apa pun Shaina padaku, dia tidak pernah sampai membloker nomor suaminya ini."
Fathir terus menyusuri jalan, dan dari kejauhan tampak ada segerombolan orang yang sedang ramai.
"Ada apa itu?"
Fathir pun memelankan laju mobilnya.
__ADS_1
"Ada apa pak?"
Tanyanya pada seorang napak yang sedang lewat berlawanan arah dengannya.
"Ada kecelakaan pak, dan mobil orang itu terbakar, mereka berdua sudah di bawa ke Rumah sakit kok." Jawab lelaki itu.
"Oooh." Fathir terus mendekati kerumunan dengan pelan, akhirnya dia pun turun dan berjalan menuju kerumunan. Dia tidak mungkin lewat, karena di sana sangat ramai.
"Misi, siapa yang kecelakaan?"
Dia kini sudah sangat dekat dengan mobil yang terbakar.
Deg door
Matanya terpana saat mengenali bagian belakang mobil milik Rangga.
"Rangga, Shaina!"
Fathir pun mendekat dan menerobos kerumunan.
"Tolong beritahu saya! mana penumpang yang ada di dalam, dia istri dan juga anak saya, tolong beritahu saya!"
Fsthir berteriak, ketika dia menyadari bahwa mobil yang terbakar iti milik Rangga.
"Tuan, sabar, mereka sudah di bawa ke Rumah sakit Tuan." Seseorang lun mencoba menenangkan Fathir.
"Dimana?, ke mana mereka membawanya?"
"Mari saya antar Pak? Bapak tidak mungkin seperti ini pergi sendiri ke sana,"
Bapa itu pun membawa Fathr memsuki mobilnya dan membawa Fathir menuju Rumah sakit terdekat menggunakan mobil Fathir.
Sesampainya di Rumah sakit Fathir langsung turun dan berlari ke Ruang IGD.
"Pak, Bu, mana Wanita yang baru saja mengalami kecelakaan?"
Dia pun mencengkram petugas jaga yang ada di siti.
"Tunggu pa! tolong beritahu data yang jelas, siapa namanya?"
"Shaina dan Rangga, Dok."
Perawat itu pun melihat data yang tertera.
"Maaf pa, tidak ada nama itu di sini, kecelakaan yang bagaimana pa?" Tanya perawat itu lagi.
"Tabrakan dan mobilnya terbakar." ucapnya.
"Mobil terbakar? Oh iya, itu sudah di tangani keluarganya Pa, dan keluarganya sudah membawanya ke Rumah sakit yang lebih lengkap fasilitasnya." ucapnya lagi.
__ADS_1
"Di mana. Tolong beri alamatnya pa."
Setelah perawat,itu pun memberi data, Fathir pin segera meninggalkan tempat tersebut.
...***...
3 hari sudah berlalu, namun Rangga atau pun Shaina tidak pernah di ketahui keberadaannya. Zaira yang menyamar sebagai Mai masih setia merawat Zahwa dan menyeka tubuh wanita yang sedang koma ini.
Jadi ini tubuh uang telah kau nikmati Ezra. Heh, kau akan menyesal telah meninggalkanku demi wanita ini.
Batin Zaira.
Dia pun memijit-mijit perut Zahwa berharap wanita itu ke guguran secara alami. Sememyara Ezra sedang mandi di kamar mandi yang ada di kamar tersebut.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, eh Nyonya besar."
Ternyata Mita yang datang.
"Mana Ezra?" Tanyanya.
"Lagi mandi Ny.besar.-
Mita pun duduk gelisah di sofa ruangan besar itu.
Ceklek
Ezra keluar dari kamar mandi dengan berpakaian lengkap.
"Ummi? Ada apa?" Tanyanya.
"Nak, sini!"
Ezra pun duduk di sisi Mita.
"Rangga dan Shaina belum di temukan, dan besok juga kau harus operasi ulang, bagaimana dengan Zahwa, apa kah kau bisa meninggalkannya untuk 2 hari saja? ini menyangkut kaki yang sudah aku pesan untukmu Nak."
"Mi, baiknya di tunda dulu, aku takut Zahwa bangun dan mencari ku. Lagian, mama dan juga Rangga belum di temukan, aku merasa semakin pusing, sedang aku tidak nisa ngapa-ngapain Mi." Ucap nya.
"Justru itu Z'ra, kalau kau sudah bisa berjalan, kau bisa mencari mereka juga kan?" bujuk Mita lagi.
"Tuan tidak perlu khawatir, aku akan menjaganya, aku bersedia membantunya kalau memang itu sangat penting tuan."
Kata-kata manis Zaira membuat Ezra dan Mitha tak akan bisa menebak seburuk apa hati Zaira yang sebenarnya.
"Baiklah aku akan memikirkannya dulu."
Zaira pun terlihat tersenyum licik sambil menatap ke arah Zahwa.
__ADS_1
BERSAMBUNG...