
Hari Berganti Hari. Kini saatnya Ezra pergi ke Jerman untuk menyelidiki HP Bram yang ditemukan tukang sampah.
Segala sesuatu telah dia rencanakan dengan baik, kali ini dia bertekad akan membawa pulang Arsya kembali ke Indonesia.
"Sayang..m Aku pergi dulu ya, jaga kesehatanmu, jangan sampai kamu sakit, apalagi sampai males makan, "ucap Ezra seraya membelai pipi Zahwa.
Zahwa yang terlihat cemberut kembali memeluk suaminya.
"Abang... tolong bawa Arsya ku kembali, sekarang Arsya pasti sudah besar, sama seperti Arsy. Mungkin dia sudah belajar berjalan. Ya Allah... marah sekali hatiku, kalau mengingat semua ini, Aku sangat merindukannya Bang," ucap Zahwa.
Seperti biasa, air matanya pun menetes, karena merasa sangat pilu.
"Sayang... aku akan membawa Arsya kita kembali, kamu tunggu saja, kali ini pasti berhasil!l,"ucap Ezra.
Dia pun memeluk kembali Zahwa, dan pamit kepada ibunya Mita,
"Umi... aku titip Zahwa dan Arsy ya Mi," ucap Ezra.
"Iya sayang... kamu jaga diri juga ya, jaga kesehatan, jangan lupa makan, sempatkan makan dulu sebelum mencari Arsya, Pasha Rangga... Oh iya.. Mana Rangga?" tanya Umi
"Rangga mungkin tidak ikut, karena istrinya juga sedang hamil, dan Si Rangga mah dia lagi ngidam kayaknya, istrinya yang hamil, tapi dia yang Ngidam, dia nggak bisa jauh dari istrinya Mi," ucap Zahwa.
" Oh begitu ya, Ya sudah, sana, nanti terlambat," ucap Mita.
Ezra pun pergi meninggalkan kastil megah itu, dan menuju bandara, Zahwa yang melihat kepergian Ezra pun meneteskan air mata, ada harapan yang dia tumpuk di sana untuk menggapai impian berkumpul dengan anak kembarnya.
Sementara di dalam mobil.
"Paman gimana dengan anak paman? Apakah dia tidak mencari Paman?" tanya Ezra.
"Dia sudah besar, dia sudah sekolah, jadi bisa kok diberi pengertian," ucap Fasha.
"Gimana asanya Paman punya anak besar?" tanya Ezra.
"Rame banget, sudah bisa mengerti keadaan orang tuanya, pinter dan ngegemesin lah, apalagi Aku punya tiga anak yang super, 2 cewek dan satu cowok, yang cewek itu sering bertengkar, mamanya sampai pusing kalau mereka lagi bertengkar, Terus yang cowok suka ngambek, ngambeknya itu nggak mau bilang kenapa, diem aja begitu ," ucapnya.
"Ya kalau Paman pergi ini, Apa mereka tidak ingin ikut ?" tanya Ezra.
"Kalau tahu aku mau ke Luar Negeri, tentu saja mereka ingin ikut, aku bilang kalau aku cuma lagi kerja keluar kota, jadi mereka mengerti kok,' kan aku juga cari uang untuk merek. Jadi kalau aku bilang kerja, mereka pasti mengerti." ucap Fasha.
"Tapi kalau mereka Tahu paman ke luar Negeri Nanti, nggak marah?" tanya Ezra.
"Nanti di bawakanlah oleh-oleh yang bagus, kamu yang harus traktir ya? hahaha," tawa Fasha.
__ADS_1
"Ya Paman, Mereka juga adik-adikku kok, pasti aku kasih hadiah, tapi gimana kabar Ando, anak pertama Paman?" tanya Ezra.
"Masih kuliah di luar Negeri dia, mungmin sebentar lagi nakal pulang," jawab sang paman.
Mereka pun meluncur menuju bandara, dan akan segera terbang menuju Jerman untuk mencari keberadaan Arsya kembali
***
Pagi yang cerah, di kota Jerman.
"Hello Arsya... Kamu lagi ngapain Sayang?" tanya Bram.
Pagi ini Bram sudah memandikan Arsya dan mengambilkan baju yang paling bagus, karena mereka akan jalan-jalan ke taman, dan juga, Zaira kembali memulihkan nama Lucky menjadi nama Arsya, dia sebenarnya berniat untuk mengembalikan Arsya pada Zahwa, namun menunggu ingatan Bram pulih.
Zaira pun berencana untuk kembali ke Apartemen itu, supaya ingatan Bram kembali seperti dulu, kalau Dia mengulang masa-masa itu. Dan mungkin saja Ezra bisa menemukannya kembali di sana.
"Sayang kok aku nggak punya HP? Emang selama ini aku nggak punya ya?" tanya Bram pada Zaira.
"Iya Mas, HP Mas kemarin hilang, aku juga nggak tahu," ucap Zahira.
"Beli yang baru dong, biar aku bisa melihat Arsya kalau aku lagi ke kantor," pinta Bram.
"Baiklah... nanti aku belikan yang baru," ucap Zaira.
"Ayo kita makan dulu!" ajak Zaira.
"Mama masih di kamarnya, Mungkin dia lagi mandi," ucapnya.
Mama Zaira masih stroke, namun dia sudah mulai bisa berjalan, dibantu dengan tongkat, dan sudah bisa mengerjakan semuanya sendiri.
Saat Bram makan ke dapur namun saat makan HP Zaira berbunyi. HP Zaira itu berbunyi seperti nada dering yang pernah dia dengar, dia pun memegang kepalanya.
"Sayang... kepalaku sakit ini," ucapnya sambil mencengkram kepalanya.
Kilasan-kilasan masa lalu kembali di otaknya, di mana Dia pernah bertemu dengan seseorang lelaki yang Tentu saja itu adalah Ezra.
Dia pernah satu pesawat dengan Ezra dan pernah bercakap-cakap kilasann itu kembali muncul di benak Bram, akhirnya Bram pun tersandar di kursi dan pingsan.
"Sayang! ada apa? Ya Allah kenapa ini?" ucap Zaira.
Zaira pun segera memanggil taksi dan membawa Bram ke rumah sakit.
Bram dibawa ke rumah sakit dan dibawa ke ruang IGD, setelah diberi infus dan obat penenang, sementara Arsya dia tinggal sama Mamanya di rumah.
__ADS_1
***
Ezra tampak duduk di sebuah taman yang berada di Jerman. Dia sudah berada di Jerman tadi malam.
Pagi ini dia duduk santai di sebuah taman yang indah, di mana Dia pernah bertemu dengan Bram saat itu, dan di sana juga mereka pernah berjanji akan membawa Arsya. Namun itu hanya janji ketika tiba-tiba Bram tidak bisa lagi dihubunginya, harapannya pun hilang begitu saja.
"Bram sebenarnya kamu sekarang ada di mana? Kenapa kamu tidak pernah menghubungiku lagi? Apakah terjadi sesuatu denganmu? atau kau sengaja mempermainkan aku dan bersekongkol dengan Zaira? aku sudah mencari Arsya sejauh ini, namun kau malah menghilang," gumam Ezra.
Setetes demi setetes butiran bening itu pun keluar tanpa bisa dikendalikannya, sementara Fasha yang melihatnya hanya bisa menatap tanpa bisa membantu, untuk meringankan beban sang ponakan tersayang.
"Ezra... hari sudah semakin siang, sebaiknya kita cari perlahan, mungkin saja kita bisa menemukan jejak dimulai dari apartemen yang kemarin, kita akan menyisir CCTV dari sana," ajak Fasha.
Ezra pun mengangguk dan berdiri, Dia berjalan menuju parkirannya dan saat itu juga sebuah taksi berhenti tepat di depan Taman tersebut.
Tampak Bram duduk di kursi rodanya didorong oleh Zaira, menuju Taman tersebut.
Ternyata Bram bersikeras untuk ke taman hari ini setelah siiman.
Ezra yang sudah berbalik menuju Parkirannya tidak melihat kalau Bram ada di sana. sedangkan Zaira kaget saat melihat punggung Ezra yang sangat dia kenal, dia terhenti sesaat, ada perasaan takut namun ada perasaan lain yang mendorongnya untuk memanggil Ezra.
"Apakah aku harus mengembalikan Arsya sekarang?" lirih hatinya.
Lama dia menatap kepergian Ezra hingga akhirnya dia pun menatap Bram.
"Sayang, apakah kau baik-baik saja?" tanyanya.
"Iya, aku baik-baik saja, aku merasa ada sesuatu di taman ini, yang aku ingat aku pernah bertemu seseorang," ucapnya.
"Benarkah? Apakah seseorang itu penting bagimu?" tanya Zaira.
"Mungkin tapi wajah pria itu selalu hadir di benakku," ucapnya.
Ezra semakin jauh meninggalkan taman.
"Bram..." ucap Zaira seperti berat.
Kemudian dia pun berteriak memanggil.
"Ezra... "
Bram kaget.
"Ezra?" tanyanya.
__ADS_1
Sementara Ezra yang mendengar teriakan itu pun berbalik.
Bersambung...