
Ezra dan Zahwa tampak sudah berada di dekat mobil. Sementara Yola dan Arsy juga sudah berada di dalam.
"Hwa... Apa kamu lihat lelaki yang ada di belakang Yola tadi?" tanya Ezra sambil merapikan bawaan ke dalam bagasi mobil.
"Yang mana Bang?" tanya Zahwa.
"Yang di belakang Yola, 2 pria, sepertinya pria yang satu tampak mencuri pandang padamu," ucap Ezra.
"Ah itu biasa, Zahwa 'kan cantik, hi hi," godanya.
Zahwa tau, kalau Ezra memang suka cemburu tanpa sebab.
"Bukan itu yang ku perhatikan. Dia juga terus menatap Arsy, bahkan tanpa kedip" ucapnya.
"Ah masa Bang? Mungkin Dia gemes dengan Arsy yang cantik kayak ummanya 'kan?" ucap Zahwa lagi.
"Entahlah, tapi sampai aku angkat Arsy pun Dia terus menatap kami, bukankah itu sangat aneh?" ucap Ezra.
"Mungkin Dia hanya terpesona oleh pesona Arsy saja Bang, nggak usah berprasangka buruk ah," ucap Zahwa lagi.
"Ya sudahlah, pokoknya, kita harus hati-hati, aku juga mulai memperketat jagaan rumah kita, hanya anggota keluarga yang bisa menggendong Arsy, ingat itu ya Hwa," titahnya.
"Iya," jawabnya.
Mereka pun meluncur menuju pulang ke rumah mereka, Arsy tampak tertidur pulas di gendongan Yola. Begitu juga Yola kadang tertidur dan terbangun kaget saat tangannya terjatuh membuat kepala Arsy juga oleng.
"Mampir sebentar di warung sana Bang ya, aku mau beli jajanan Yola, dia sangat menyukai rujak cingur," ucap Zahwa.
"Baik Sayang."
Ezra pun menghentikan mobilnya tepat berada di depan warung kecil yang bertuliskan rujak cingur. Zahwa pun turun dan ingin memesan Rujak.
"Bu... Itu si Sasa, kerjaan apaan Dia? Kok bisa beli Rumah dan emas gitu sih? Dia 'kan cuma kerja sebagai pembantu di rumah seorang pengusaha kaya," ucap sorang emak ngerumpi.
"Iya ya... Katanya jagain anak Batita gitu, dan sekarang karena merasa cape Dia pun berhenti kerja, tapi kok baru kerja sebulan udah punya banyak uang?" heran seorang emak lagi.
"Iya juga ya? Apa jangan-jangan Dia mencuri berlian majikannya ya?" ucap yang lainnya.
Sementara Zahwa yang sudah berada di dekat mereka merasa tidak enak terus mendengarkan ngerontet mereka.
"Emang Bosnya sekaya apa sih, hingga gajih satu bulan pembantu bisa beli Rumah?" tanya yang lain.
"Katanya Dia kerja di Rumah orang terkaya no 3 di kota itu, Dia bukan menjagain satu anak, tapi dua anak sekaligus," ucapnya lagi.
"2 anak?" tanya yang lain.
"Iya, katanya anak kembar, majikannya juga sangat naik dan beradab," ucapnya.
"Beruntung sekali Sasa ya," sahut yang lain.
__ADS_1
"Sasa?... Apakah Sasa bekas pembantu kami?" lirih Hati Zahwa.
"Mbak ini pesanannya," ucap paman rujak cingur.
"Oh terima kasih," ucap Zahwa seraya membayar pesanannya.
Zahwa pun kembali ke mobil dengan pikiran yang penuh tanda tanya.
"Ada apa sih Hwa?"
"Nggak, nggak papa kok," jawabnya.
Mereka pun meluncur kembali menuju jalan pulang Rumah.
***
Bram masih penasaran dengan kemiripan anak yang tadi di temuinya di Mall. Dia termenung dan mengingat-ingat wajah anak kecil tadi.
"Bos, ada apa? Kenapa sepertinya Bos sangat berpikir keras?" tanya Asistennya.
"Kau lihat 'kan? saat kita makan tadi ada anak kecil dan orangtuanya?" ucap Bram.
"Di mana Bos, di Resto tadi?" tanyanya.
"Iya, aku melihat... wajah anak itu sangat mirip dengan Lucky, walau mereka berbeda kelamin, apakah mereka memiliki jalinan darah yang sama, kembar? Atau sepupuan gitu," ucap Bram lagi.
"Mana aku tau Bos, kenapa nggak tanya aja langsung," ucap Asisten.
"Bos ada foto Lucky nggak?" tanya Asistennya.
"Nggak ada, mana pernah aku berfoto dengan Dia," ucap Bram.
"Minta kirimin saja sama Zaira, Dia pasti mau kasih, bilang saja kalau kamu merindukan anak manis itu," ucapnya lagi.
"Iya juga ya!"
Bram pun mengambil Hp dan menelepon Zaira.
***
"Ma, ada telepon dari Bram, ssstt....."
"Hello Mas," ada apa?" tanya Zaira.
"Aku kangen sama kalian nih, gimana kabarnya, oh iya lucky mana? Aku kangen dsn gemes sama anak itu," ucapnya
"Ada ini, Mas kapan pulang?" tanya Zaira.
"Aku lagi mencari pekerjaan di sini, ingin membeli saham, mungkin kita akan pindah ke indonesia nanti," ucap Bram.
__ADS_1
"Pindah? Ke indonesia, untuk apa? Di sini udah enak kok," sahut Zaira seperti gugup.
"Aku udah bosen di sana, aki mau ke tanah kelahiran aku, mamaku 'kan orang sini, walau pala orang sana."
"Mmm, tapi aku lebih suka di sini Mas, cuek satu sama lainnya," sahut Zaira.
"Itu nanti sajalah kita bicarakan lagi, sekarang kirimkan aku foto Lucky ya, yang tampan dan menggemaskan ya!" pintanya.
"Baik Mas,"
Telepon oun di tutup.
***
Hari kepergian Rina pun tiba. Rina akan pulang kampung itu yang di katakan nya. Baju dan keperluan lainnya pun sudah rapi. Dia izin pada Huda untuk menemui orang tuanya yang lagi sakit-sakitan.
"Telepon aku nanti ya Mas!" ucap Rina.
"Iya, sini ku antar!"
Rina pun pamitan sama Zahwa dan saliman, walau pun di dalam hatinya sangat risih, namun Dia terpaksa mengalah demi Huda.
Huda pun mengantar Rina ke Terminal Bus, itu yang di katakan Huda dan Rina.
Di perjalanan Rina dan Hida tampak tertawa-tawa gembira.
"Mas, aku merasa Istri Tua Mas itu sangat Bo doh. Dia tak kan pernah mengira rencana kita ini heh, pulang kampung, heh, kampung apaan, bahkan aku nggak pernah punya kampung, hidupku slalu berpindah-pindah dari satu kota ke kota lainnya," ucap Rina.
"Ah, kamu jangan bicara begitu, kalau sampai aku menyakiti hati Yola lagi, Kak Zahwa pasti akan mengusirku, dan mungkin saja akan mengambil usaha kecilku itu, bagaimana kita bisa hidup kalau usahaku itu di ambilnya," ucap Huda.
"Kita mau ke mana ini?" tanya Rina.
"Aku akan mencarikan tempat yang tak terlalu jauh dari Toko, biar kita bisa setiap hari bertemu," ucap Huda.
"Baiklah, kau pintar sekali Mas," ucapnya.
"Tentu saja pintar, supaya pusaka ku ini tak karatan," ucapnya.
Ternyata mereka merencanakan itu sejak jauh hari, menipu semua orang. Mengatakan Rina pulang kampung, namun hanya menyembunyikan Rina agar tidak tertekan hidup di rumah besar Zahwa. Mereka berhenti di sebuah komplek perumahan.
"Huda... " ucap seseorang, saat melihat mobil Huda masuk ke perumahan itu.
"Untuk apa Dia ke perumahan itu? Apakah Dia ingin membeli Rumah di sana Tapi kok kaya bawa cewe gitu, mana nggak pakai hijab lagi, nggak mungkin itu Yola," gumamnya lagi.
"Apa Huda selingkuh?" batinnya.
"Ah, sudahlah, aku sudah terlambat ini,"
Lelaki itu pun pergi.
__ADS_1
BERSAMBUNG...