
Ezra kembali ke hotelnya, perasaannya kini campur aduk. Ezra bingung, apa yang harus dikatakannya pada Zahwa, padahal Ezra sangat berharap ini adalah kejutan kebahagiaan untuk istrinya tersebut.
"Ya Allah, bagaimana ini. aku berharap ini adalah pencarian terakhirku, dan aku bisa menemukan Arsya Namun ternyata Aku gagal lagi," lirihnya.
Sementara Zaira tampak sudah berada di jalan menuju rumah mungilnya. Sepanjang jalan menuju rumahnya, dia terlihat senyum-senyum sendiri, dia pun masuk ke rumah dan duduk di sofa ruang tamunya.
"Zaira... ada apa? Kenapa kau senyum senyum negitu?" tanya sang mama.
"Aku merasa senang, aku melihat Ezra tadi, dia tampak panik. Mungkin karena gagal bertemu dengan Bram."
Zaira pun berdiri dan menuju kamarnya, di mana Bram sedang berbaring di ranjangnya. dengan tatapan kosong.
"Mas Bram... Maafkan aku, sebenarnya aku tidak ingin menyakitimu, namun kau telah ikut campur urusanku dengan Ezra. Sebenarnya... hubungan kita sudah baik dan aku pun bisa menerimamu. Namun ternyata kau menghianatiku, diam-diam ke Indonesia hanya untuk menemukan orang tua Arsya, aku merasa kecewa padamu Mas, tapi aku akan menjagamu, walaupun kau menghianatiku. Dan juga, warung makan yang ada di pinggiran kota mikmu, sore ini aku akan memeriksanya, kau tetap suamiku, meskipun mungkin kewarasanmu sedikit demi sedikit akan hilang. Maafkan Aku," ucap Zaira.
Bram menatap wajah Zaira. Entah apa yang ada di pikiran Bram saat ini, mungkin dia masih punya perasaan, namun tidak bisa berbuat apa apa.
"Zaira... Apa yang kau lakukan padaku? Ternyata kau sungguh licik. Kau bahkan bisa mengetahui rencana ku. Apakah karena dendammu terlalu besar pada Ezra, yang membuat indra keenam mu sangat peka. Sehingga rencana ku dengan Ezra yang sudah ku susun rapi, kau pun lebih dulu mengetahuinya sebelum kami sempat bertindak," lirih hati Bram.
"Apakah Mas Bram mau makan?" tanya Zaira Bram pun mengangguk, karena saat ini waktunya makan sore.
Zaira pun mengambilkan makan untuk Bram, kemudian dia menyuapi suaminya yang lumpuh mendadak itu.
"Mas aku mohon Maafkan aku, aku tahu sekali berbohong, maka kebohongan pun akan terus berlanjut, dan aku terpaksa melakukan ini, Aku janji, aku akan menjagamu Mas, mungkin kalau dendam ku terbalaskan pada Ezra, barulah aku bisa tenang. Sekali lagi maafkan aku," ucap Zaira.
Ada butiran air mata menetes di ujung mata Zaira. mungkin rasa sakitnya telah ditinggalkan Ezra menikah dengan wanita lain, itulah yang membuat Zaira sangat sakit hati.
Apakah Zaira akan berubah? Seandainya saja Bram bisa membuatnya jatuh cinta. Namun sayang... sebelum cinta itu bersemi, Bram mempunyai rencana yang membuat Zaira tidak percaya lagi sama Bram.
"Zara! tolong kau jaga Lucky, aku mau membeli garam dulu ke warung depan," ucap mama Zaira.
"Baik ma, di mana dia?"tanya Zaora.
"Dia sedang tidur, tapi mungkin saja nanti dia bangun, tolong sesekali kau jenguk, munkin saja nanti dia terjatuh dari ranjang kakau bangun," ucap Mamanya.
"Baik ma,"
Mama Zara pun pergi meninggalkan rumah itu menuju kios yang ada di depan gang. Zaira pun masih sambil menyuapi Bram sampai makanan itu pun habis.
__ADS_1
"Mas... kau tampan juga," liriknya.
Bram terlihat tersenyum.
Seminggu sudah sejak kejadian itu. Ezra pun memutuskan kembali ke Indonesia, namun dia tetap menempatkan mata-matanya di apartemen dekat apartemen Zaira. dia bahkan meminta pemilik gedung untuk memperlihatkan CCTV di tanggal saat Zaira pergi. Namun yang terlihat hanya Zaira yang memasuki taksi dan setelahnya tidak diketahui lagi ke mana arah taksi itu. Nomor Da-nya pun tidak diketahui, karena ternyata Zaira sangat pintar. nomor DA itu disuruh Zaira ditutup saat memasuki gedung. Hebat Zaira, sampai sedetail itu pun dia rencanakan dengan baik.
***
Di kediaman Rangga dan Diba. 2 insan yang sedang dimabuk asmara ini tampak sangat mesra. Di pagi hari ini Rangga yang akan pergi bekerja terlihat malas-malasan, masih menggunakan handuk dan berbaring di atas ranjang, Diba yang datang dari dapur pun kaget saat melihat sang suami belum menggunakan pakaiannya.
"Gaga? Kok belum menggunakan baju sih? Katanya mau kerja?" ucap Diba.
"Aku males nih, pengen di rumah aja sama kamu," ucapnya.
"Lho, gimana kantornya kalau gini, ayo cepet, udah telat nih," desak Diba.
Diba pun menarik tangan Rangga dan membawanya berdiri, berjalan menghampiri lemari baju, di depan lemari baj,u sudah berjajar baju celana dan dasi Rangga. Rangga yang masih menggunakan handuk pun memeluk pinggang Diba manja.
"Ayo cepat! Pakai bajumu!" ucap Diba.
"Ayo cepet! Bagaimana mau punya anak banyak, kalau kerja aja males," ucap Diba lagi.
"Aku pengen sama kamu," ucapnya lagi.
"Enggak sekarang, sekarang kerja duku, cari uang yang banyak, nanti juga bisa pulang kerja," sahut Diba.
"Kamu ikut ngantor ya!" ajak Rangga.
"Ayo cepat! ucap Diba lagi.
Saat Diba ingin melepaskan diri dari Rangga tak sengaja Diba menatap lantai di bawah kakinya, betapa kagetnya saat melihat handuk itu ternyata sudah numpuk di lantai.
" Aiiishhh," desisnya kesal, hanya satu kata itu yang mampu dia ucap, tentu saja Diba kaget, setau Diba, Rangga baru naik mandi dan hanya menggunakan handuk, dan saat ini handuk Rangga ada di lantai berarti sekarang Rangga....
"Ada apa?" tanya Rangga tidak sadar.
"Ini pakai!"
__ADS_1
Diba lun menyerahkan perkakas Rangga tanpa menatap ke belakang. Rangga pun mengambil dan melepaskan pelukannya.
"Ha?"
Rangga baru sadar dan melihat dirinya tanpa mengenakan sehelai benang pun, dia pun bergegas memasang segitiga pengamannya, kemudian mengambil handuknya, sementara Diba masih membelakanginya.
"Kenapa kau membelakangi ku? Bukankah ini mainan kesayanganmu?" ucap Rangga menggoda.
"Kau ini... cepat pakai pakaianmu! nanti malah orok kita jijik melihatnya," balas Diba lagi.
"Ha ha ha, sudah, aku sudah pakai kok, ayo pasangkan dasi ku," titah Rangga.
Diba pun menoleh perlahan.
"Dulu waktu masih lajang, kau bisa 'kan memakai dasi ini? Kenapa sekarang setiap pagi slalu minta bantuan ku?" ucap Diba.
"Karena aku ingin kita berdekatan seperti ini," ucap Rangga.
Rangga pun menciumi pucuk kepala Diba berulang-ulang.
"Huak... Huak...,"
Tiba tiba Diba mual dan ingin muntah.
"Sayang, ada apa? Kok mual?" tanyanya panik.
"Ga, kau ini pakai apa sih? Kok parfum mu ini bau sekali?" ucap Diba seraya menjauh dari tubuh Rangga.
"Ini Paefum yang dulu kau belikan, katanya kau suka bau ini, kok sekarang malah nggak suka?" tanya Rangga.
"Nggak tau. Aku ini sedang hamil, hamil anak kamu loh, bukan anak orang lain. Mana aku tahu kalau sekarang tidak suka? berarti orok ini nggak suka dengan bau yang kamu pakai sekarang. Ayo ganti bajumu! ganti dengan yang lain, nggak usah pakai parfum," ucap Diba.
Suara ketusnya, membuat Rangga kaget, tak biasanya Diba marah hanya masalah hal sepele ini. Dia merasa sangat mual kemudian dia pun keluar untuk memuntahkan isi perutnya.
"Huak..."
Bersambung...
__ADS_1