Mendadak Jodoh

Mendadak Jodoh
Pesona Mantan


__ADS_3

Zaira mempercepat langkahnya menuruni anak tangga, dan segera masuk ke kamar pelan-pelan. Saat itu Bram sedang berada di dalam kamar dan sedang menelpon Ezra.


"Ezra. Insya Allah besok aku akan membawa Arsya padamu, kau tunggu saja di sana," ucapnya.


Bram tidak menyadari kalau saat ini Zaira sudah ada di dalam ruangan itu, dan Zaira kaget saat mendengar Bram sedang berbicara dengan yang namanya Ezra.


"Apa maksud Bram? Ezra? Apakah Ezra yang dimaksud adalah mantan pacarku dulu? apakah di Indonesia bertemu dengan Ezra? dan sudah mengetahui perihal kehilangan bayi yang aku culik dua bulan lalu?" tanyanya dalam hati.


Zaira pun berjalan meninggalkan pintu kamar Bram. Dia Kembali keluar pura-pura baru datang, dan masuk dengan suara yang panjang agar Bram tidak curiga.


"Hello sayang...," sambil berteriak nyaring dan mendekati pintu Bram.


Tentu saja Bram yang ada di dalam kamar spontan menutup telepon dari Ezra. Ia pun pura-pura berbaring dan menatap layar ponselnya.


"Arsya...," ucapnya kemudian, Zaira pun mendekat dan menyerahkan Arsya pada Bram. Zaira pura-pura merapikan selimut dan pakaian yang berserakan di kamar itu, di dalam hati dia pun berkata,"Apa yang sedang direncanakan Bram Apakah Bram mengetahui siapa orang tua Arsya? Apakah diam-diam Dia telah mengkhianati ku? kurang ajar dia. Kau akan tahu kalau kau berani mengkhianati ku, aku susah payah merencanakan semua ini, hingga sejauh ini, dan kau akan menghancurkan semua ini begitu saja?"


"Mas Bram, aku mau keluar dulu ya! Ada sesuatu yang perlu ku cari," ucap Zaira.


Zaira pun menggendong Arsya.


"Kenapa Arsya di bawa?" tanya Bram.


"Aku kesepian di jalan, kalau cuma jalan sendiri," sahutnya.


"Oh, baiklah, jangan lama-lama," pintanya.


Zaira pun pergi membawa Arsya memasuki lift, kemudian dia menelpon ibunya dan bertemu di suatu tempat untuk membicarakan perihal apa yang telah didengarnya hari ini.


Sepanjang jalan Zaira terus memikirkan Perihal apa yang telah dia dengar saat Bram menelpon seseorang yang bernama Ezra tadi.


setelah 20 menit sampai di sebuah taman yang indah di sana Ibunya sudah duduk manis menunggu Zaira.


"Apa yang ingin kau katakan, hingga kau menghubungiku untuk bertemu di luar Apartemen seperti ini?" tanya ibunya.

__ADS_1


"Bram seperti mempunyai rencana, dan aku tidak tahu itu apa, tadi saat aku kembali dari balkon, tanpa sengaja aku mendengar Bram berbicara dengan seseorang yang bernama Ezra. Aku curiga, apakah Bram selama ini ke Indonesia sedang mencari orang tua asli dari Arsya? kita 'kan tidak tahu siapa sebenarnya Bram itu?" ucap Zaira.


"Tapi terlihat Dia sangat baik... apa mungkin dia menghianati kita?" tanya mamanya.


"Aku juga tidak tahu Ma, tapi aku hanya menduga-duga saja. Aku akan menyuruh orang untuk memata-matanya mulai hari ini, mungkin saja nanti dia akan bertemu dengan orang yang bernama Ezra itu," ucap Zaira "Baiklah, Ayo kita pulang, hari ini kita harus bersikap biasa, kalau terjadi sesuatu? kita harus pergi dan meninggalkan Apartemen itu," ucap ibunya.


"Tunggu Bu, aku punya rencana. Aku ingin tahu perusahaan apa yang telah bekerja sama dengan Bram di Indonesia, Dia bilang, Dia akan membawa kita ke Indonesia, dan menetap di sana. Aku akan mengambil berkasnya, dan Mungkin nanti, kita akan mengambil alih perusahaan itu, tapi Nanti setelah Arsya besar," ucap Zaira lagi.


"Terserah kau saja, aku hanya menuruti perintah mu," ucap sang Mama.


"Aku ada rencana, ayo!"


Mata Zaira berbinar kemudian Dia berjalan meninggalkan taman di ikuti ibunya.


***


Bram tampak rapi seperti ingin keluar siang ini. Zaira dan mamanya belum sampai, mungkin masih di perjalanan. Bram pun mengambil kunci mobilnya dan berjalan meninggalkan Apartemen, sementara mata-mata tampak juga memasuki lift dan meninggalkan gedung apartemen, namun saat di halaman parkir, taksi Zaira sampai di halaman gedung tersebut, dan dari kejauhan Zaira melihat mobil Bram meninggalkan halaman gedung.


"Pak, tolong buntuti mobil merah di depan kita! Jangan sampai hilang ya Pak!" titah Zaira.


Sopir pun mengikuti mobil Bram dari jarak yang tidak begitu dekat, namun masih bisa melihat. Sepertinya Bram hari ini akan menuju hotel tempat Ezra menginap.


Sesampainya di halaman Hotel yang mewah, Bram berhenti.


Alangkah kagetnya saat Zaira melihat Ezra sudah berdiri di teras lobby Hotel tersebut. "Mah... lihat! kurang ajar Bram! Dia menghianati kita. Apa yang harus kita lakukan?" tanya Zaira panik.


"Oke... begini saja, aku akan membawa arsya tinggal di suatu tempat, sedangkan Kau kembali ke Apartemen dan lanjutkan rencana mu, kali ini... kita harus berhasil," ucap Mamanya.


"Baiklah mah, tapi ke mana Mama akan membawa Arsya?" tanya Zara.


"Tenang saja, nanti setelah selesai hubungi saja aku, nanti akan aku katakan di mana aku berada. Tapi kalau Kau tidak dalam tekanan, kau harus bilang 'aman' itu kode kita ya... tapi kalau kau dalam bahaya, atau dalam tekanan, tidak usah kau Sebutkan kata aman, mengerti?" ucap sang mama.


"Baik Ma...." sahutnya, akhirnya mereka pun berpisah, Zaira kembali ke Apartemen sedang mamanya dan Arsya pergi meninggalkan tempat tersebut dan mencari tempat persembunyian lain.

__ADS_1


***


Sementara Yola berencana untuk ikut pengajian rutin bersama Mita, yang diisi oleh Zila tantenya Ezra.


Yola tampak rapi dengan pakaian yang polos menggunakan warna biru malam, warna kesukaannya, begitu juga Zahwa, dia menghibur diri sementara waktu menunggu kabar dari Ezra, tentang Arsya.


"Tolong bawakan Arsy dulu ya!" ucap Zahwa.


Akhirnya mereka pun berangkat dengan menggunakan mobil pribadi, yang dibawa oleh supir pribadi mereka.


Sesampainya di halaman majelis dan memarkirkan mobilnya, tanpa sengaja Yola melihat ada Bima dan anaknya, yang masih kecil digendong oleh Bima, Yola tertegun saat melihat lelaki itu wajahnya berseri dan tampak bercahaya, Bima yang sekarang bukanlah Bima yang dulu, sepertinya Bima benar-benar bertobat. Bima hanya mengangguk kemudian pergi meninggalkan parkiran tersebut, tanpa mendekati Yola. Karena Bima tahu Yola sudah mempunyai suami.


"Yola. Ayolah! Apa yang kau lihat? ayo masuk!" ajak Zahwa.


"Oh iya kak," ucap Yola.


Yola pun masih melihat punggung Bima memasuki area majelis tersebut. Ada getaran yang kemudian hadir di dalam hatinya, namun dia coba menepisnya, karena dia tahu sekarang dia masih menjadi istri orang, tapi apakah di sisi hatinya yang lain, ada harapan untuk kembali bersama dengan Bima? orang yang dulu pernah menjadi bagian dari hidupnya, meski saat itu kehancuran bagi keluarganya.


"Yola, kok melamun?" tanya zahwa lagi.


"Oh Kak, tidak apa-apa," sahutnya.


"Hmmm, aku tau kok, kamu lihatin Bima 'kan? Tapi kamu masih milik orang lho!" goda Zahwa.


Ternyata, saat di parkiran, Zahwa juga melihat Bima, namun dia pura-pura tidak tahu.


"Iya Kak, ku kira Kak Zahwa tidak tau," ucapnya.


"Mana mungkin aku tidak tau! setiap gerak mu slalu ku pantau, dan aku ingin kau mendapatkan kebahagiaanmu sendiri kelak," ucap Zahwa.


"Apakah Kakak juga mendukungku, kalau nanti aku sudah tidak bisa bertahan dengan rumah tanggaku saat ini?" tanya Yola berbinar.


"Hemmm," angguk Zahwa.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2