
Zaira pun tersenyum, dia mengelus perutnya yang masih rata. Dia seakan tak percaya bahwa di dalam perutnya itu ada nyawa yang sedang berkembang. Dia pun mengingat saat pertama kali bertemu Bram, itu bukan cinta, namun itu adalah nafsu sesaat, kembali Dia mengingat bagaimana dulu dia ingin menjual keperawanannya kepada orang lain, dan beruntung saat itu Bramlah yang membawanya.
"Mas Bram, kita akan mempunyai anak?" lirihnya tak percaya.
"Nona, ini obat Anda, silakan minum pagi dan malam hari," ucap bidan.
"Terima kasih Bu, jawabnya.
Zaira pun pergi meninggalkan klinik tersebut menuju rumahnya. Ada perasaan senang bahahia dan entahlah, uang pasti saat ini emosinya sudah hilang.
Sesampainya di rumah mungilnya, Zaira pun langsung menemui Bram yang masih duduk di kursi roda di dalam kamarnya, Bram terlihat menemani Arsya yang bermain di lantai.
Hap.
Zaira memeluk tubuh Bram dari belakang, dan mencium pipi lelaki itu. Perasaan bahagia Zaira tidk tertahankan.
"Mas Bram, Apa kau tahu? Hari ini aku sangat bahagia, entahlah, aku sangat bahagia karena... kita... akan... mempunyai anak, di sini," ucap Zaira.
Zaira pun meraih tangan Bram, dan mengeluskannya di perut nya sendiri. Sungguh di luar dugaan, Bram bereaksi dan mengelus-ngelus perut itu lembut, sepertinya walaupun kerja otak Bram sedang kurang waras, namun kali ini dia bisa merasakan apa yang dikatakan oleh Zaira.
"Mas, kau!?" Zaira tampak kaget ketika melihat wajah Bram yang tersenyum.
"Mas Bram, Apa kau tidak membenciku?" tanya Zaira seraya menatap wajah suaminya itu. Bram masih tersenyum.
"Mas, apakah kau mencintaiku dengan tulus? Tapi mengapa kau ingin bersekongkol dengan Ezra," lirih hati Zaira.
"Ar...sya...," ucap Bram tiba-tiba.
Zaira yang mendengar, Bram berbicara menyebut nama Arsya pun kaget, dia tidak menyangka, dengan susah payah menyebutkan nama Arsya.
"Mas, Apa maksud Mas?" tanya Zaira.
"Apa Mas ingin aku mengembalikan Arsya pada Ezra? Kenapa Mas melakukan ini? kenapa mas bersekongkol dengan Ezra?" tanya Zaira.
"Arsya...." ucapnya lagi.
"Aku tidak akan menyerahkan Arsya pada Ezra, Arsya harus membalaskan dendam ku padanya. Walau bagaimanapun, sampai kapanpun, mereka harus tahu seperti apa sakitnya aku saat ditinggalkan oleh Ezra," ucap Zaira.
Zaira pun pergi meninggalkan kamar dengan hati yang sangat kesal.
"Kenapa Mas Bram memaksaku untuk menyerahkan Arsya? Siapa sebenarnya Bram ini? Tidsk mungkin 'kan Bram ada hubungan kekeluargaan dengan Ezra?" gumamnya.
"Ada apa Zaira, kenapa ngomel sendiri? kenapa ngomel-ngomel?" tanya mamanya yang sedang memasak di dapur.
"Mah, tadi Mas Bram menyebutkan nama Ezra... Arsya...Ezra terus menerus. Sepertinya dia ingin kita menyerahkan Arsya pada Ezra," ucap Zaira.
__ADS_1
"Enak saja, sebaiknya kita buang saja tu Bram ke panti asuhan, biar tidak mengganggu kita lagi,- ucap Mamanya.
"Mah, walau bagaimana pun, Dia adalah Ayah dari bayi yang ku kandung Mah,- ucap Zaira.
"Hah? Jadi benar kalau sedang hamil?" tanya Mamanya.
"Iya emang kenapa Mah? tanya Zaira.
"Harusnya kau jangan hamil, kita ini terkatung-katung, hidup tidak karuan," ucap sang mama.
"Ini rezeki loh ma," ucap Zaira.
"Tapi kau tahu 'kan kondisimu sekarang? bagaimana dia mengkhianati kita, untuk apa kita memelihara Dia? Ayo! baiknya kita serahkan saja dia ke panti jompo atau panti asuhan. Biar orang lain yang memeliharanya. Toh kamu juga sedang mengandung anak Dia. Jadi tidak ada lagi kata kita mencuri warung makannya."
"Mah, aku tidak akan melakukan itu, biarlah cukup dendam ku kepada Ezra saja, toh Mas Bram telah memberiku kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya, aku akan tetap merawatnya," ucap Zaira seraya meninggalkan dapur kembali dengan hati kesal.
Dia pun kembali ke kamar, saat memasuki kamar, dia melihat Bram sedang menangis
"Mas Bram? Kenapa menangis?" tanya Zaira.
Bram pun menatap wajah istrinya itu, dan melambai menyuruh Zaira untuk mendekatinya.
"Ada apa?" tanya Zaira lagi.
"Arsya... Ezra...." Hanya dua kata itulah yang selalu diucapkan Bram.
***
Yola dan Huda resmi bercerai. Yola tampak merapikan bajunya karena dia akan pindah dari rumah itu.Zahwa yang baru masuk ke kamar Yola pun kaget.
"Yola, kau mau ke mana?" tanya Zahwa
"Mungkin aku akan mencari kosan saja, dan menyelesaikan kuliahku, tidak mungkin 'kan aku tetap tinggal di sini? sementara ada Huda dan Rina yang juga tinggal di rumah ini," ucap Yola.
"Tapi ini adalah rumah masa kecil kita Yola," ucap Zahwa.
"Aku tidak akan mungkin sanggup melihat mereka hidup di sini, hatiku tidak sekuat batu Kak, aku akan mencari kebahagiaanku sendiri. Aku akan berkunjung saat mereka tidak ada di rumah, dan mungkin Kakak juga bisa berkunjung ke kosanku nanti," ucap Yola.
"Baiklah, kalau memang itu keputusanmu," ucap Zahwa.
Zahwa pun ikut merapikan baju Yola dan memasukkannya ke dalam tas Yola.
Sementara Huda di kamarnya, tampak bersiul-siul gembira. Ada kebahagiaan tersendiri saat bisa terlepas dari Yola.
"Aku akan menjemput Rina hari ini juga," ucapnya.
__ADS_1
Kemudian dia pun mengambil hp-nya dan menelpon Rina.
"Hello sayang," sapa Huda.
Rina yang baru bangun tidur pun kaget, dan terlihat Rina tidak menggunakan sehelai benang pun di tubuhnya, karena tiap malam Totok selalu bermalam di rumah mungilnya.
"Ada apa?" tanya Rina
"Hari ini, nanti sore aku akan menjemputmu, kau akan kembali ke rumah kita, aku sudah bercerai dengan Yola," ucap Huda.
"Apa? bercerai? Kenapa bercerai?" tanya Rina terdengar tidak suka.
"Dia memintaku untuk menceraikannya," ucap Huda.
"Benarkah? Kenapa kau mau bercerai dengannya? Apakah Zahwa tidak marah?" ucap Rina.
"Tidak, Kak Zahwa malah mendukung Yola. Yola bilang, itu adalah kebahagiaannya, dia pun sudah pindah dari rumah ini, untuk meneruskan kuliahnya," ucap Huda.
"Oh... baiklah," ucap Rina pasrah.
"Kenapa kau terdengar tidak suka?" tanya Huda.
"Tidak, aku takut saja Zahwa akan marah padaku," ucap Rina.
Mereka pun menutup teleponnya.
"Mas... Mas Toto, Bangun! ayo cepat!" ucap Rina.
"Ada apa?" tanya Toto.
"Huda akan kemari, Ayo cepat mandi!" titah Rina.
"Hah?"
Toto pun segera bangun dan berlari menuju kamar mandi dengan telan jang bulat.
Toto adalah lelaki single yang tidak ingin terikat oleh pernikahan. Makanya dia akan datang kepada Rina dan memberi nafkah seadanya saja prinsip hidupnya adalah menikmati hidup dalam kebebasan.
Toto selesai mandi dan segera pergi dari rumah Rina, di depan dia mampir di sebuah kios kecil untuk membeli rokok.
"Lihat... Dua pria Bodoh," bisik bisik emak emak rempong yang melihat Toto dan Huda barengan menuju kios untuk membeli sesuatu.
Toto cuek dan pergi begitu saja. Sedang Huda tampak masih memilih milih barang belanjaan.
"Mas... Kok tahan hidup sama perempuan begituan?" ucap tukang kios.
__ADS_1
"Emangnya kenapa Bu?" tanya Huda.
Bersambung