Mendadak Jodoh

Mendadak Jodoh
Berjanji untuk Menikahi


__ADS_3

"Ada apa?" sontak saja Ezra membuka matanya dan menatap Rangga yang menuruni tangga.


"Ngapain Kakak berbaring di situ?" tanya Rangga ketus.


"Apa yang salah? Kamu ngiri ya?" ucap Ezra.


"Ngiri apaan?" sahut Rangga lagi.


"Bang!" Suara Zahwa seakan menggelegar dari pintu dapur, padahal dia cuma memanggil pelan, namun karena Ezra sangat terkejut dia pin sontak bangun mendadak.


"Kalau dia Zahwa? Siapa wanita yang ku jadikan bantal ini?" batinnya.


"Bang Ez!" seru Zahwa lagi. Ezra masih terlihat bingung dan syok. Perlahan dia menoleh ke sofa di sampingnya.


"Ka_kau siapa?" Ezra hampir melompat dari tempat duduknya, dia bahkan mengangkat ke dua kakinya seakan melihat kecoak di lantai.


"Kenalkan, aku Saila," Saila pun mengulurkan tangan ke arah Ezra.


"Maaf, aku Ezra, mau apa kau di sini? maaf, ku kira tadi kau adalah Zahwa," ucap Ezra gugup dan merasa bersalah. Ezra hanya menyatukan tangannya di dada.


"Nggak papa kok, mau lagi juga boleh," ucap Saila sambil tersenyum menggoda.


"Sombong sekaki dia, nggak mau salaman," ucap Saila dalam hati.


Ezra segera berdiri dan mendekati istrinya.


"Sayang, maaf, ku kira tadi kau yang duduk di sampingku, aku tidak tau kalau ada orang lain," ucap Ezra merasa takut kalau Zahwa marah.


"Nggak papa kok," ucapnya. Sambil kembali berjalan ke dapur mengambil gelas dan minum. Ezra,pun mengikutinya.


"Suara apa di belakang? kok berisik?" basa-basi Ezra.


"Lagi bikin kamar buat wanita yang di depan tadi," sahut Zahwa.


"Siapa dia?" tanya Ezra.


"Katanya, Papa punya masalah dengan masa lalu ibunya, jadi Papa akan membantunya menyelesaikan masalahnya."


Zahwa pun duduk di kursi ruang dapur. Ezra memijit-mijit pundak istrinya, pasti sebagai permohonan maaf.


"Bang kenapa sih nggak hati-hati?" protes Zahwa.


Nah kan Zahwa mulai cemburu dan sewot.


"Aku nggak tau, sungguh, aku tadi tertidur sejenak, saat merasa ada yang duduk di sampingku, tanpa membuka mata, ku kira itu kau," ucap Ezra masih memijit pundak istrinya.


"Kak, sudahlah, memang benar kok, ini salah wanita itu, aku juga merasa dia itu ganjen, 2 hari di sini, aku bahkan rasa nggak bebas bergerak di rumahku sendiri, di mana-mana dia seakan terus mengikuti ku, bahkan malam sekarang ini aku nggak berani ke dapur," ucap Rangga dengan suara pelan.

__ADS_1


"Kok bisa?" tanya Zahwa heran.


"Sssssst," isyarat Ezra. Karena Saila juga mendatangi dapur entah untuk apa.


"Ayo Sayang kita berangkat dulu," ajak Ezra tiba-tiba sambil meraih tangan Zahwa. Padahal dia nggak ada rencana ke mana pun.


"Ke mana?" tanya Zahwa heran.


"Neli keperluan bayi, ayo!"


Zahwa pun mengikuti, sementara Saila masih berada jauh dari dapur.


"Mau ke mana?" tanyanya.


"Kami ada keperluan, nanti kembali lagi kok," jawab Zahwa. Sementara Era dengan sengaja menggenggam tangan Zahwa erat.


Rangga pun berdiri dan berjalan menuju belakang.


"Mengapa lelaki ini jual mahal sekali ya?" batin Saila saat,melihat Rangga tiba-tiba pergi ke belakang.


"Saila! Mau makan?"


Tiba-tiba Huda datang dan duduk di kursi dapur.


"Eh Mas Huda, mau ke mana? Kok rapi banget?" tanya Saila.


Huda yang juga tampan, namun masih tampan Rangga atau Ezra lho. Tetap saja membuat Saila senang kalau lagi berdekatan dengan dirinya.


"Oooh, baiklah, aku di rumah saja, oh iya, wanita yang di kamar sebelah itu adikmu?" tanya Saila penasaran.


"Bukan, dia___ gimana jelasinnya ya, kembaran, tapi berbeda lah intinya," ucapnya.


"Gimana sih itu? Bikin bingung?" ucap Saila.


"Aku juga bingung," jawab Huda.


"Ayo! Berangkat, mana Mamamu?" tanya Fathir pada Huda.


"Mungkin masih di belakang Pa," sahutnya.


Mereka pun ke belakang untuk mencari Shaina.


Setelah Huda dan Fathir pamit pada Shaina, mereka pun berangkat.


***


"Pa Baron? apa sudah lama menunggu?" tanya Fathir, saat melihat Baron datang bersama Mega sang istri.

__ADS_1


"Ya... Lumayanlah, apa dia anak wanita itu?" Baron lin menunjuk Saila yang datang paling belakang.


"Iya, ayo masuk!"


Sekretaris pun membukakan pintu ruangan pribadi Fathir, semua orang pun masuk.


"Saila, kenalkan, ini Pak Baron, dan ini istrinya," ucap Fathir memperkenalkan dua orang itu yang mungkin saja mereka adalah ayah dan anak.


"Hmmm." gumam Saila.


Mereka pun berjabat tangan.


"Begini Saila, saat itu kami sedang sedikit mabuk, kami di bayar untuk menggauli istri muda tuan Eno, oleh istri tuanya, agar Tuan Eno itu merasa jijik dan meninggalkan wanita tersebut. Dan setelah malam itu, kami tidak tau lagi kisah wanita itu."


"Jadi kalian, selain sebagai pemb*nuh, juga tukang cab*l?" ucap Saila merasa marah.


"Ya, begitulah kehidupan kami dulu," ucap Baron.


"Tunggu! Pak Baron, saat itu kau ingatkan? Aku masih perjaka, dan aku menolak melakukan hubungan itu?" sanggah Fathir.


"Mmmm, iya benar, Fathir tidak ikut melakukannya, hanya kami bertiga, kalau kau ingin mengetahui siapa ayahmu, maka aku siap untuk tes DNA," tambahnya lagi.


"Heh, walau dia tidak melakukannya, mengapa dia membiarkan ibuku meronta meminta pertolongan, hingga dia pingsan heh? Mengapa kau begitu jahat Tuan Fathir, kalau mereka tidak punya hati, setidaknya kau punya hati untuk melindungi wanita yang tak berdaya itu, hiks hiks hiks,"


"Maaf Saila, saat itu aku tidak berdaya, aku sungguh minta maaf," ucap Fathir.


"Bagaimana kalau semua itu menimpa anakmu, apakah kau akan diam saja, sayangnya Nenekku hanya petani yang tak mengerti soal hukum, hiks hiks, Nenekku hampir putus asa saat itu, kalian sungguh jahat, jahat, hiks hiks," Saila terus menangis meraung-raung, dadanya penuh sesak.


"Saila tenang! Tenangkan dirimu, itu sudah lama dan kita akan menyelesaikan semuanya, ayo! Kamu harus tegar." bujuk Huda sambil merangkul Saila.


"Bagaimana kalau adik perempuanmu di bikin begitu, di gilir 3 orang sekaligus, apakah dia mampu bertahan? Mamaku akhirnya gil*a huaaaaaa, mamaku gil*aaaa huaaaaa," Saila terus meraung meratapi nasib ibunya dahulu, hatinya sangat sakit.


"Saila sabar dulu, kita akan mengobati Mamamu, sabarlah!" pinta Fathir.


"Dan, aib ini akan seumur hidup, siapa yang bisa menerimaku sebagai jodohnya, aku terlahir dari hasil bergilir, tak ada yang sudi menerimaku sebagai menantunya atau pun istrinya, aku sangat hina, huaaaaa," Saila terus meraung.


"Aku! Aku akan menikahi mu, Pa, beri aku restu untuk menikahinya?" ucap Huda tiba-tiba.


"Ha?" Fathir pin bingung harus berkata apa?"


"Lihat! Bahkan Papamu saja tidak bisa berkata apa-apa, dia tidak bisa menerimaku, padahal dia tau kebenarannya, hiks hiks hiks."


Saila mengambil tissue dan ngelap wajahnya kasar.


"Aku akan menerimamu sebagai menantuku, dengan satu syarat," ucap Fathir.


"Syarat? Apakah aku ini terlihat mampu untuk memenuhi syarat mu Tuan?" tanya Saila, sambil menatap wajah Fathir dingin.

__ADS_1


"Syarat yang sangat mudah," ucap Fathir lagi.


BERSAMBUNG...


__ADS_2