Mendadak Jodoh

Mendadak Jodoh
Terpana kaget


__ADS_3

Sepagian ini wajah Zahwa terus cemberut, dia juga tidak menemani suaminya ke dapur untuk sarapan, yang biasanya dia sangat mesra, namun pagi ini begitu acuh tak acuh. Wajahnya bagai di lipat beberapa kali lipatan.


"Ezra, Zahwa mana?" tanya Shaina saat melihat Ezra duduk sendirian di dapur.


"Di kamar Ma, lagi urusin Arsya yang bangun," ucap Ezra.


"Biasanya juga di bawa ke mari kalau udah bangun," ucap Shaina sang Mertua. Shaina pun berjalan ke kamar Zahwa, ingin menyuruh anaknya itu melayani sang suami.


"Zahwa, kok nggak ke dapur? Sana! Temani Ezra makan! biar Mama yang urus Arsya," ucap sang Mama, sementara Arsya tampak ngoceh tipis karena baru berusia satu minggu.


"Nggak Ma, aku lagi temenin Arsya nih, imut banget hemmmmmh, gemes deh," ucap Zahwa mencoba tersenyum walau hatinya sakit.


"Kamu kenapa sih? nggak seperti biasanya?" ucap Shaina merasa heran.


"Nggak lala kok Ma," kinj Zahwa mencoba menahan air matanya yang hampir runtuh. Ia tidak mau Mamanya tau sakit yang ia rasakan, karena tidak ingin menjadi beban pikirsn mamanya. Namun, Shaina diam-diam menatao wajah anak kesayangannya itu, Dia tau, kakau saat ini anaknya ada masalah yang tidak ingin di ceritakan ke dirinya.


"Baiklah, kalau kau lapar, nanti aku yang jagain Anak-anak ya!" ucap Shaina kemudian.


"Iya Ma."


Shaina pun berjalan meninggalkan kamar Zahwa, menuju dapur.


"Ezra, apa kalian ada masalah?" tanya Shaina pada Ezra yang baru memakan separo nasinya.


"Nggak kok Ma, ada apa?" tanya Ezra malah bingung. Dari sini Shaina tau, kalau saat ini Zahwa pasti salah paham akan sesuatu.


"Shaina tampak sedih ya! Dia pun seperti ingin menangis, aku tidak mau menanyakannya, mungkin___!" ucap Shaina belum sempat menyelesaikan pembicaraannya, namun etika Erza mendengar itu, Dia pun berdiri dan meninggalkan nasinya yang masih tersisa.


"Nanti aku makan lagi Ma," ucapnya sambil berjalan pergi.


Ezra tidak akan membiarkan wanita yang ia cintsi iti menangis sendirian, Dia akan menanyakan masalah yang sekarang di hadapi istrinya itu.


Ezra sudah membuka pintu ketika dia melihat istrinya itu sedang menangis sambil menggendong Arsya yang sedang tertidur pulas, namun terlihat dia tidak mau meletakkannya, mungkin itu pelipur kala hatinya sedang lara.


"Sayang, ada apa, kok nangis?" Ezra langsung memeluk Zahwa dan kemudian mengambil Arsya. Zahwa yang tertangkap basah sedang menangis pun menyeka air matanya dengan ujung bajunya.


"Oh, nggak, aku sangat terharu melihat pertumbuhan mereka," bohongnya.


"Kamu pasti bohong! Ayo katakan sejujurnya! walau aku orang yang mungkin tidak romantis, setidaknya aku tau semua masalah yang kamu hadapi, kita ini sudah menyatu, jadi tolong jangan sembunyikan apa pun dari aku," ucap Ezra sambil memeluk istrinya, yang ini malah terisak.

__ADS_1


"Huaaaaaaa, "Abang_yang__merahasiakan_sesuatu," ucapnya terbata kemudian.


"Aku? Merahasiakan sesuatu? Di mana?" tanya Ezra heran.


"Siapa orang yang chat kemaren?" tanya Zahwa.


Ezra pun mengambil Hpnya dan membuka Chat WA.


"Yang mana?" tanya Ezra heran.


"Pasti udah di hapus 'kan?" tanya Zahwa makin cemburu, ketika tidak ada nama Klien di situ.


"Aku nggak pernah menghapus chat, klo masih 2 atau e hari Hwa," jawabnya.


"Karen ada kok, namanya Klien," ucap Zahwa kemudian.


"Tunggu!"


Ezra menscrol chat nya ke bawah.


"Ini?" tanya Ezra.


"Ini dari Humairo, dia kemaren ikut meeting dari perusahaan PT Agro, dan dia di utus untuk ikut, masa gara-gara ini kamu marah? Pantesan dari kemaren uring-uringan terus."


Ezra mempererat pelukannya.


"Oooh."


Cuma itu tanggapan Zahwa setelah salah sangka dan salah tingkah. Ezra menatap wajah istrinya yang tampak bersemu merah.


"Maaf ya, aku nggak tau klo dari kemaren kamu memendam ini sendirian, kamu kenapa juga nggak bilang? tanya ke' jangan biarkan masalah di pendam," ucap Ezra lagi.


"Aku lihat Abang saat membuka chat senyum-senyum sendiri, ku kira Abang chat dengan Klien itu, otakku bahkan udah treveling ngembayangin Abang sama Dia lagi anu___," ucapnya tak meneruskan kata-katanya.


"Anu? Anu apaan? kamu pikir aku lagi anu sama Humairo? Heh? Dasar kamu ya, otak ngeres, mana bisa aku meninggalkan kamu saat kamu sudah memberiku 2 buah hati yang cantik dan tampan heh?" Ezra memeluk Zahwa dan menciumi jidad istrinya itu.


"Jadi kalau aku nggak punya bayi, kamu akan meninggalkan aku?"


Waduh salah ngomong lagi si Ezra.

__ADS_1


"Waduuuuuh, ngomong sama emak emang susah ya? Udah lah, kamu slalu menang, pokoknya aku nggak mau kita salah paham lagi, mengerti!" ucap Ezra.


"Hmmm," gumam Zahwa.


Ezra kembali menciumi pucuk kepala Zahwa lembut.


***


2 bulan telah berlalu, semua kehidupan tampak normal, tanpa ada kejadian yang berarti. Huda dan Rina memang sering bertemu, namun hanya sekedar makan dan minum kopi, kayaknya Rina hanya pedekate.


"Mas, hari ini aku ikut ke Toko ya!" ucap Yola pada Huda.


"Oke Sayang, sekalian nanti makan siang di luar ya!" ucap Huda.


"Baiklah, aku mau nemuin Mama dulu,"


Yola pun berdiri dan berjalan menuju dapur.


"Eh sebenarnya yang anak Mama itu aku atau kamu sih?" canda Huda sama Yola, karena secara Biologis 'kan Huda anak kandung Fathir, dan anak tiri Shaina.


"Ih apaan sih?" sahut Yola tak memperdulikan pertanyaan itu. Huda hanya tertawa.


"Ma, hari ini aku ikut Mas Huda ke Toko, Mama nggak ke mana-mana 'kan?" tanya Yola, tentu saja maksudnya agar Si Nenek itu ikut jagain si kembar.


"Oh benarkah? Baiklah, biar aku bantu jagain si kembar," jawabnya.


Huda dan Yola pun berangkat kerja.


***


Yola yang memang suka jajan Empek-empek yang ada di depan pagar pun duluan turun dan jajan, sementara Huda terus masuk dan memarkirkan mobilnya di halaman Toko.


"Hai Mas Huda! Waaaah, rapi sekali hari ini," sanjung Rina.


Tiba-tiba wanita itu bergelayut manja di pundak Huda, Huda mencoba melerainya lembut, namun wanita itu tambah erat mencengkram nya. Yola yang selesai belanja Empe-empe pun ingin bermaksud menyusul Huda ke Toko, namun dia sangat kaget saat melihat Suaminya sedang berpelukan dengan wanita lain di hadapannya. Yola lun bingung, antara mau terus menyusul, atau menumpahkan kekesalannya dengan pergi dari sana dan menangis di belahan bumi yang lain.


"Mas Huda!"


Huda yang sangat kenal suara itu pun, menyimbah kasar tangan Rina hingga tangan itu terpental mengenai tubuh Rina sendiri.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2