
Shaina tidak tau, harus seperti apa lagi dia menasehati Saila, sudah sebulan sejak kepergian Fathir, namun rumah semakin kacau saja, apa lagi Huda hanya anak tiri yang baru bertemu, seandainya seperti Yola, mungkin saja Shaina masih bisa mengontrol lebih lagi.
"Aku akan ke kantor menyusul Huda hari ini, karena ada klien penting yang Huda belum pernah bertemu," ucap Shaina.
"Aku hari ini hanya diam di rumah, nunggu ATM ku di isi Mas Huda lagi, baru bisa shoping," ucapnya.
Shaina pun pergi meninggalkan rumah dengan hati yang nggak karuan, dia tidak tau, harus seperti apa lagi menyelamatkan rumah peninggalan suaminya itu, karena sebenarnya itu adalah rumah Zahwa yang dulu di jual, dan di ganti dengan rumah baru ini.
Zahwa juga sudah di nawa pulang ke kastel Umminya, demi ketenangan jiwanya yang lagi hamil.
***
"Huda, apakah tamu kita belum datang?" tanya Shaina saat berada di ruangan Fathir.
"Belum Ma, ini paman satpam baru kabarin, mereka masih di lobi," jawabnya.
"Baik lah, tolong sediakan berkasnya, kita akan segera keruangan," Huda memang bukan orang jahat, namun kadang karena kekurangan pendidikan agamanya, jadi dia tak sefanatik Shaina dan lainnya.
Huda dan Shaina sudah berada di ruangan meeting, ternyata Ezra juga berada di sana untuk menghadiri rapat dari perusahaannya.
"Baiklah, tunjukkan presentasi mu Ny.Shaina," ucap rekan Bisnisnya.
Shaina pun maju dan mulai presentasi.
Ting.
"Apa ini? kalau kerja seperti ini, maka akan membuat perusahaan kita bangkrut," dia menghentakkan pena nya di atas meja kasar.
"Pa, anda tidak boleh berkata seperti itu, kita bisa mencobanya tehnik Ny.Shaina," ucap Ezra membela. Rangga tampak menggesekkan gigi atas bawahnya karena geram, mendengar Rekan bisnis itu menjelekan presentasi mamanya.
"Tapi itu sangat buruk, aku tidak bisa melanjutkan kerjasama dengan perusahaan mu PT.ShinWa.
"Baik lah, kalau begitu, aku juga memutus kerjasama PT.Linggar Grop. Sialahkan anda keluar!" ucap Rangga ketus.
"Apa maksudmu? Bukankah kerjasama kita baik-baik saja?" ucapnya seperti ada ketakutan.
"Aku juga memutus kerjasama, PT.Mahendra, maaf kalau selama bekerjasama, kita pernah melakukan kekeliruan," ucap Ezra.
"Tuan? Mengapa kalian malah memojokkan ku? Bukankah kalian lihat tadi? Kalau presentasinya jelek sekali," ucap Lelaki paruh baya itu, dia terlihat heran dan gugup.
"Karena aku tidak bisa melihat orang yang telah mengandungku terluka, silahkan Tuan pergi dari sini, sebelum ku panggilkan satpam," ucap Rangga.
"Apa? Jadi kau adalah anaknya? Tuan, maaf, aku salah, baik lah, kita akan mencoba teknik itu," ucapnya menyesal.
"Sudah terlambat, baiklah kalau begitu, ayo ma! Kita yang pergi," ucap Rangga sambil menggandeng tangan Shaina.
"Tapi Nak, apakah__?"
__ADS_1
"Tidak, lebih baik tahu lebih dulu dan tidak kerjasama, daripada sudah kerjasama tapi malah kita di tindas setelahnya,"
Shaina pun terpaksa mengikuti anaknya. Sementara Bapak itu tampak masih memohon dengan menggenggam tangan Ezra, namun Ezra menolaknya halus. Ezra pun terlihat meninggalkan ruang Meeting tersebut.
***
"Huda, bukankah kau anak yang tertukar? apakah kau tau? Mungkin saja perusahaan ini di atas namakan putrinya saja Zahwa, apakah kau tidak ingin menjual perusahaan mu itu sebelum mereka mengambil alih?" ucap pak Robi meracuni otak Huda.
"Mengapa anda berpikir demikian, Mama Shaina sangat baik juga Kak Zahwa, tidak mungkin mereka berbuat curang demikian." ucap Huda.
"Heh, begitu percayakah kau pada mereka? Kau 'kan tau, kalau masalah uang ini sangat sensitif, bisa saja nanti kau akan terusir dari perusahaan mu sendiri," ucapnya lagi menakut-nakuti Huda.
"Maaf Pa Robi, tapi aku percaya sama Mama dan Kakakku," sahut Huda lagi.
"Baik lah, kalau kau ingin menjual perusahaan ini, ini no HP ku, kau bisa menghubungiku meski pun di tengah malam,"
Robi pun pergi meninggalkan Huda dan Gedung bertingkat itu. Saila yang dari tadi hanya diam di pojokan pun mendekati Huda.
"Mas, benar juga kata Pak Robi mungkin saja perusahaan ini sudah di atas namakan Zahwa atau Shaina mama tiri mu itu, sebaiknya kita jual saja, dan kita buka usaha baru!" bujuk Saila.
Huda pun termenung. Sepertinya dia memang memikirkan hal itu.
"Mas, aku pergi dulu ya, aku ada janji dengan teman-teman kuliah nih," Saila pun berdiri.
Hap
"Apa?" tanya Saila serius.
"Berikan ke virginan mu padaku, maka aku akan menjual perusahaan ini untukmu," ucapnya. Dia menjanjikan uang yang banyak untuk Saila, dan rayuan maunya pun berhasil.
Rupanya sudah sebulan namun Huda belum belah Duren, karena Saila slalu saja beralasan macam-macam.
Hap
Huda pun memeluk tubuh Saila dan menutup pintu lalu menguncinya.
"Aku ingin di sini sekarang,"
Huda tampak buas, dia sudah melepas pakaiannya, dan menelanjangi Saila hingga tak tersisa sehelai benang pun. Saila di dorong ke atas sofa.
Bruk
***
"Mengapa Saila dan Huda belum datang? Ini 'kan,sudah jam 9 malam? apa mereka tidur di Hotel?" tanya Shaina pada Rangga saat duduk di ruang keluarga.
"Entahlah Ma, tidak usah memikirkan Kunti itu, mereka pasti pulang, lagian mereka juga tidak ada musuh di koya ini selain kita," ucap Rangga.
__ADS_1
"Rangga, walau bagaimana pun, dia tetap Kakak tiri kamu, jangan tidak sopan begitu kasih gelar sembarangan," ucap Shaina.
"Mi, Kak Zahwa telepon nih,"
"Helo, ada apa Kak?" Rangga
"Malam ini kami akan bermalam di rumah mama," Zahwa
"Baik lah Kak, kami tunggu ya!" Rangga
"Bi, siapkan cemilan ya, sebentar lagi Bumil datang nih!" ucap Shaina, namun tak ada sahutan.
"Bibi ke mana ya?"
Rangga pun ke dapur untuk meriksa.
"Bibi tidak ada Ma, mungkin sudah tidur," ucap Rangga.
"Ooh, baik lah, biar aku yang ambil."
Shaina pun mengambil beberapa cemilan dan meletakkannya di atas meja tamu. Sementara dia ke kamar karena merasa ngantuk.
Saat Zahwa dan Ezra datang, rumah sudah sepi.
"Hemmmm, pasti cemilan ini disediakan Mama untukku, pokoknya mama terlope lope deh,"
Zahwa pun sangat girang saat melihat cemilan kesukaannya sudah tersusun rapi di atas meja tamu.
"Aku mau langsung istirahat, aku sangat ngantuk,"
Ezra pun masuk kamar karena cape habis bekerja seharian. Tak berapa lama Zahwa pun ikut tidur.
***
Pagi yang cerah di kediaman Shaina. Jam menunjukkan jam 6 pagi, semua orang masih sibuk di kamarnya, ada yabg baru selesai sholat, tadarus dan merapikan kamar.
"Mamaaaaaa... Mamaa..."
Teriakan Yola sambil berlari menuju kamar Shaina mengagetkan seisi rumah, teriakan yang sangat nyaring.
"Ada apa? kenapa kau berteriak?" jawab Shaina yang masih mengenakan mukenanya.
"Mama, lihat! Sosmed mengatakan, kalau Perusahaan kita di jual, siapa yang menjualnya?" ucap Yola heran.
"Ah paling gosip," sahut Shaina santai.
Bersambung...
__ADS_1