
Huda segera mendekati Yola dan menggandeng istrinya, berjalan menghampiri Rina.
"Kenalkan, ini istriku, Yola," ucap Huda memperkenalkan pada Rina.
"Aku Rina, teman semasa kecil Huda," ucap Rina.
Yola pun menyambut uluran tangan Rina, walau hatinya kesal, saat melihat adegan yang baru saja di lihatnya.
"Oooh, jadi ini, sainganku? Heh keciiil," lirih hati Rina, saat melihat penampilan Yola yang hanya biasa dan terlihat kurus.
"Apa ada yang bisa ku bantu?" Tanya Huda pada Rina.
"Oh iya, rencana aku mau membangun Toko kecil-kecilan, jadi aku melihat bahan bangunan yang mungkin ku perlukan, tapi aku hanya menyurvei harga saja, soalnya belum dapet ide yang cocok buat bangunan seperti apa yang ku mau," ucapnya.
"Oooh baiklah, kau boleh lihat-lihat sepuasnya, aku mau ke dalam dulu, ayo Sayang!" ajaknya pada Yola. Yola lun mengiringi Huda masuk ke ruangan pribadinya.
"Heh, paling nanti kau akan bersujud di kakiku," lirihnya licik.
Rina terpaksa berpura-pura melihat lihat bahan bangunan yang ada di Toko Huda, wajahnya cemberut dan akhirnya dia pergi meninggalkan tempat itu tanpa pamit.
"Sial banget gue hari ini, kenapa meski dia sama istrinya sih ke Toko, aku 'kan mau memulai aksiku," gumam Rina saat berada di taksi menuju pulang.
"Aku pasti punya cara lain, dan harus berhasil, besar sekali ternyata Yoko Huda."
Taksi melaju meninggalkan Yoko Huda, membawa Rina ke Hotel tempat dia menginap.
Sementara di ruangan Huda. Yola masih terlihat cemberut dan masam.
"Yola, kamu masih marah ya! Sumpah, dia itu teman semasa kecil dulu, dan baru sekarang kami bertemu kembali," ucapnya membujuk Yola.
"Kok mesra banget sih Mas, masa hanya teman, apakah dia mantan Mas dulu?" tanya Yola lagi.
"Nggak Yola, Dia sudah menikah, namun saat ini masa sidang cerai, dia juga sudah punya anak," ucap Huda.
"Kenapa cerai, dia sangat cantik dan menggoda, semua lelaki pasti sangat mau menikah dengannya," ucap Yola lagi judes.
"Belum tentu, semua lelaki itu tak sama, ayo udah dooong, kita sudah punya masa depan, lihat Toko ini, punya anak 10 orang pun, kita sanggup kok membiayai mereka, ayo kita Shoping!" ajak Huda membujuk.
"Shoping? Emang Mas punya uang banyak?" Yola seperti meragukan.
"Emang kamu mau beli apa?" tanya Huda.
"Ayo! Siapa takut?"
Huda menggandeng Yola meninggalkan ruangannya. Mereka pun pergi meninggalkan pertokoan itu menuju dealer terdekat.
"Emang benar, mau neli in aku motor?" tanya Yola.
"Eh kamu 'kan mau motor? ya aku beli-in, asal aku sanggup, pasti aku beli-in," jawabnya.
__ADS_1
Tak berapa lama mereka pun sudah sampai di dealer besar dan mewah. Semua warna pun lengkap sesuai permintaan.
"Ayo!"
Huda menjulurkan tangannya saat membuka pintu mobil di samping Yola.
"Selamat siang, Tuan dan Nona, mau motor yang seperti apa?" taya seorang karyawan.
"Mau lihat-lihat dulu," jawab Yola spontan mendahului Huda.
"Lho! Kok liat-liat? Ayo pilih!" titah Huda.
"Klo Nmax Mas ada uangnya nggak?" tanya Yola.
"Mau itu, ayo!___Nmax mbak." ucap Huda tanpa ragu.
"Eh beneren ada?" bisik Yola.
"Adaaaa, tapi masalahnya, kamu kuat nggak bawa motor segede iti?" tanya Huda meragukan.
"Iya juga ya, lihat dulu ah,"
Mereka pun di bawa ke kantor Nmax. Yola memilih warna dan srek di warna Biru.
"Jadi ini? Kuat?" tanya Huda.
"Iya ini, bisa kok," jawabnya.
"Lho ada tamu, siapa ya?" tanya Huda saat melihat sebuah motor parkir di halaman rumah Shaina.
"Nggak tau Mas, ayo!"
Mereka pin masuk.
"Assalamualaikum," ucap mereka.
"Wa alaikumsalam," sahut orang dalam.
"Bima?" takjub Yola saat melihat lelaki yang telah menghancurkan hidupnya suli.
"Loe, ngapain ke mari?" bentak Yola judes.
"Maaf, Yola, aku mau minta maaf," ucap Bima terlihat tulus.
"Maaf? Udah basi, ayo Sayang!" Yola lin menarik tangan Huda berjalan menuju kamarnya.
"Yola, tunggu! Kamu tidak boleh begitu," ucap shaina yang memang dari tadi menemani Bima, saat menunggu Yola datang.
"Mama tau 'kan? Dia seperti apa? dan memperlakukan aku seenaknya saat kami menikah, Dia hanya mencintai Kak Zahwa, bahkan tiap hari dia slalu menyalahkan aku, karena ada di antara mereka," ucap Yola lagi.
__ADS_1
"Oooh, jadi Dia mantan suamimu dulu?" tanya Huda, Yola hanya mengangguk.
"Yola, aku sungguh khilaf, aku minta maaf, aku memang keterlaluan sama kamu Yol, aku menyesal," ucapnya lagi.
"Ellleh, emang bisa kau kembalikan kegadisanku heh? Sana pergi!" usir Yola.
"Yola, maafkan saja, toh sekarang kita sudah bahagia," Huda ikut membujuk.
"Aku nggak bisa maafin Dia, kecuali Dia mendapat balasan di dunia ini," ucap Yola, kemudian Dia berjalan sendirian menuju kamarnya dan membanting pintu keras hingga meninggalkan suara yang sangat nyaring.
Brakkk.
"Astaghfirullah,___sana! Kamu temani Yola!" Shaina hanya mampu beristighfar. Dan menyuruh Huda membujuk.
"Mama, maaf, aku pamit saja, sampai kapan pin, aku berharap bisa mendapat maaf dari Yola. Kalau begitu aku permisi, assalamualaikum," ucapnya.
"Wa alaikimsalam."
Sementara di kamar Zahwa, Si Kembar terbangun bersamaan karena mendengar bantingan pintu Yola tadi, mereka menangis bersamaan.
"Arsy, Arsya, Sayaaaaang, cup cup," Zahwa mencoba membujuk, namun tak berhasil. Shaina yang mendengar cucunya menangis pun segera ke kamar Zahwa.
"Sini biar ikut Nenek!" Shaina membawa Arsya keluar kamar, sementara Arsy di ASI-in, karena Arsy agak cengeng dsn tak mau diem kalau nggak ngASI dukuan.
***
"Bagaimana menurut bapak?" tanya Ezra, bangunan Toko yang besar dan megah itu sangat indah, di dalamnya pin ada mainan anak-anak, agar para pembeli bisa betah saat di tinggal belanja oleh emaknya.
"Sangat indah Bos, saya sangat agum dengan cinta yang Bos miliki kepada istri, setahu saya, bukankah Bos duki menikah dadakan?" tanya Rahman, kaki tangan Ezra yang selama ini menangani pembagunan Toko baju tersebut.
"Kami memang menikah mendadak, namun tanpa kami sadari, kami telah di jodohkan sebelum pernah bertemu," ucap Ezra.
"Benarkah? Tapi mengapa tidak menikah dari sebelumnya?" tanya Pak Rahman.
"Aku yang menolak saat Ummi ingin melamar Zahwa, karena aku tidak pernah melihatnya, saat itu aku juga sudah mempunyai kekasih hati," jawabnya.
"Oooh,___"
"Baik pak, mana kuncinya, besok aku akan menyerahkan kado melahirkan ini untuk Zahwa," ucapnya
Pak Rahman pun memberikan kunci bangunan tersebut.
***
"Sebenarnya ada apa sih Bang? sampai harus di tutupin begini matanya, paling juga kue ulang tahun 'kan?" ucap Zahwa saat berada dalam mobil menuju lokasi bangunan Toko yang ingin di berikan Ezra.
"Ada deh, sebentar lagi sampai kok."
Mereka tidak menyadari, ada sebuah mobil yang membuntuti mereka dari jarak yang lumayan jauh. Apakah Mobil itu suruhan Zaira? Atau orang lain? tampak ada 5 orang lelaki tegap besar berada di dalamnya.
__ADS_1
Bersambung...