
Pasya pun segera berangkat ke rumah sakit untuk menyusul Ezra. Setelah menempuh perjalanan beberapa menit Pasha pun sudah terlihat sampai di rumah sakit di mana Ezra sedang menunggu Bram yang masih pingsan.
"Paman, kau sudah datang? Paman tolong kau jaga pasien itu namanya Bram, kalau dia bangun bilang saja Paman adalah paman Ezra, aku akan ke kantor Polisi untuk melihat Zaira"ucapnya.
"Baiklah Ezra, kau pergi saja urus Zaira, semoga mamanya cepat mendatangi kantor polisi kalau wanita itu punya hati," ucap Pasha.
Ezra pun meluncur menuju kantor Polisi untuk mendatangi Zaira.
"Zaira... mudahan ibumu mau mendatangi kantor polisi, atau kita harus pakai politik agar ibumu datang?" gumam Ezra.
Setelah beberapa waktu, Ezra pun sudah sampai di kantor polisi.
"Maaf Pak polis,i Aku ingin bertemu dengan Zaira yang baru saja ditangkap, aku Ezra yang menjebloskannya ke penjara, atas tuduhan penculikan anak kami," ucap Ezra.
"Baiklah Tuan, silahkan Ikuti saya," ajak Polisi.
Ezra pun mengikuti pak polisi masuk ke dalam dan menemui Zaira.
"Zahira..." sapa Ezra dengan mata tajamnya.
"Ezra... tolong aku, lepaskan aku! Aku tidak mau lagi di penjara. Ezra, aku akan mencari Ibuku, aku akan menghubunginya," ucap Zaira lagi.
"Tidak! aku tidak akan melepaskanmu kecuali ibumu datang kemari, sekarang... kalau kau serius ingin mengembalikan anakku, kau hubungi ibumu, kau bilang sekarang kau ditangkap polisi karena perkelahian, tapi jangan kau bilang bahwa kau ditangkap polisi, karena aku, agar ibumu datang kemari,"ucap Ezra.
"Baiklah, aku akan menghubungi Ibuku, tapi hp-ku disita polisi," ucapnya.
"Baik, aku akan mengambilnya," Ezra pun berjalan menuju meja pak polisi, yang ada di depan, dan mengatakan maksudnya Ezra, untuk mengambil hp Zaira.
Setelah HP di tangan, Ezra pun kembali menemui Zaira.
"Ini, kau telepon ibumu, tapi awas kalau kau berani macam-macam! aku tidak akan memaafkan mu!" ucap Ezra.
"Baik," Zaira pun menghubungi ibunya, beberapa kali menelpon namuntidak dijawab.
"Tidak ada jawaban," ucap Zaira.
"Kau coba lagi, sampai ibumu mengangkat,- titah Ezra.
__ADS_1
Zaira mencoba lagi, namun tetap sama, tak ada jawaban. Ezra tampak putus asa dan merasa sangat kesal.
" Aaaaah."
Bugh
Ezra memukul meja yang ada di situ. Membuat Zaira sangat ketakutan.
Setelah beberapa lama. telepon Zaira berbunyi.
"Mama... Mamaku," ucap Zaira pada Ezra.
"Cepat angkat!" benyak Ezra.
Zaira pun mengangkat telepon dari ibunya.
"Ma, aku di kantor polisi Ma, Mas Bram berkelahi dengan orang-orang, sehingga kami berurusan dengan Polisi, tolong kami Ma," ucap Zaira sangat meyakinkan.
"Benarkah? di kantor polisi mana kau sekarang?" ucap sang Mama.
"Baiklah, aku akan segera ke sana, kau tunggu saja," ucap Mamanya.
Telepon pun dimatikan.
"Bagaimana?" tanya Ezra tak sabar.
"Mama akan ke mari, tapi... bolehkah aku meminta satu hal?" ucapnya.
"Silakan," jawab Ezra.
"Tolong jangan penjarakan juga Mamaku, Aku hanya punya Mama, dan kami banting tulang untuk menghidupi keluarga kecil kami, kalau Mamaku tidak ada, atau dipenjara aku tidak tau harus bagaimana lagi, sedangkan aku sekarang sedang hamil," kata Zaira mengharap balas kasihan.
"Nantilah aku pikirkan, aku perlu menelepon Zahwa dulu, dan menanyakan semua itu padanya," ucap Ezra.
"Tolonglah, tolong aku, aku akan meminta maaf dan bersimpuh di kaki Zahwa. Aku sungguh minta maaf," ucap Zaira lagi.
Ezra tak menggubris dan pergi meninggalkan Zaira ke halaman kantor polisi. Kemudian Dia menelpon seseorang. Dia pergi ke depan halaman, Ezra pun tersenyum-senyum dan dia pun duduk di bawah pohon yang enggak jauh dari kantor itu.
__ADS_1
Sambil mengintai Ibu Zaira datang. Kemudian dia juga menelepon Zahwa.
"Assalamualaikum, Hello Sayang, apa kabar? tanya Ezra.
"Waalaikumsalam, Abang... apakah sudah ada kabar?" tanya Zahwa.
"Alhamdulillah, sebentar lagi kami akan pulang. Mungkin nanti malam kami sudah meluncur ke Indonesia, Insya Allah aku akan membawa arsya mu," ucap Ezra.
"Benarkah? Ya Allah... Apakah kau tidak bercanda?" antusias Zahwa saat mendengar Arsya ditemukan.
"Iya Insya Allah, aku akan membawa Arsya, tapi sekarang Arsya belum ada di tanganku, tapi Insya Allah pasti akan ketemu," ucap aezra.
"Ih Abang... kirain Arsyanya sudah ketemu," ucapnya. Terdengar suara cemberut Zahwa dari seberang sana.
"Iya Sayang, sekarang aku ada di kantor polisi dan mengurus semuanya, sebentar lagi, Arsya, pasti bisa aku temukan, kamu Berdoa saja, kali ini mudahan aku berhasil," ucap Ezra.
"Baiklah... aku akan menunggumu," ucapnya seperti tidak bersemangat.
"Baiklah... sudah ya Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Kemudian Ezra pun menutup teleponnya dan menunggu kedatangan Mama Zaira. Ezra tampak gelisah, sudah 20 menit menunggu, namun Mama Zaira tidak nampak datang ke kantor polisi.
"Apakah Mama Zahira mencurigai, kalau ini hanyalah jebakan?" gumam Ezra.
"Tuan Ezra," panggil polisi.
"Iya Pak," jawabnya.
"Tuan silakan ikut kami ke kantor, Ada sesuatu yang ingin kami sampaikan kepada anda," ucapnya.
"Baik Pak," sahut Ezra.
Ezra pun berjalan gontai memasuki kantor polisi, Dia merasa tidak enak saat mendengar Zahwa tadi. Suaranya seperti tidak bersemangat. Saat tau Arsya belum di temukan.
Bersambung
__ADS_1