
"Zahwa!" Panggil Bima dan Ezra bersamaan, Rangga dan Zahwa pun menoleh.
"Ha?" Jawab Zahwa bingung.
"Biar aku antar." ucap Bima. Sambil merampas tangan Zahwa dari pegangan Rangga dan membawanya menuju mobil di parkiran.
"Bima!" teriak wanita dari kejauhan.
Rangga, Ezra, Bima dan Zahwa pun menoleh ke arah suara.
"Siapa dia?" ternyata Linda yang memanggil Bima.
"Nanti kita bicara, ayo Zahwa!" Bima kembali menarik tangan Zahwa.
"Tunggu! Aku ingin bicara sekarang!" ucap Linda.
"Nanti saja." ucap Bima sambil terus berjalan membawa Zahwa.
"Aku hamil." ucap Linda sedikit merendahkan nada suaranya.
Zahwa, Ezra dan Rangga berhenti mendadak.
"Hamil?" Rangga pun mendekati Linda. Linda hanya mengangguk.
Hap,
"Biar ku antar."
Ezra menarik pergelangan Zahwa, kali ini dia tau, pasti Zahwa sangat terluka.
Bugh
"Hantaman bugam mentah mendarat di wajah Bima, dan meninggalkan warna merah dan kucuran darah segar di sisi bibirnya.
"Selesaikan urusanmu dengan wanita ini!" Bentak Rangga sambil berjalan dan menunjuk wajah Linda.
Rangga pun menyusul Ezra dan Zahwa.
__ADS_1
"Kakak, biar kau ikut Bang Ezra, karena aku pakai motor hari ini." ucap Rangga.
"Aku ikut kamu aj dek." Pinta Zahwa sama Rangga.
"Tapi aku pakai motor Kak, lagian aku akan menyusul di belakang, nggak papa ya?" pinta Rangga lagi.
Zahwa menggeleng, dia tidak sanggup lagi berucap apa pun, bendungan yang ada di matanya hampir jebol.
"Baiklah, ayo!" Rangga menggandeng Zahwa dan membawanya bersamanya. Ezra pun mengiringi di belakang.
"Zahwa, maafkan aku, mungkin aku terlambat menyadari ini, namun seandainya masih di izinkan, aku akan menjagamu." Gumam Ezra sambil terus memandangi Zahwa, yang sedang boncengan dengan Rangga di depannya. Tak berapa lama, mereka pun sampai di kediaman Fathir.
Zahwa masuk ke dalam kamarnya dan menangis sepuasnya.
"Kak, maafkan Rangga, Rangga nggak bisa jagain kakak setiap saat." ucap Rangga sedih.
Zahwa hanya menangis.
Sementara Ezra bingung harus ngapain, dia hanya duduk manis di sofa ruang tamu.
"Nak Ezra...nungguin Rangga? Dia jemput Zahwa nak." sapa Shaina yang baru datang dari dapur.
"Ooh, sudah pulang? Bi... tolong bawakan es syruf buat tamu ya!" titah Shaina pada Bibi yang sedang masak.
"Iya Nya.."
"Tunggu ya!"
Shaina pun berjalan menuju kamar Zahwa yang sudah berpisah kamar dengan Yola.
Ceklek
"Zahwa... Rangga." Shaina terdiam sesaat, saat melihat Rangga tampak mengelus elus punggung Zahwa yang sedang menangis.
"Mama." Rangga kaget.
"Ada apa lagi?" Shaina pun mendekat, Rangga berdiri memberi ruang pada mamanya.
__ADS_1
"Tidak papa Ma." Zahwa langsung duduk dan menjawab pertanyaan sang mama.
"Kalau nggak ada apa apa, mengapa kamu menangis?"
"Seperti dulu aja ma, ada yang usilin kak Zahwa." Rangga coba menutupi apa yang sedang terjadi. Karena Zahwa sudah bilang, bahwa masalah ini jangan sampai mamanya tau.
"Kamu jujur dooong sama Mama, Rangga! Apa kamu tau sesuatu?"
"Waktu aku jemput kakak, dia udah gitu Ma." Rangga coba berkelit.
"Gih sana! Temenin Ezra."
Rangga pun keluar.
"Maaf Bang, nunggu lama." ucap Rangga.
"Nggak papa. Gimana kuliah kamu sekarang?"
"Alhamdulillah Bang, lancar lancar aja. Emang kenapa tadi Zaira sangat marah sama kak Zahwa ya?"
"Rasanya aku nggak cocok sama dia, aku udah berusaha untuk nasehatin dia, namun dia nggak pernah nurut, ku kira aku bisa merubah kelakuannya, namun semakin ke sana dia malah semakin nggak perduli, Ummi udah sering peringatin aku, tapi akunya yang bandel ha ha, kamu jangan kayak aku ya!"
"Trus Abang putusin gitu?"
"Hemmmm."
"Waaah padahal Zaira cantik banget Bang, aku juga terpesona oleh kecantikannya ha ha."
"Ambil sono, kami udah putus kok."
Ezra menghirup Es syruf yang begitu nikmat di siang bolong yang panas membahana ini.
"Abang sama kak Zahwa aja, pasti cocok." Goda Rangga, dengan mimik wajah serius.
"Pengen siiih, tapi udah milik orang." Jawab Ezra juga dengan mimik yang serius.
Sementara Yola tampak menguping di daun pintunya dengan menempelkan telinganya di sana. Bibirnya mun jadi memble karena merasa benci dengan Zahwa.
__ADS_1
BERSAMBUNG....