Mendadak Jodoh

Mendadak Jodoh
Kenangan Masa Lalu


__ADS_3

Fathir dan Handono sudah berada di ruang kerja Fathir.


"Silahkan duduk Pak,"


Handono duduk di singgle sofa yang ada di depan meja kerja Fathir.


"Begini, aku percaya padamu, aku juga pernah dengar, dulu sebelum kau bekerja di sini, kau juga orang kepercayaan pak Manae, Pak Manae itu adalah teman dari istriku, istriku sering bercerita tentang kehebatan Pak Manae, aku juga pernah dengar, pak Manae sering membantu orang menyelesaikan masalah, walau aku juga pernah dengar, kalau dia sebenarnya adalah ketua genk pembunuh berdarah dingin, namun itu masa lalu dia. Begini, aku punya masa lalu yang sulit,"


Handono terdiam sesaat.


"Maksudnya bagaimana Pak? aku tidak ingin mengungkit masa lalu, jadi katakan saja langsung, aku akan membantumu, kalau memang aku bisa."


"Begini, aku pernah melakukan kesalahan di masa lalu, mungkin ini juga karma yang harus kami terima, aku dan istriku di nyatakan tidak bisa mempunyai anak, tapi ada satu harapan yang aku punya, ternyata, wanita yang dulu pernah menjadi simpanan ku hamil saat aku membuangnya___" Handono terdiam.


"Jadi maksudnya, Bapak punya seorang anak dengan perempuan itu?" tanya Fathir.


"Iya, aku baru tau, ketika penjaga kebunku di Villa menceritakan kejadian 5 tahun silam, ada seorang gadis cantik yang menanyakan kejadian tragedi 20 th silam pada waktu itu. Kejadian di mana, komplotan pembunuh bayaran menyerang Bilaku___"


"Ap__apa? Pembunuh bayaran?" Fatjir sangat kaget, sudah yentu saja itu adalah komlpotannya. Fathir pun menatap tajam wajah Handono di depannya, mengingat wajah lelaki tua yang dulu mereka ikat di kursi.


Bisa baca di PEMBUNUH BAYARAN ****PALSU**** PERENGGUT KEPERAWANANKU


udah tamat.


"Ya, ternyata mereka suruhan istri tuaku, mereka semua memperkosa Wanita simpanan ku di depan mataku sendiri, aku merasa jijik dan muak dengan wanitaku itu, hingga aku mengusirnya dan memberinya uang yang banyak, sejak saat itu, aku tidak pernah lagi bertemu dengan wanita itu," ucap Handono.


Fathir bergetar, dia bingung harus mulai dari mana, ini adalah kasus yang sangat dia benci, benci sekali.


"Fathir, aku ingin kau membantuku menemukan gadis itu, mungkin saja dia adalah anakku, hanya dia harapanku, karena hanya dia keturunanku," ucapnya lagi.


"Baik, aku akan mencoba mencari cara, tapi seandainya kau bertemu dengan orang bayaran yang telah memperkosa wanita mu, apa yang akan Bapak lakukan?" tanya Fathir khawatir.


"Aku hanya ingin menemukan anakku, karena mereka hanya orang bayaran yang tsk tau spa-apa, semua ini salah istriku yang tau dan cemburu, taktik itulah yang di lakukannya agar aku bisa meninggalkan wanita itu," ucapnya.


"Baiklah, besok, jam 8, Bapak ke sini lagi, aku akan membawa Bapak ke suatu tempat, kita akan mencarinya bersama," ucap Fathir.


"Benarkah? Secepat itu kau mau membantuku?" ucap Handono girang.


"Haammm, ayo! diminum dulu,"


Mereka pun minum teh hangat suguhan Shaina.


"Terima kasih banyak sebelumnya, hanya dia satu-satunya harapan kami." ucap Handono lagi.


"Sama-sama," jawab Fathir.


Fathir belum memikirkan bagaimana caranya dia bisa menceritakan itu pada Shaina, karena selama ini Shaina pun belum tahu semuanya tentang masa lalu Fathir yang kelam.


Handono menatap tajam ke arah Saila yang masih duduk di pojokan sambil memegangi HPnya. Fathir yang melihat itu pun curiga, apakah Handono sudah tau mengenai Saila sebearnya.


"Kalau begitu aku pamit,"

__ADS_1


"Iya terima kasih telah mampir," ucap Fathir.


Fathir mengantar sampai depan teras.


***


Malam yang dingin, Fathir pun berbaring di ranjangnya dengan menambah ketinggian batal dengan meletakkan kedua tangannya di kepala, dia menatap langit-langit rumah dengan tatapan kosong.


"Beng, ada apa?" Shaina yang heran melihat tingkah laku suaminya itu pun akhirnya bertanya.


"Sayang, aku ingin menceritakan sesuatu, namun aku takut," ucapnya.


"Takut? apa yang Beng takutkan?" tanya Shaina bingung.


"Aku takut kau akan berubah, ini masalah yang sangat sensitif, ini masalah yang sudah lama dan bahkan aku pun membencinya," ucap Fathir lagi.


"Kalau Bengbeng tak menceritakannya, bagaimana aku tau?"


Shaina pun berbaring di samping suaminya dengan menarik satu tangan Fathir dan menjadikannya bantal.


Hap


Fathir pun berbalik dan melingkarkan tangannya di leher Shaina.


"Masa laluku itu pahit, bahkan lebih pahit dari sayur pari," ucap Fathir.


"Kalau Bengbeng tidak ingin menceritakannya, simpan saja sendiri, aku tidak apa-apa kok," sahut Shaina pasrah.


"Tidak, aku akan menceritakannya, namun kau harus siap mental, harus kuat seperti Zahwa anak kita," pinta Fathir lagi.


"Aku____ aku dulu adalah seorang pembunuh bayaran,"


Sampai di situ Fathir menghela nafas dan menatap wajah istrinya sambil menunggu reaksi.


"Ha ha ha, Beng beng, ada-ada aja sih, mau cerita ya cerita aja, jangan sambil ngelawak juga," ucapnya. Shaina mengira, Fathir sedang bercanda.


"Ha ha ha, iya juga ya, tapi itu benar kok," ucap Fatjir lagi. Spontan Shaina menengadah dan menatap wajah suaminya.


"Bener? Bengbeng membunuh?" tanya Shaina tak percaya.


"Tidak, aku hanya membantu mereka, mereka lah yang membunuh, maksudnya, aku___ aku hanya kru, namun aku tidak pernah membunuh," ucap Fathir.


"Lalu Beng melihat mereka membunuh?" tanya Shaina lagi.


"Hmmm," Fathir mengangguk.


"Apakah Beng tidak mencegah mereka?" tanyanya lagi.


"Aku tidak berani, saat itu aku masih sangat muda, aku juga di beri persenan dari hasil mereka," ucap Fathir


"Hups,"

__ADS_1


Shaina bangun duduk berdiri sambil menghela nafas dalam. Berjalan keluar kamar.


"Mau ke mana?" tanya Fathir mulai khawatir.


Tak ada jawaban.


Bruk.


Menutup pintu sedikit kasar. Fathir pun ikut bangun dan berjalan menuju pintu.


"Ke mana dia? Kok nggak ada?" tanya Fathir saat memindai ruang tamu yang luas, namun sudah tidak di temukan nya istrinya itu.


Sementara di atas.


"Mama, ada apa?" tanya Rangga yang bingung dengan kedatangan mamanya itu.


"Aku ingin bermalam di sini malam ini, tolong kau panggilkan Zahwa," ucap Shaina.


Rangga pun tanpa bertanya apa-apa,segera turun, Rangga mengira mamanya sedang bertengkar dengan Papanya.


Tok tok tok.


"Kak,"


Ceklek.


"Rangga ada apa?"


"Mama ada di kamar atas, ingin bertemu Kakak,"


"Di atas?___Ayo aku antar!" Ezra pun menyusul ke depan pintu. Dan menggandeng istrinya yang sedang hamil besar. Shaina lupa kalau anaknya ini sekarang lagi hamil, masa di suruh naik tangga😁


Ceklek


Setelah beberapa lama berjalan Zahwa pun sampai di kamar Rangga.


"Ada apa Ma?"


Shaina menatap wajah Zahwa, kemudian menatap perut anaknya yang membesar.


"Astagfirullah, maaf," Shaina pun menyambut anaknya dan menggandengnya membawanya duduk di ranjang Rangga.


"Kenapa Mama minta maaf?",tanya Zajwa heran.


"Mama lupa kalau kau sedang hamil, maaf ya Z'ra," pinta Shaina pada sang mantu.


"Mama apaan soh, kok minta maaf, nggak salah juga," jawab Ezra.


"Zahwa, hiks hiks,"


Akhirnya Shaina menangis.

__ADS_1


"Ada apa Ma, kok tiba-toba begini? Biasanya jiga Mama kuat kok!" ucap Zahwa yang merasa heran.


Bersambung...


__ADS_2