
Kini Zaira sudah berada di rumah mungilnya, bersama ibunya yang stroke. Kini beban Zaira bertambah dengan merawat dua orang stroke sekaligus. Mamun Zaira sudah tidak memberi obat lagi pada Bram, tapi sayang... karena obat yang terus-menerus diberikannya, maka Bram tidak bisa langsung pulih seperti sediakala.
Saat pagi menjelang, Zaira nampak sibuk menata makanan di meja makan, sebelum dia berangkat kerja untuk mengawasi warung makan yang ada di pinggiran kota milik Bram. Namun tiba-tiba, terdengar suara benda jatuh sangat keras, membuat Zaira kaget.
Zaira pun berlari mengejar suara itu, ternyata Bram yang ingin masuk ke kamar mandi, tersungkur di lantai kamar mandi, Bram nampak ingin bangun, namun tidak bisa hingga akhirnya kembali tersungkur. Sepertinya dia pingsan.
"Mas Bram... bangun mas... ya Allah jangan lagi," rintih Zaira merasa sangat sakit.
Dia lupa kalau sekarang berada di kamar mandi.
Zaira pun kembali menelpon taksi dan berniat membawa Bram ke rumah sakit, Zaira sangat dalam kebingungan, kalau dia pergi maka ibunya sendirian di rumah, kalau tidak pergi, maka Bram sendirian di rumah sakit.
Zaira dalam delima, akhirnya Zaira memutuskan untuk membawa ibunya sekalian ke rumah sakit bersama Arsya dan Bram. Sepanjang jalan Zaira terus meratapi nasibnya.
Zaira dan Taksi pun sudah sampai di ruang IGD. Zaira sangat kesulitan harus membawa Arsya dan juga mendorong ibunya.
"Nona, apakah ada kekuarga yang bisa membantu Nona?" tanya perawat, karena melihat Zaira tampak kesulitan membawa bayi dan mendorong ibunya.
"Tidak ada Mbak, kami tidak ada keluarga," ucap Zaira.
"Ibu anda sakit juga?" tanya perawat lagi.
"Tidak, hanya suami saya yang jatuh dari kamar mandi," ucap Zaira.
Perawat kemudian memeriksa Bram yang belum sadarkan diri. Perawat pun memasangkan infus pada Bram.
"Maaf Nona, sepertinya suami Anda mengalami cedera di kepalanya," ucap perawat.
__ADS_1
"Benarkah? Apakah parah?" tanya Zaira.
"Kami belum bisa memastikannya Nona, kita tunggu saja nanti," ucap perawat itu.
Perawat itu pun pergi setelah memasangkan infus. Zaira setia menemani suaminya di sisi Bram, sedang mamanya berada di atas kursi roda juga sedang sakit, sementara Arsya tampak tertidur diletakkan di ranjang sebelah.
"Ezra... Apakah kau akan memaafkan ku, kalau aku mengembalikan Arsya padamu Apakah kau akan memaafkan ku Zahwa?" lirihnya.
"Aku takut... kalau aku menyerahkan Arsya, kalian akan menjebloskan ku ke penjara, sedangkan aku sedang hamil," ucap Zaira lagi.
"Uhuk uhuk,"
Tampak Bram sudah terbangun dari pingsannya.
"Mas Bram, kau sudah sadar? Mas!" Panggil Zaira berulang-ulang.
"Mas... kita di rumah sakit sekarang, tadi kau terjatuh di dalam kamar mandi apakah ada yang sakit, " tanya Zaira.
"Ti_dak," ucapnya terbata.
"Apa kau ingin minum? "tanya Zaira
"Si_apa Kau?" tanya Bram tiba-tiba, membuat Zaira kaget.
"Apa? Mas tidak mengingatku?" heran Zaira.
"....." Bram menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku istrimu Mas, Zaira ini... Lihat! Dia anak kita," ucap Zaira mencoba membujuk, agar ingatan Bram pulih.
"Anak?" tanya Bram, kemudian ada senyum mengembang di bibirnya yang indah.
"Iya Mas, apa kau ingat?" tanya Zaira lagi.
"Tidak... Tapi... Di_a sa_ngat tam_pan," ucap Bram lagi masih terbata.
"Iya Dia sangat tampan sepertimu, Lihatlah!" Zaira pun mendekatkan Arsya ke sisi Bram, padahal Arsya masih bobo.
"Itu... siapa?" Btam juga menu juk ke arah mama Zaira yang sedang duduk di kursi Roda.
"Itu Mamaku, mertua Mas," ucap Zaira.
"Ka_pan, kita.. Me_nikah?" tanya Bram lagi.
"Sudah sangat lama Mas, ini lihatlah! Aku juga sedang hamil sekarang," ucap Zaira lagi sambil mengelus perutnya yang terlihat besar, dia juga berbohong tentang pernikahan yang lama.
"Ha_mil a_nakku?" tanya Bram .
"Iya Mas, ini, ini foto pernikahn kita."
Zaira memperlihatkan sebuah Foto saat mereka ijab kabul malam itu. Untung di sana tidak ada tanggal pernikahan.
Bram tampak mengangguk dan kembali memandang Arsya.
"Tampan," lirihnya.
__ADS_1
Bersambung...