
Zahwa pun ke kamar dan membereskan baju bayi yang belum sempat dia rapikan. Di tatapnya wajah Arsy yang cantik dan ke humairoh-an itu, sangat imut dan menawan, Zahwa pun tersenyum, namun ada air mata juga menetes di ujung matanya.
"Arsya, kau ada di mana sekarang? Umma sangat merindukanmu Nak, ya Allah, pertemukan kami kembali, hati ini sangat tidak bisa lagi menahan rindu. Pertemukan kami dan jangan pisahkan lagi ya Allah," lirihnya.
Air matanya terus mengalir tanpa henti, sehingga Dia tidak menyadari, kalau Ezra sudah berdiri di belakangnya. Perlahan Ezra mengelus pundak sang Istri.
"Abang? Hiks hiks hiks."
Tangisnya malah semakin pecah mengisi ruangan itu. Ezra memeluk Zahwa tanpa suara, Dia membiarkan wanita itu terus menumpahkan luapan yang ada di hatinya.
"Aku sudah bilang, kau tidak boleh seperti ini, kita pasti bisa menemukannya, kita harus percaya itu," ucap Ezra.
"Hmmm," gumamnya.
Ezra pun membantu merapikan pakaian Arsy dan memasukkannya dalam lemari bayi.
"Sayang, hari ini kita jadi pergi 'kan? Ajakin Yola sekalian, tampaknya Dia sedih, terlihat matanya pun bengkak, mungkin terlalu banyak nangis," ucap Ezra.
"Iya, aku juga kaget dengan keputusan Yola, membiarkan pelakor itu mau diam di sini, itu malah menambah sakit di hatinya 'kan?" ucapnya.
"Kalau kamu gimana?" Ezra menggoda Zahwa.
"Abang pengen nikah lagi?" tanya Zahwa.
Zahwa bahkan sampai berhenti mengerjakan aktifitasnya karena kaget. Matanya tajam menatap wajah tampan Ezra.
"Aaah, kamu serius amat sih, rasa pengen ditelen aku sama kamu, mana aku berani, kamu pokoknya nomor satu di hatiku," ucapnya kemudian.
"Kali aja Abang pengen cewek seksi kaya Rina," ketus Zahwa masam.
Entahlah, Zahwa yang dulu sangat sholehah kini berubah. Kadang dia marah tanpa alasan, atau mungkin karena baru lahiran ya?
"Aaah, nggak mungkin, kamu juga seksi, lagian aku lebih suka yang tertutup, biar hanya aku yang lihat kebohai-an mu itu sayang," goda Ezra lagi.
Zahwa tetap saja cemberut karena hatinya udah kesel duluan.
"Mas, minggu depan aku mau pulang kampung, boleh 'kan?" izin Rina sama Huda saat di ruang makan.
"Berapa lama?" tanya Huda.
"Mungkin satu minggu, katanya ibu lagi kurang sehat di kampung," ucap Rina lagi.
"Ooh, baiklah, tapi aku nggak bisa antar ya! Sama supir saja nanti," ucap Huda.
"Nggak usah Mas, biar aku pakai Bus saja," jawabnya.
Yola mendengar Rina akan pulang kampung, hatinya merasa senang, berarti selama satu minggu Dia akan memiliki Huda 'kan.
__ADS_1
"Yola, hari ini tolong bantuin aku belanja ya, biar kamu gendong Arsy," ajak Zahwa.
"Oh, iya Kak, belanja apaan?" tanya Zahwa.
"Peralatan Arsy aja, udah banyak baju yang nggak masuk di badannya," kata Zahwa lagi.
"Baik Kak," jawab Yola.
"Bagaimana kabar perkembangan Arsya? Apakah ada titik terangnya?" tanya Rina.
Kayaknya Rina sengaja membuat kompor menyala, biar Zahwa sedih. Zahwa langsung menatap Rina, sementara Rina malah pura-pura asyik makan sarapannya.
"Rasain Loe, siapa suruh berani mau nyindir aku," ucap Rina.
"Belum," sahut Zahwa singkat.
"Emang pergi ke mana orang itu membawa Arsya? sehingga tak bisa mendapatkan kabar sepenting itu? Jangan-jangan mereka tidak pernah lagi mencarinya," ucap Rina lagi, malah ingin mengobok-obok hati Zahwa.
"Selesaikan saja makan mu," ucap Huda karena mulai merasa nggak enak dengan Kakaknya sendiri.
"Ya... Aku hanya Nanya Mas, kok sudah 6 bulan begini, malah belum bisa ditemukan?" ucapnya.
Bruk
Tap tap tap
"Kamu keterlaluan Rina," bentak Yola.
"Ih, apaan, aku cuma nanya doang," sahutnya.
"Tapi nggak gitu juga caranya, dengan susah payah Kak Zahwa berusaha melupakan, eh, kamu malah tanya itu, bikin rusuh," ucap Yola lagi.
"Gitu doang kok," Rina masih nggak mau kalah.
"Sudah-sudah, aku mau kerja," ucap Huda.
Yola dan Rina pun salim. Rina dengan sengaja menarik tangan Huda dan menggandengnya hingga depan teras rumah.
"Hati-hati ya sayang, daaah," ucap Rina.
Sementara Yola hanya menatap dan melambai sebentar, setelah Huda pergi Yola pun bergegas masuk namun...
"Hei, Nona Yola... Kamu yang membawa aku ke sini, dan kamu akan tau apa yang harus kamu tanggung karena telah membawa duri ke rumahmu sendiri, heh, aku akan menusuk mu dan juga keluargamu," ucap Rina.
Membuat Yola menggenggam tangannya erat, ingin rasanya di hantamnya wajah wanita ja lang itu hingga babak belur. Namun Dia tidak ingin merusak suasana di rumah itu.
"Kalau kau menyakitiku silahkan, tapi jangan libatkan orang lain dalam urusan kita," sahut Yola.
__ADS_1
Yola pun berjalan meninggalkan Rina. Rina hanya mencibir dengan memajukan bibirnya beberapa senti.
Sementara Zahwa sudah siap untuk berangkat berbelanja hari ini, sekalian menghibur Yola.
"Yola, ayo!"
Mereka pun pergi meninggalkan Rina yang tampak males malesan di teras loteng atas.
***
Zahwa dan Yola juga Ezra tampak sudah selesai berbelanja, mereka pun tampak mampir di sebuah Resto yang ada di mall tersebut. Mereka memesan makan dan uduk di meja yang masih kosong. Sementara Bram juga ternyata ada di gedung yang sama dengan Ezra dan keluarga.
"Aku lapar, ayo kita makan dulu!" ajak Bram lada asistennya.
"Ayo! Bos, di sana ada Resto yang enak dan suka pilih makanan," ucap lelaki itu.
Ternyata Bram dan Ezra duduk bersebelahan, dan kebetulan Arsya di dalam kereta dekat Bram.
"Hello... Cilubbaaa." Yola yang memang sangat suka bermain sambil menunggu makanan datang, Dia terus bermain dengan Arsy, seakan Arsy itu anaknya sendiri.
"Cantik dan anggun sekali Dia!" lirih hati Bram saat melihat Zahwa.
Ezra yang memang menghadap meja Bram heran dengan tatapan Bram.
"Sayang... Ini ada sesuatu," ucap Ezra.
Dia sengaja mengambil sesuatu yang bukan sesuatu di wajah Zahwa😄. Bram yang baru tau kalau Zahwa adalah istri Tuan itu pun segera memalingkan wajahnya. Arsy tampak senang dan tertawa khasnya anak batita. Bram menoleh dan menatap Arsy.
"Seeprti pernah dengar suara tawa yang begitu ya? Kok sangat mirip, tapi dengan siapa?" batinnya.
Bram pin menatap wajah Arsy lekat. Sementara Makanan Ezra dam keluarga sudah datang. Perasaan Ezra tidak enak melihat gelagat Bram yang menatap Arsy begitu tajam.
"Ayo di makan! aku ada urusan mendadak, jadi tidak bisa berlama-lama," ucap Ezra.
"Lho, kok mendadak sih Bang?" tanya Zahwa heran.
"Baru d beritahukan, ayo makan!" ucapnya lagi.
Mereka pun makan, Ezra yang lebih dahulu selesai makan segera mengambil Arsy dan membawanya menjauh dari Bram. Saat Arsy di gendong oleh Bram dengan meletakkan kepalanya di pundak, Bram merasa kaget saat menatap anak itu.
"Lucky...." lirihnya.
"Ada apa Bos?" tanya Asistennya.
"Oh, tidak," jawabnya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1