
Zaira terlihat menaiki sebuah Taksi menuju kota. Pakaian yang terlihat lusuh, dan dia hanya mengenakan sandal jepit dan rok di bawah lutut, tampak dia hanya seperti orang desa yang kalem.
"Pak! Berhenti di butik itu," Ucap Zaira.
"Baik Nona."
Zaira pun turun dari Taksi.
"Pak! Tolong tunggu saya belanja pakaian!" Pontanya.
"aik Nona, tapi tarifnya akan di tambah Nona!"
Ucap Sang Sopir lagi.
"Tak masalah bagiku, asal kau mai menungguku."
Zaira pun pergi dan memasuki butik. Memilih beberapa baju dan... Nampak dia membeli benerapa kerudung syar'i, apa yang ingin dia lakukan?
"Ayo pak!"
Zaira sudah selesai belanja dan menaiki taksi kembali.
"Mau ke mana Nona?" Tanya Sopir.
"Mampir sebentar di mesjid, aku mau ganti baju dulu!" Pintanya.
Tak berapa lama, mereka pun sudah sampai di sebuah mesjid besar. Zaira memakai baju dengan tanpa melepas baju dalamnya, dia juga memakai kerudung lebar itu.
Zaira turun dari Mobil dan memasuki halaman Mesjid, kemudian mencari kamar mandi. Selesai melwpas baju dalamnya, dan membersihkan mukanya yang kusut, Zaira pum kembali ke Mobil.
"Ke jl.ini ya pak! Apa balak Tau?"
Zaira menunjukan alamat yang ingin dia tuju.
__ADS_1
"Ya taulah mbak, ini kan jalan menuju kastel keluarga Mahendra. Dulu aku sering mengantar anak pengusaha kaya itu." Ucapnya.
"Oh ya? siapa?"
"Non Lili, udah 15th silam, dia sering mabok, pulang malam-malam."
"Oooh."
Berarti itu kaka tiri Ezra.
Bathinnya.
"Non mau ke mana?" Sopir penasaran.
"Oh ya, apa bapa tau keluarga Lili itu sekarang?"
"Katanya, anak pengusaha itu kecelakaan seminggu yang lalu, sampai saat kemaren belum siuman Nona, istrinya juga."
"Oooh, oh ya Pa, di sini saja, aku mau belanja sesuatu dulu,"
"Antarkan saya ke tempat Rumah sakit tempat Ezra di rawat ya pak! karena kami satu kampus, aku bahkan tidak tau kalau dia sakit."
Sandiwara Zaira memang bagus.
"Ooh, baik Nona."
Pak Sopir pun ngebut menuju Rumah sakit yang di maksud.
Tak berapa lama, mereka pun sampai.
"Ini pak!" Zaira membayar beberapa lebar uang kertas.
"Ini kebanyakan Mbak!" Ucap Sopir.
__ADS_1
"Ambil aja."
Zaira terburu-buru berjalan cepat meninggalkan Taksi. Pertama-tama dia pergi menuju resepsionis dan menanyakan kamar Ezra.
Terlihat Zahwa sudah memasuki area kamar Pasien, dia menyisiri kamar demi kamar. Akhirnya dia berhenti di sebuah kamar dan menenguk ke dalam, dia pun tersenyum. Sementara Ezra terus berada di sisi Zahwa yang masih koma.
"Hwa... Maafkan aku! Bangunlah Sayang! Ayo bangun!"
Ezra membelai-belai pipi Zahwa hingga membuat Zaira yang mengintip dari kaca depan pun merasa geram.
Aku akan membalas semua ini Ezra! kau akan menyesal telah memutuskan ku secara sepihak.
Zaira tampa meninggalkan kamar Pasien dengan wajah yang cemberut.
...***...
"Ezra, sebaiknya kau pulang saja! Biar Ummi yang temenin Zahwa, lagian kan ada Mama Shaina juga kalau malam." Titah Mita.
Sudah satu bulan Zahwa koma, selama satu bulan juga Ezra tidak pernah pulang. Dia sama sekali tidak mau meninggalkan istrinya.
"Nggak Mi, aku takut saat Dia bangun aku tidak ada di sisinya, aku ingin dia melihat wajahku saat terbangun nanti.
" Assalamualaikum,"
"Wa alaikum salam, ada apa mbak?"
Tiba-tiba seorang wanita cantik berpakaian sopan walau tidak mengenakan kerudung berdiri di depan pintu.
"Benarkah ini kamar Tuan Ezra dan Nona Zahwa?"
"Iya."
"Saya di kirim ke mari untuk membantu keperluan pasien."
__ADS_1
Ezra dan Mita pun saling berpandangan, Mereka sama-sama bingung siapa wanita yang ada di depan mereka?
BERSAMBUNG...