
Ceklek.
Zahwa keluar dari kamar mandi. Sesaat dia kaget saat melihat Ezra ada di kamarnya. Lalu berbalik masuk ke dalam. Ezra yang melihat rambut panjang Zahwa pun tersenyum. Ada senyuman nakal di sana, apakah dia sedang berpikir ingin membelai rambut itu?
Tap tap tap
Akhirnya Zahwa keluar kamar mandi tanpa perduli dengan tatapan Ezra, karena kebetulan kiblatnya menyerong sedikit menghadap kamar mandi.
"Kak Zahwa?"
Aisya kaget, mengapa Zahwa tidak mengenakan kerudungnya?
Zahwa pun mendekati Aisya di belakang Ezra di samping Aisya.
"Kenapa kau bengong?" tanya Ezra yang merasa senang melihat kebingungan Aisya. mungkin dia ingin mengerjai Aisya, dasar kakak sepupu usil.
"Mmm, tidak apa apa, oh ya kak, ini kaos kaki baru buat kakak sholat subuh ini, nanti siang kita beli perlengkapan kakak ya?"
"Terimakasih."
Zahwa pun memakainya.
Mereka sholat berjamaah. Selesai sholat dan Wirid.
Seeet
Ezra berbalik badan dan menjulurkan tangannya pada Zahwa. Zahwa pun menyambutnya, menci*m tangan Ezra.
Ezra membalas dengan menci*m kening Zahwa.
"Kakak? kalian?"
Aisya sangat bingung dengan kelakuan mereka berdua.
"Aisya, kenalkan, ini Zahwa..."
"Iya aku tau ini kak Zahwa, anak tante Shaina 'kan?"
"Tunggu dulu! jangan menyela. Dia kakak ipar barumu."
"Hah? apa? kakak ipar? kapan menikahnya?"
Aisya sampai bergeser dari duduknya karena terkejut.
"Kemaren, saat aku memutuskan kembali ke indonesia, dan menikahinya seketika itu juga."
"Mana mungkin? kak Zahwa 'kan akan menikah dengan tunangannya sejak 3 bulan lalu, kita juga sudah dapat undangan pernikahan mereka?"
__ADS_1
Aisya masih tak percaya dengan penjelasan kakak sepupunya itu.
"Aku mencurinya di panggung pernikahan mereka, ha ha ha. Udah ah, aku lapar. Ayo!"
Ezra berdiri dan melipat sajadahnya, dia mengajak ke luar untuk makan pagi.
Aisya masih garuk-garuk kepala.
Zahwa malah meneteskan air matanya, entah apa yang dia pikirkan.
"Kakak? kok nangis? apa kakak di paksa menikah dengan kak Ezra?" selidik Aisya.
"Hey... mana ada wanita yang terpaksa menikah dengan ku? aku ini orang tertampan sedunia tau?"
Zahwa pun tersenyum tipis mendengar candaan Ezra.
"Sombong."
Cetus Aisya.
"Ayo!"
Zahwa pun menggandeng tangan Aisya keluar kamar.
"Kalau begitu, carikan aku kamar baru kak!" pintanya pada Ezra.
Walau bercanda, namun wajahnya terlihat serius.
Zahwa yang merasa tidak mengenal tabiat Ezra hanya diam, dia takut salah bicara.
"Lihatlah Kak! suami kakak ini kejam sekali, mengapa Kakak mau menikahinya? kalau aku mah ogah menikah sama lelaki yang tidak ada sifat kasian sama wanita. Walaupun tampannya melebihi Nabi yusuf sekali pun, aku nggak bekal mau," sahut Aisya.
"Mana mungkin kau menolak, seandainya aku bukan Kakakmu, sudah lama kau pengen di nikahi olehku 'kan? ngaku deeeh!"
"Pede amat sih Kak."
Sepanjang jalan, hanya suara Ezra dan Aisya yang terdengar, sementara suara Zahwa benar benar tidak terdengar bak di telan bumi.
Tak terasa mereka sudah berada di tempat makan berlogo halal.
Mereka memesan makanan yang menurut mereka enak di lidah masing masing.
***
Di rumah Fathir, saat makan pagi.
"Sebenarnya Ezra membawa Zahwa ke mana sih Rangga? kamu juga ngilang begitu saja, malam sekali baru datang. Aku sangat khawatir," ucap Shaina.
__ADS_1
"Dia berlibur sekalian bulan madu Ma, tenang saja, mereka aman kok. Oh iya, Yola dan suaminya mana? kok nggak kelihatan?"
"Belum keluar kamar, coba kamu panggil Kak ipar mu itu untuk sarapan!" perintah Shaina.
"Heh kakak ipar...."
Rangga seperti mengejek kesel.
"Rangga, kamu nggak boleh begitu, walau bagaimana pun, dia tetap kakak ipar mu lho!"
nasehat Shaina.
"Iya Ma, biar aku panggil dulu."
Tap
Tap
Tap
Tok
Baru sekali ketukan tangan Rangga mengetuk pintu Yola, namun terhenti saat mendengar pertengkaran di dalam sana.
"Kau wanita mur*h*n, kalau seandainya aku tau kau yang akan di nikahkan denganku, tentu saja aku akan kabur ke Luar Negeri, dari pada harus menikahi wanita sepertimu Yola!"
Bentak Bima.
"Aku juga tidak tau kalau bekal di nikahkan denganmu, kalau bukan karena bayi ini, aku juga akan kabur saat akan ijab kabul itu baj*ng*n."
Plak plak plak
T*mp*ran mendarat di pipi mulus Yola.
"Aku akan pulang, jangan mencari ku, setelah anak itu lahir, kita akan bercer*i, mengerti!"
Ceklek
Rangga kaget saat Bima membuka pintu.
"Kau nguping? dasar tak beradab," cetus Bima.
"Aku ingin mengajak kalian makan, bukan salahku kalau aku mendengar percakapan kalian," ucap Rangga.
"Ada apa ribut ribut?"
Fathir Baru keluar dari kamarnya dengan dandanan sudah rapi.
__ADS_1
BERSAMBUNG....