
"Bima, tolong lepaskan aku! Bim!"
Zahwa berteriak memanggil Bima, namun Bima tidak menoleh sedikit pun.
"Bimaaaaaa, huaaaaa," Zahwa menangis putus asa, namun kemudian dia Masuk kamar mandi dan keluar dengan wajah basah oleh air wudhu, dia sholat 2 rakaat. Sementara Bima, diam-diam dia bersandar di dinding kamar Zahwa dengan memegangi dadanya yang terasa sesak.
"Zahwa, maafkan aku, maafkan aku," batinnya.
Diam-diam dia pun mengintip ke dalam kamar, hatinya semakin sakit saat melihat sujud panjang Zahwa di atas sajadahnya.
Saat Zahwa salam, Bima pin kembali bersembunyi. Zahwa melipat sajadahnya dan kembali mendekati pintu.
"Bimaaaaa, lepaskan aku, aku janji tidak akan menuntut mu, aku janji akan memberikan pekerjaan padamu, aku janji!" teriak Zahwa.
Bima meneteskan air mata.
"Bimaaaa, aku sedang hamil, apakah kau tidak takut kalau Allah yang akan membalaskan ini? bagaiman kalau aku sakit atau gila karena stres, ibu hamil itu tidak boleh stres Bima, ibu hamil itu harus slalu merasa bahagia," teriaknya lagi. Zahwa yakin Bima mendengarnya.
"Tolooong!"
Zahwa berteriak sekuat tenaga. Namun ternyata rumah ini sangat terpencil dari orang kampung, jauh dari keramaian.
"Bimaaaa, aku ingin makan Sop, bakso, buah, aku lagi pengen Bimaaaa hiks hiks hiks,"
Zahwa merasa sangat sedih, di masa dia pengen di manja-manja dengan makanan yang lezat, dia malah terkurung di sebuah rumah dan hidup sendirian. Zahwa terus menangis hingga akhirnya tertidur di depan pintu depan teralis besi.
***
"Bergerak, ayo berangkat! pemuda yang menghubungi Bima telah di tangkap oleh intel," ucap Fathir. Mendengar itu Ezra langsung bangun dan berdiri menuju teras.
"Bang, biar aku yang nyetir," ucap Rangga, dia pun menyambar kunci Ezra, dia khawatir kakak iparnya itu lagi galau dan melamun saat menyetir karena kehilangan istrinya yang sedang hamil.
Mereka semua menuju lokasi penyekapan Zahwa.
Zahwa terbangun saat bau harum Sop, bakso dan buah masuk lewat lobang hidungnya, saat dia terbangun, makanan itu sudah berjejer di depan matanya.
"Hmmm, wangi sekali, terimakasih Bima, tapi tolong lepaskan aku," ucapnya lagi.
Tanpa babibu, Zahwa pun menyantap makanan yang ada didepannya, sangat nikmat, namun entah mengapa air matanya pun menetes.
"Zahwa, apa kau memerlukan sesuatu lagi?" ucap Bima yang datang tiba-tiba.
"Ya, aku ingin kau melepaskan ku Bim, aku akan memaafkan mu kalau kau melepaskan ku sekarang," ucap Zahwa.
"Maaf, aku tidak bisa," ucap Bima, namun dengan nada ragu.
"Bim, dulu kita sangat baik, kita tidak ada masalah, hanya karena kau dan Yola berpacaran, jadi aku tidak bisa menerima mu Bim, Linda___ dia sebentar lagi akan melahirkan anakmu, dia sendirian Bim, kau harus menatap masa depan, sebentar lagi kau akan mempunyai anak, kata Linda dia seorang anak perempuan, dia sudah memeriksakannya," ucap Zahwa terus membujuk dan mempengaruhi Bima.
"Apa kau sering menemui Linda?" tanya Bima berbinar.
__ADS_1
"Yang membiayai hidupnya selama di kota ini adalah Rangga adikku, dia kasihan melihat wanita hamil itu kalau harus bekerja, kami juga rutin membawanya berobat ke bidan untuk menjaga kandungannya agar terus sehat," ucap Zahwa lagi.
Kini Bima terlihat sangat serius menatap wajah Zahwa, kini pikirannya mulai terusik dan melemah.
"Lepaskan aku! Aku akan membantumu," ucap Zahwa lagi.
Menyerah lah? Rumah ini sudah di kepung!
Teriak polisi di depan rumah. Bima lin kaget dan tak mengira, malau semuanya berakhir begitu saja.
"Bima, menyerah lah, aku akan memaafkan mu," ucap Zahwa lagi.
Bima membuka teralis kamar, dan mendorong tubuh Zahwa kedalam.
"Mau apa kau?"
Bima kembali mengunci pintu teralis dan berlari ke arah kamar mandi.
"Sssssst, kalau kau memaafkan ku, berarti kau akan diam dan pura-pura tidak tau," ucapnya sambil masuk ke kamar mandi.
"Toloooong," Zahwa berteriak sekuat tenaga.
Bruk.
Pintu di dobrak paksa. Ezra yang lebih dulu masuk berlari mencari arah suara.
"Sayang, Zahwa, kau tidak apa-apa?" Ezra langsung memeluk Zahwa yang masih dalam pintu teralis yang masih terkunci.
Zahwa juga histeris dan memeluki suaminya erat.
"Maaf Tuan, menyingkir sebentar, biar kuncinya kita pukul dengan palu biar bisa terbuka," ucap petugas yang membawa alat lengkap.
Ezra dan juga Zahwa pun menyingkir dan memberi jarak dari pintu agar polisi bisa mendobrak pintu.
Brukh
Kunci terlepas, Ezra segera membuka pintu dan membawa Zahwa dalam pelukannya cukup erat.
Sementara Bima yang ada di dalam kamar mandi pun harap-harap cemas, apakah Zahwa akan melindunginya atau Zahwa akan melaporkannya pada polisi.
"Apa kau terluka? Mana yang sakit?"
Ezra meraba-raba tubuh istrinya dan membolak-balikkanya.
"Tidak papa Bang, aku baik-baik saja, terima kasih telah mencari ku,"
Ayo kita pulang, Pak, aku ingin istriku istirahat dulu, nanti malam baru ke kantor polisi," pinta Ezra.
"Maaf Pa, tidak bisa! kita harus menginterogasinya, dan mencari penculiknya terlebih dahulu," ucap petugas
__ADS_1
"Pak, itu bisa di selesaikan nanti, istriku hampir 10 hari menghilang, dan dia pasti kurang istirahat, aku mohon," ucap Ezra.
"Maaf pa, ini tidak akan lama, tolong mengertilah," ucap petugas lagi.
"Tidak! Aku bilang tidak ya tidak bisa, kalau begitu, kami tidak akan menuntut apa-apa, kami mencabut laporan itu," ucap Ezra marah.
"Berarti anda mempermainkan hukum pa!"
"Aaaah, persetan dengan hukum, yang penting istriku sehat dan butuh istirahat," ucap Ezra sambil menggandeng istrinya.
"Oa maaf," petugas meraih tangan Zahwa.
"Lepaskan! Jangan sentuh istriku!" bentak Ezra marah.
"Pak, biarkan dia pulang, hari ini biar aku yang ke kantor polisi dan memberi keterangan, nanti malam barulah anakku menyusul, benar, dia perlu istirahat, 10hari ini mungkin saja dia kurang tidur, dia terlihat lelah," ucap Fathir membujuk polisi.
"Baiklah pak,"
Mereka pun pergi ke kantor polisi, sementara Ezra dan Zahwa masuk dalam mobil berbeda.
Di dalam kamar mandi.
"Hups, terimakasih Zahwa, kau menepati janjimu, aku harus minta maaf padanya, mengaoa aku begitu lemah saat menatap mata Zahwa, wanita itu sangat lembut dan mulia, mengapa aku sampai mencelakainya. Tuhaaan, maafkan aku.
Bruk
Bugh bugh bugh.
Bima kaget saat tiba-tiba pintu di buka dan pukulan membabi buta mendarat di wajah dan sekujur tubuhnya.
Ya, ternyata Ezra kembali saat di perjalanan Zahwa menceritakan di detik terakhir, bagaimana Bima memberikan makanan yang sangat di ingini Zahwa. Namun Zahwa tidak menyangka, kalau Ezra berbalik mendadak dan kembali ke rumah itu.
"Kurang ajar kau,"
Bugh bugh
Kini Bima babak belur.
"Bang, sudah, sudah Bang, tolong,"
"Aduuuh,"
Zahwa memegangi perutnya yang terasa sakit karena terlalu kuat menarik-narik tangan Ezra menyuruhnya untuk berhenti memukuli Bima.
"Sayang, ada apa?"
Zahwa terduduk di lantai, Bima yang melihay oun ikut panik.
"Ayo! Biar kita bawa ke rumah sakit," ajak Bima.
__ADS_1
Ezra pun mengangkat Zahwa dan masuk ke dalam mobil, sementara Bima masuk dalam ruang setir. Menghidupkan mesin dan meluncur menuju Rumah sakit.
BERSAMBUNG...