
Shaina terus menemani Besannya sambil memijit-mijit kakinya. Zila juga terlihat meletakkan aroma terapy di hidung Mita untuk membantu siuman kakaknya.
"Ya Allah, Mbak Shaina, bagaimana ini? Udah lebih 1 jam kakak belum bangun juga."
Ucap Zila yang merasa khawatir dengan kakaknya.
"Aku juga lagi bingung, bagaimana nasib Ezra dan juga Zahwa ku. Hiks hiks hiks."
Shaina kembali menangis.
"Ooooooh, pusing..."
Mita terlihat mulai membuka matanya.
"Kakak! Kau sudah bangun? Syukurlah," Kata Zila senang.
Zila pun mengambilkan air dan memberikannya pada Mita.
"Di mana ini?" tanya Mita.
"Kita ada di Rumah Sakit Kak!" jawab Zila.
Sementara Shaina hanya diam manahan tangisnya.
"Oh iya! di mana Ezra dan menantuku?"
Mita pun duduk di sisi ranjang.
"Mereka masih di ruangan operasi," Jawab Shaina.
"Ya Allah, lindungi mereka, oh iya, bagaimana dengan korban lainnya?"
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Tiba-tiba Hanan Adik ipar Mita datang.
"Kak, polisi sudah menemukan sebab kecelakaan itu. Tapi tolong kaka tenang dulu."
Hanan pun duduk di kursi ruangan itu.
"Bagaimana dia bisa jatuh, setahu ku Ezra tidak pernah mengemudikan mobilnya ngebut, apalagi di jembatan," Mita penasaran.
__ADS_1
"Ada mobil lain di temukan di sungai itu, beserta tas pemiliknya, namun orang atau pun mayatnya tidak di temukan. Dalam tas tersebut ada identitas diri dengan nama Zaira Maharani."
"Zaira? Zaira maksudmu? Apakah dia mantan Ezra?"
Mita kaget dan setengah berdiri mendengar nama Zaira di sebut.
"Iya kak, kemungkinan itu Zaira mantan Ezra."
"Astagfirullah, senekat itukah dia? Bagaimana dia tidak di temukan?"
"Kemungkinan jasadnya hanyut terbawa arus yang deras, karena bekas terjadi hujan lebat hari ini."
"Zaira... Astagfirullah."
Mita atau pun Shaina terus beristigfar. Mereka tak menyangka, gadis itu nekat menabrak Mobil yang di tumpangi Ezra dan Zahwa. Mungkin Zaira sudah putus asa dan ingin mengakhiri hidup mereka bertiga. Itu yang ada di pikiran Mita.
...***...
1 hari telah berlalu.
Tap tap tap
"Maaf...keluarga Ezra 1 orang, mari ikut saya!"
"Saya," ucap Mita.
"Apa Kakak tidak papa? biar saya saja Kak! Pinta Zila.
"Aku kuat, aku harus kuat."
Mita pun berjalan mengiringi Suster.
"Mari Nyonya!"
Suster pun menunjukan jalan untuk Mita.
Cklek
Ruangan operasi terbuka.
"Ezra, Anakku."
Mita mendapati anaknya sudah membuka mata namun terlihat lemah.
__ADS_1
"Ummi... Ummi.."
Ezra dan Mita saling berpelukan, Mita kembali meneteskan air matanya.
"Mi, di mana Zahwa ku Mi?"
Ezra melepaskan pelukannya dan memindai ruangan operasi.
"Dia masih di rawat, baru operasi, kita berdo'a saja ya!"
"Alhamdulillah, aku sangat takut Mi, dalam tidur ku, aku melihat Zahwa menyebrangi jembatan, dia tidak mau menoleh saat ku panggil, kemudian dia terhenti di tengah jembatan itu, namun saat ku panggil dia tetap diam Mi, kemudian aku terbangun. Aku sangat takut kehilangan dia. Aku ingin melihatnya sekarang Mi!"
Ezra memcoba bangun.
"Au..."
Saat dia menjulurkan kakinya, dia terkejut, karena kakinya tak nampak sebelah.
"Ummi!?"
Ezra menatap Mita ingin meminta jawaban dari tatapan matanya.
"Sayang."
Mita kembali memeluk Ezra ke pelukannya. Mita menangis.
"Bagaimana dengan Zahwa Mi?"
Ezra ingin tau kondisi fisik Zahwa, apakah dia juga mengalami kecacatan? Mungkin itu yang ingin Ezra ketahui.
Mita hanya menggeleng, sambil berkata.
"Zahwa baik-baik saja, hanya saja dia belum bangun nak."
"Mi...bagaimana nanti kalau Zahwa bangun, dan melihat keadaanku begini?"
Kaki Ezra terpaksa di amputasi karena hancur. Ezra khawatir, kalau kelak Zahwa tidak bisa menerimanya.
"Tidak papa Sayang, kalau dia menyukaimu karena Allah, dia tidak akan menilai mu dari fisikmu."
Mita kembali memeluk anaknya, sambil meneteskan air mata.
Sebelumnya Mita sudah di beritahu sebelum amputasi, dan memberikan izin demi kebaikan Ezra.
__ADS_1
...BERSAMBUNG......