Mendadak Jodoh

Mendadak Jodoh
Terluka Parah


__ADS_3

Zahwa pin di baringkan di lantai kepalanya di letakkan di paha Ezra, dia pingsan saat mendengar Fathir ayahnya kecelakaan.


"Mama, sebaiknya berangkat saja sama Rangga, nanti kalau Zahwa siuman kami akan menyusul," ucap Ezra.


"Apakah Zahwa tidak apa-apa?" tanya Shaina khawatir.


"Tidak apa-apa Ma, dia hanya kaget, kalian duluan saja,"


"Ayo Ma!" ajak Rangga.


"Baiklah, tolong jaga Zahwa ku ya!" pinta Shaina.


Rangga dan Shaina pun berangkat meninggalkan rumah menuju Rumah sakit yang ada di pinggiran kota, karena saat kecelakaan mereka masih berada di jalan menuju kota.


Zahwa belum siuman, sementara 3 tamu Zahwa sedang asyik makan dengan lahapnya.


"Nak, sudah, nanti habis," ucap sang ibu.


"Enak ma, kenapa kita tidak pernah beli makanan begini, sangat enak Ma," ucap anak nya.


"Nak, sudah ayo!"


"Huaaaaaa," sang anak menangis saat sang mama menghentikan makan dengan paksa.


"Bu, biarkan saja dia makan sampai habis, karena semua yang ada di meja ini sudah diberikan Non Zahwa pada kalian," ucap Bibi.


"Iya Bu," ucap Mamanya anak itu.


Akhirnya mereka melanjutkan makannya. Sang ibu oun terlihat tersenyum, mungkin ini kali pertama mereka makan enak, setelah perekonomian mempermainkan hidup mereka.


"Uaaaaaaah, Bang... Apa yang ku dengar tadi?" Zahwa pelan-pelan membuka matanya.


"Sayang, ini minum dulu," Ezra sudah menyiapkan air untuk minum Zahwa saat terbangun. Zahwa minum beberapa tegukan.


"Bang, ayo kita temui Papa! Ajak Zahwa.


"Kamu istirahat saja, Mama sama Rangga sudah ke Rumah sakit untuk memeriksa." ucap Ezra.


"Tidak Bang, aku ingin memeriksanya sendiri, tolong Bang, antarkan aku!" rengek Ezra.


"Tapi bagaimana kalau nanti kamu pingsan lagi?"


Ezra membelai kepala Zahwa lembut, dia membujuk istrinya agar tidak pergi menjenguk Papanya.


"Tapi Bang, aku khawatir, aku merasa takut," ucap Zahwa lagi.


"Baiklah, kita akan menelpon mama dulu.


Ezra pun menelpon Shaina yang sudah berada di rumah sakit. Fathir juga Saila sedang koma, sedang Huda dan Handono terluka parah, sedang Wulan terlihat baik-baik saja, mungkin malaikat keberuntungan apakah uang sedang melindunginya.


"Sayang, kita akan ke Rumah sakit, tapi sebentar saja ya, Papa sedang tidak sadarkan diri," ucap Ezra.


"Papa, hiks hiks hiks,"

__ADS_1


Zahwa berdiri pelan-pelan sambil memegangi perutnya yang mulai membesar.


Akhirnya mereka pun pergi menuju Rumah sakit.


Sementara di sebuah rumah kontrakkan kecil. Tampak Zaira sedang asik duduk dan menikmati teh hangat. Dia pun membuka madsos dan lainnya.


"Mama... Mama.. Lihat, Fathir kecelakaan Ma, mampus dia, ha ha ha," tawa Zaira melengking.


"Mana?" Mamanya pun ikut menengok.


"Mampus, karma ini namanya, rasain, kalian terlalu sombong dan idak memberi kami kesempatan, hingga anakku bisa keluar dengan membayar denda," ucapnya.


"Ma... Apa kita akan beraksi?" tanya Zaira.


"Iya ya, apa kita akan menyusup? Baiknya kita cari orang untuk itu."


"Kita akan menyerangnya lewat cara lain, biar keluarnya tau rasa," ucap Zaira


"Maksudny?" ibunya tidak mengerti.


"Hmmm, mama tunggu saja!"


***


"Beng, apa yang terjadi? hingga wajahmu hancur begini?" Shaina tampak membelai tangan suaminya, sementara wajahnya tampak hancur tak bisa di kenali.


"Ma, aku mau mencari nasi dulu untuk makan malam," ucap Rangga.


"Kau makan saja di sana! mama tidak selera, hidup mama seakan terhenti di sini, mama tidak bisa kalau harus kehilangan Papamu Nak,"


"Aku berangkat dulu, mama juga harus sehat, bagaimana kalau Papa bangun mama sakit, dia pasti akan memarahiku nanti karena tidak menjaga Mama dengan baik," ucap Rangga.


Rangga pun pergi meninggalkan ruangan Papanya di rawat.


Rangga berjalan menuju kantin yang tak begitu jauh darii Rumah sakit.


"Lihat! Keluarga pengusaha Fathir dan anaknya kecelakaan dan sekarang Koma," ucap salah satu pengunjung.


Ternyata berita kecelakaan Fathir sudah tersebar melalui medsos.


"Mana? ah apa benar berita ini? apa benar Bos Fathir itu seorang pembunuh bayaran dulunya, dia itu orang yang sangat baik, walau dia sering emosi kalau dia marah, tapi dia sangat dermawan kok,"


"Kalau ada beritanya, pasti ada asal usulnya 'kan? di sini juga dia di katakan pernah memperkosa orang hingga hamil, dan orang tua wanita itu meninggal karena sakit hati, di kucilkan oleh tetangga-tetangganya.


"Waaah sadis banget kalau begitu masa lalu Fathir ya?"


"Maaf Tuan-tuan, masa lalu orang itu berbeda-beda, jangan kita mengaitkan hukum yang terjadi sekarang dengan yang dulu, karena itu tidak ada kaitannya. Seseorang boleh punya masa lalu buruk, namun mungkin saja dia telah taubat," ucap Rangga yang merasa panas dengan perkataan mereka, namun dia coba menahannya.


"Kau siapa?" tanya salah satu dari mereka.


"Aku hanya orang yang kebetulan mendengar kalian bicara. maaf ya,"


Rangga pun pergi dan memesan makanan, dan membayar makan mereka yang menggosip itu.

__ADS_1


"Bu berapa makanan kami?" ucap mereka yang makan.


"Sudah di bayar semuanya oleh tuan tampan tadi," ucap penjaga kantin.


"Hah, siapa?" tanya mereka.


"Pemuda yang berbicara dengan kalian tadi, teman kalian 'kan?" tanya Bibi, dia hanya melihat saat Rangga mendekati mereka, namun tidak mendengar perkataan Rangga saat mereka menggosip tadi.


"Oooh, baiklah, terima kasih Bi,"


"Siapa pemuda tadi ya? Apa keluarga Bos Fathir? Coba kita googling dulu,"


Salah satu pemuda yang penasaran pun membuka HPnya dan mulai mencari info tentang keluarga Fathir dan anak-anaknya.


"Wow, lihat!"


Merek semua terpana saat Fathir dan keluarganya berfoto bersama.


"Ternyata dia anak sambung Bos Fathir, dia juga terkenal dermawan seperti ayahnya, ayahnya meninggal karena mengidap Alzeimer,"


"Keren sekali keluarga ini, benar kata dia tadi, kita boleh punya masa lalu, namun ketika kita taubat, tentu itu akan lebih baik dari pada kita yang tak punya masa lalu namun sering memojokkan orang dengan masa lalunya."


"Iya ya,"


***


"Ma, ayo makan! ini nasi special buat mama," bujuk Rangga sambil menyodorkan nasi ke mulut Mamanya.


"Kamu makan saja, aku masih belum lapar," ucapnya sayu.


"Aku tidak akan makan, kalau Mama tidak makan," sahut Rangga.


"Rangga, aku merasa tidak bisa meneguk apa-apa, air saja terasa sakit saat melewati tenggorokanku."


"Ma, begitu juga aku, kalau Mama tidak makan, sampai kapan pun aku juga tidak akan makan, biar kita sakit sama-sama dan biarkan kita pun mati sama-sama, biar aku bisa bertemu ayah Hendra," ucap Rangga, yang membuat Shaina kaget dengan perkataan anaknya itu.


"Rangga, mengapa ngomong begitu? Baikkah, sini, biar Mama makan sendri."


Shaina pun mengambil nasi di tangan Rangga dan mulai memasukkannya ke mulutnya, dan mengunyahnya pelan-pelan.


"Assalamualaikum,"


Zahwa dan Ezra datang.


"Waalaikumsalam, Sayang, kok ke mari juga? Kamu istirahat saja di rumah,"


Zahwa mendekati Papanya.


"Papa..."


Bruk


Tiba-tiba Zahwa kembali terjatuh saat melihat wajah Papanya yang hancur walau berbalut prban, namun masih terlihat di sela+sela matanya dan hidungnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2