
"Aku bersedia menikahi Diba," sahut Rangga mantap dan tak ragu.
"Baiklah, Diba, kau panggil orangtuamu, dan aku akan menyiapkan penghulu dan keperluan lainnya," ucap Ezra.
"Heh? Aku? Tapi?___"
"Apa kau menolak ku?" tanya Rangga sambil menatap wajah polos Diba.
"Hhhhh," Diba hanya mampu menggeleng dan menggumam kecil.
"Ayo telepon orangtuamu! Apa aku perlu menelepon mereka?" tanya Rangga lagi.
"Ti__tidak perlu, aku akan menelepon mereka,"
Diba pun mengambil Hp dan segera menghubungi kran tuanya.
***
"Hello Nduk, ada apa?" suara telepon ibu Diba di kampung.
"Bu, ibu dan Ayah bisa ke kota sekarang? Sangat penting Bu!" ucap Diba di telepon.
"Ada apa Nduk, Ibu belum Panen sayur Nduk, belum cukul uang buat nengokin kamu," ucap sang ibu.
"Nanti Diba yang bayarin, Ibu___"
"Hello Bu, aku Rangga, kami akan menikah hari ini juga, jadi tolong ibu ke kita hari ini juga, semua biaya ibu, aku yabg tanggung," Tiba tiba Rangga menyambar Ho Diba, karena merasa Diba terlalu lama ngomongnya.,Diba kan anak pondokan juga, dia sangat santun sama orang tua.
"Apa? Nikah, apakah kalian__?"
"Tidak Bu, kami tidak pernah apa apain, bahkan kami belum pernah pacaran," sahut Rangga yang sudah paham, bahwa orang tua Diba menganggap mereka berbuat salah.
"Oooh, baiklah, kami segera berangkat, tali mungkin agak lama, karena harus gonta ganti taksi," ucapnya.
"Bu, ambil travel saja, nanti aku yang bayar semuanya setelah sampai sini, aku minta no telepon pamannya, biar aku kasih lokasi," ucap Rangga.
"Tapi... Travel mahal Nak," jawab ibu Diba.
"Tak masalah Bu, cepat ya bu, terima kasih,"
Setelah salam Rangga pun menutup teleponnya.
"Maaf, keluarga Nyonya Shaina," panggil perawat.
"Iya Mas,"
"Keadaan Nyonya semakin kritis, kami mohon do'a kalian, mudahan ada jalan untuk Nyonya Shaina, mudahan ada ke ajaiban,"
"Huaaaaa..."
Zahwa langsung menangis histeris. Dia pun terduduk di lantai, Ezra langsung merangkulnya.
"Sayang, sabar Hwa, lihatlah Arsy pun ikut menangis, tiba-tiba Arsy menangis, seakan merasakan kepedihan sang Umma.
"Baaaang... Mama Bang," rengek nya.
"Iya Sayang,"
Hari semakin sore orang gua Diba lin sudah sampai di rumah sakit.
"Diba Sayang, apa yabg terjadi Nduk?" Ibu Diba yang terlihat sudah keriput pun memeluk tubuh Diba dan menanyainya.
__ADS_1
"Ibu, sudah datang? Ayah, tolong nikahkan aku dengan Ia," Diba menunjuk ke arah Rangga yang sok Coll dan mempesona.
"Dia? Kau akan menikah dengan Dia?" tanya Ibunya tak percaya.
"Maaf, aku mau pulang Bu," ucap Sopir yang mengantar orang tua Diba.
"Oh iya, mari!"
Ezra pun keluar sebentar dan menanyakan perihal ongkos.
"Semuanya 700.000 Mas," ucap Sopir yang kira kira seusia Ezra.
"Ini, ambilah,"" Rangga menyerahkan uang dan pamit untuk kembali masuk.
"Terima kasih Mas,"
Sopir pun menghitung uang pemberian Ezra.
"1.500.000, maasyaa Allah," gumamnya sangat senang.
Sementara di dalam ruangan.
"Karena semuanya sudah siap mari kita laksanakan pernikahan dadakan ini!" ajak Ezra.
Pa penghulu pun menuntun Rangga untuk melakukan pernikahan.
...
...
...
"Saaaah,"
Seorang lerawat mendekati mereka.
"Maaf, Nyonya Shaina telah kembali padaNya," ucap perawat.
Bruk
Zahwa langsung pingsan. Yola segera mendekati ranjang yang ada di ujung, sementara Rangga juga berdiri dan berjalan mendekati sang Mama.
"Mama, aku berjanji, akan menjaga Kak Zahwa dan Kak Yola, sampai akhir hayat ku," ucapnya sambil menggenggam tangan Shaina erat.
Lengkap sudah sakit yang bertubi tubi di terima Zahwa, mampukah dia bertahan kali ini.
"Aku akan mengurus semuanya," ucap Ezra,
"Nduk, sebenarnya apakah ini yang membuat kalian mendadak menikah?" tanya Ibu Diba.
"Iya Bu, apa ibu sudah makan?" tanya Diba.
"Belum Nduk, nanti saja, nggak papa, Ibu sudah biasa begini 'kan? Dulu juga kita sering puasa karena tidak ada beras untuk di masak," ucap ibunya.
Rangga yang mendengar itu pun kaget dan menatap Diba, Diba yang di tatap menjadi tidak enak hati.
"Baik Bu, nanti sepulang dari sini, kita beli nasi bungkus aja," ucap Diba.
Rangga pun membuka aplikasi belanja makanan, dan minta di kirim ke rumah untuk makan malam mereka.
***
__ADS_1
Zaira tampak duduk di depan cerminnya, dia tatap wajah cantiknya dan berdecak kagum sendiri.
"Tak sia sia aku Oplas, aku tak menyesal kalau begini hasilnya," ucapnya.
"Uweeek uweeek," ketika suara Arsya mengagetkan lamunannya.
"Mama... Lucky tu ma, berisik," teriaknya memanggil mamanya.
"Kamu dong yang gendong, aku mau mandi ini," sahut sang Mama.
"Aku lagi sibuk berdandan Ma, sebentar lagi Mas Bram datang, aku tidak mau Dia melihat wajahku yabg berantakan," sahutnya.
"Kalau begitu, kita serahkan saja Arsya pada Zahwa, atau kita letakin di panti asuhan saja, biar kita bisa tenang," sahut sang Mama,
"Nggak Ma, kita harus membalaskan dendam kita pada keluarga Ezra, sampai kapanpun aku nggak akan pernah memaafkan mereka, Ma," ucapnya lagi.
"Kalau begitu kau urus tu Lucky, aku cape hari ini, Dia Rewel seharian," sahut sang Mama.
"Aduuuh, aku siap siap nungguin Mas Bram Ma, nanti kalau Dia tidak suka lagi sama aku gimana?" ucap Zaira lagi.
"Alaaaah, kebanyakan alasan,"
Arsya yang di ganti namanya jadi lucky menangis kejer, hingga akhirnya Mama Zaira terpaksa menggendongnya.
"Cup cup Sayang... jangan nangis ya!" bujuk Mama Zaira sambil memberikan susu ke mulut Lucky.
Ceklek
Bram datang dan langsung duduk di sofa.
"Apa kalian kenal perusahaan Shinwa?" tanya Bram tiba tiba.
"Shinwa? aku pernah dengar tapi lupa," ucap Zaira.
"Lihatlah! pemilik perusahaan itu meninggal, karena sakit mendadak, katanya, Dia slalu mengenang cucunya yang hilang," ucap Bram sambil menunjukkan foto Shaina pada Zahwa.
"Mama Zahwa? Dia meninggal?" tanya Zaira kaget.
"Kau kenal?" tanya Bram.
"Oh itu, tentu saja kenal, Mereka kan keluarga kaya raya," sahut Zaira agak gugup.
"Katanya Dia kehilangan cucunya saat di Amerika," ucap Bram.
"Ooh, aku tidak...tau soal itu," jawabnya sedikit tergagap.
"Mengapa dia tampak gugup, atau jangan jangan?" Bram menebak nebak.
"Ayo kita makan malam! Aku sudah lapar nih," ucap Zaira mengalihkan perhatian.
"Baiklah, bagaimana dengan Mama?",tanya Bram.
"Biar di bungkus saja, aku tidak ikut, Arsya lagi rewel ini," sahut sang mama.
"Baiklah,"
Bram dan Zaira pun makan malam bersama, mereka menuju restauran mewah yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka tinggal. Sesampainya di sana, mereka memesan makanan Halal. Sebelum makanan datang, Bram tampak sibuk dengan Hpnya.
"Apa ini? Zaira, kemungkinan penculik bayi keluarga Fathir? namanya sama dengan istriku, tapi wajahnya berbeda, tapi??"
Bram pun menatap istrinya yang sedang asyik memakan kentang goreng kesukaannya.
__ADS_1
Akankah Bram mengetahui orangtua dari bayi istrinya? Apakah Bram akan membantu mencari keluarga Arsya?
BERSAMBUNG...