
"Zaira..." Ezra meraih tangan Zaira, ini pertama kalinya Ezra lakukan, Zaira sangat senang dan tersenyum.
"A Ezra?" Dia seakan tak percaya dengan apa yang di lakukan Ezra kali ini. Dia tatap wajah tampan kekasihnya itu sangat lekat.
"Maaf, sebelumnya aku sungguh minta maaf."
Ezra menghentikan kata katanya, dia tatap wajah kekasihnya itu lekat.
"A Ezra kenapa sih, Aa nggak pernah salah kok, bahkan kalau pun salah, Aku sudah memaafkannya sebelum Aa minta maaf." Ucap Zaira.
"Bukan begitu Ra, mungkin, aku tidak bisa sejalan dengan kamu, mungkin aku banyak kekurangannya. Dan... aku mohon maaf, dengan sangat berat hati, aku ingin kita jalan sendiri sendiri, kau bebas melakukan apa pun."
"Maksudnya apa ya?" Zaira melepaskan genggaman Ezra kasar. Wajahnya pun tiba tiba berubah.
"Aku berhenti sampai di sini, aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita, seperti yang kau pernah bilang, aku jadul, aku nggak romantis dll."
"A... apa maksud Aa? Apa artinya kita putus?"
Ezra hanya mengangguk.
"Tidak, kau tidak boleh memutuskan ku begitu saja!" Zaira mencengkram pergelangan Ezra merengek dan menangis seketika.
"Maaf, aku tidak sempurna, bukankah kau ingin seperti mereka? Ingin jalan jalan berdua ingin icip icip dan lainnya, maaf aku tidak bisa, assalamualaikum."
Ezra berbalik dan pergi meninggalkan Zaira.
"Hik hik hik." Zaira terduduk dan menangis sekuat tenaga.
Ezra terus melangkah meninggalkan Zaira tanpa menoleh. Ada perasaan lega yang hadir di dada Ezra.
"Bang Ezra!"
Tiba tiba Rangga memanggil Ezra. Mereka memang temenen sejak lama, dan hanya Rangga yang sering memanggilnya dengan sebutan Bang.
"Oh Rangga? Kau kemari ada apa? Bukankah ini bukan kampusmu?"
"Aku ingin menjemput kak Zahwa. Bang Ez kenapa kemari? Pasti nyamperin Zaira kan?" Rangga sempat beberapa kali melihat Zaira bersama Ezra di depan kampus.
__ADS_1
"Nggak, kami udah selesai, udah ya aku duluan." Ezra melangkah menuju parkiran namun matanya terpana saat melihat seorang gadis duduk manis di bangku panjang di depan parkiran di depan gedung perpustakaan.
"Zahwa?" Dia berhenti sesaat, dadanya bergemuruh, nafasnya terasa tak beraturan.
Ya Allah apa ini? Dia akan menikah bulan depan, tapi setiap ku menatapnya slalu perasaan seperti ini yang hadir.
Bathin Ezra.
Plak
T*mparan mendarat di pipi Zahwa yang sedang membaca buku, dia terkejut dan spontan menoleh.
"Zaira? Ada apa?" Zahwa mengelus pipinya yang terasa perih.
"Pasti kau, kau kan yang telah merebut Ezra dariku, karena kau, dia memutuskan hubungan denganku!" Zaira kembali menangis dan sekali lagi ingin menamp***r Zahwa.
Hap. Tangan Zaira di tangkap.
"Hentikan!"
"Kau? Kenapa kau membelanya Mas Bim?"
"Karena di calon istriku, kau jangan berani menyentuhnya."
"Calon? Heh, ada berapa banyak calon yang ingin kau nikahi heh? wanita tak berayah ini calon istrimu? Ha ha ha." Zaira tertawa terbahak bahak.
"Hentikan Zaira!"
Akhirnya Ezra pun mendekat.
Zahwa menunduk dan sekali lagi air matanya menetes.
"Dasar wanita ja***ng. Heh."
Zaira ingin mencakar wajah Zahwa. Sedang posisi Bima ada di belakang Zaira saat menangkap tangannya.
Zahwa menunduk.
__ADS_1
Bruk
"Hentikan!"
Dia merasakan sedang di tubruk seseorang. Ternyata Ezra sudah ada di hadapannya dan menghalangi cakaran Zaira.
Ini adalah adegan So sweet ya. Bayangin deh.
Ezra mengahadap Zahwa sambil merentangkan tangannya, sedang Zahwa menunduk dengan Menutup wajahnya dengan ke dua tangannya tiba tiba nempel di dada Ezra.
"Dasar anak ha***m, anak tak bernasab," Ejek Zaira sambil berteriak teriak.
Zahwa terus menunduk, di saat itulah Ezra menatap wanita yang ada di hadapannya dengan hati yang tak karuan, hatinya pun terasa sakit.
Hap
"Ayo kak!"
Tiba tiba Rangga memeluk tubuh Zahwa dan membawanya pergi dari lokasi kejadian.
"Kalian lelaki tak tau diri, kalian membela wanita yang jelas jelas anak di luar nik**h."
Zaira kembali berteriak, semua orang yang ada di sana pun menatapnya dan seakan tak percaya. Zahwa anak yang begitu sholehah itu terlahir dari ibu yang belum menikah.
"Kakak, besok jangan ke kampus kalau aku tidak bisa menemani kakak. Aku akan melaporkan kasus ini ke polisi." ucap Rangga.
"Tidak usah Dek, kakak nggak papa."
"Zahwa..."
Tiba tiba Ezra dan Bima datang bersamaan dan memanggil pun bersamaan.
Mau apa mereka?
Rangga dan Zahwa pun menoleh ke arah suara.
BERSAMBUNG...
__ADS_1