
"Yola belum datang Beng. Coba aku telepon dulu."
Shaina pun mengambil Hpnya yang ada di atas meja dapur.
Dret...
Tak berapa lama, Shaina tampak berbincang dengan Yola dan menyudahi pembicaraannya.
"Bagaimana? di mana anak itu?" tanya Fathir khawatir, karena hari sudah jam 8 malam.
"Dia sama Rangga, lagi cari cemilan." jawab Shaina, lega.
Ternyata Rangga dengan sigap menyusul Yola kembali.
"Oooh, oh iya, ini aku bawakan gorengan tahu isi kesukaanmu."
Shaina pun mengambil oleh oleh dari Fathir dan mengambil piring lalu membuka gorengannya.
"Waaah, kelihatannya enak nih."
Shaina pun mencicipi tahu isi bawaan sang suami.
***
"Yola, ada masalah apa?"
Rangga yang memang mengikuti Yola sejak dari rumah Bima tadi mencoba menanyai Yola yang terlihat menangis.
"Kenapa kau juga ada di sini? apa kau mengikuti ku?" Tanya Yola curiga.
"Untuk apa aku mengikuti mu? kayak nggak ada kerjaan saja."
Jawabnya gengsi.
"Kenapa kebetulan sekali kau ada di sini?"
Yola masih penasaran dengan kedatangan Rangga yang tiba tiba.
"Mana aku tau? ayo pulang! udah malam."
Rangga berdiri meninggalkan Yola.
"Duluan saja, aku bisa pulang sendiri," jawab Yola.
"Tidak bisa, kau harus pulang denganku! bukankah tadi mama mempercayakan mu padaku? ayo!"
Rangga berbalik dan menarik tangan Yola.
__ADS_1
Setttt
Tanpa sengaja, mata Yola menatap wajah tampan adiknya yang memang sangat memlesona.
Ih apaan sih, dia kan adik tiri gue.
Lirih hatinya menyadari kesalahannya.
Rangga menarik tangan Yola sampai ke depan mobil dan membukakan pintu.
"Jangan ge er, ini karena mama menyuruhku menjaga mu, cepat masuk!"
Rangga memang benar benar tidak menyukai Yola, namun karena baktinya kepada sang mama, dia pun rela melakukan apa pun.
"Iya."
Yola pun masuk ke mobil Rangga.
"Jangan konyol, jangan datang lagi ke rumah Bima! bukankah kau pernah ingin di bu**h Bima? lalu mengapa kau malah menemuinya lagi?"
Rangga sebenarnya sangat kesal dengan Yola, namun dia bisa apa?
"Ada hal yang tidak bisa aku jelaskan."
Jawab Yola.
"Turunkan aku di sini!"
Bentak Yola, namun Rangga malah mempercepat laju mobilnya.
"Turunkan aku!"
Teriak Yola.
Ciiiit
Rangga menghentikan mobil mendadak.
"Kau mau turun ?atau kau ingin b*nuh diri di sini lagi?"
Cetus Rangga.
"Bukan urusan mu!"
Yola mencoba membuka pintu, namun terkunci.
"Jangan konyol."
__ADS_1
Rangga kembali melajukan mobilnya.
"Kenapa kau perduli padaku?"
"Aku hanya melaksanakan perintah mama dan kak Zahwa."
"Kak Zahwa? apakah dia menyuruhmu membuntuti ku?"
"Dia sangat mengkhawatirkan mu, walau kau tak tau terima kasih, malah menusuknya dari belakang."
"Aku tidak tau, kalau Bima itu tunangan Zahwa. Aku baru tau saat Zahwa memperlihatkan foto lamaran."
"Lalu kenapa kau tidak memutuskannya setelah kau tau?"
"itu di luar kendaliku, aku tidak bisa."
"Cih karena kau sedang hamil'kan?"
Deg....
Yola kaget, ternyata Rangga sudah tau.
Rangga juga keceplosan karena emosi.
"Kau? sudah mengetahuinya?"
Yola merasa gugup dan gemetar.
"Itu... ah sudahlah,"
"Siapa yang mengetahui ini selain kau?"
Yola balik bertanya.
"Hanya aku," bohong Rangga.
"Jangan bohong! ayo katakan!"
Yola merasa takut pulang ke rumah.
"Hanya aku, apa kau ingin aku mengatakannya pada Papa? agar kau babak bel*r di p*k*li Papa heh?"
"Hups."
Yola menarik nafas dalam.
BERSAMBUNG...
__ADS_1