
Yola terus Memukul-mukul lelaki itu keras. Lelaki itu pun seperti menyangga dengan mengangkat ke dua tangannya.
"Yola! Hentikan! Ada apa ini?" Huda melerai Yola dari lelaki itu.
"Dia Viki, dia telah berselingkuh__ Kau sangat jahat Viki!" teriak Yola ingin mencakar wajah Viki. Sang wanita hanya terdiam berdiri jauh di belakang Viki.
"Dia pacarmu?" tanya Huda.
"Tadinya iya, sekarang, kami putus!" Yola pun berjalan menjauh, dia masuk ke mobil dengan wajah penuh air mata. Huda pun mengiringinya.
"Tunggu Yola! ini salah paham, dia yang terus merayuku, aku ingin menjauhinya, namun dia merengek Yola, Sayang, tunggu dulu!" ucap Viki sambil menggedor-gedor pintu mobil yang telah di kunci dari dalam oleh Yola.
"Ayo jalan!" ajak Yola pada Huda.
Huda pun menghidupkan mesin dan membawa Yola menjauh dari tempat itu.
"Kejam sekali dia padaku, aku sudah berkorban banyak padanya, dia malah selingkuh dan tidur di lostman sama wanita lain." Yola terus menangis.
"Lho! Kenapa kamu yang berkorban? Harusnya yang berkorban itu laki-laki, kenapa malah kamu?" sahut Huda heran.
"Iya ya? Kenapa aku bodoh sekali, aku sudah memberikan semua tabunganku padanya, dia bilang untuk memulai bisnis, tapi sampai saat ini, aku belum pernah di bawa mengunjungi bisnis kecil-kecilan yang dia sebutkan?" ucap Yola kesal.
"Emang berapa tabungan yang kau berikan?" tanya Huda.
"70 juta," sahutnya cemberut.
"70juta? waaaah, kamu benar-benar bego Yol," ucap Huda. Membuat Yola semakin kesal.
"Aaaah, kamu nambahin kekesalanku deeeh, uaaaa," Yola malah menangis nyaring karena sangat kesal.
"Eeee... Eee... Jangan menangis begitu dooong! Nanti malah aku di kira nyakitin kamu, diam ah, udah tua bikin malu saja!" ucap Huda, sambil memelankan laju mobilnya.
Akhirnya Yola terdiam, karena merasa cape hati, dia pun tertidur. Setelah perjalanan 1 jam lebih, mereka sampai di sebuah bangunan sederhana, seperti toko bangunan lengkap, ada 5 pintu dengan jualan berbeda-beda, dari semen, keramik, atap, paku dll.
"Yola! Bangun!" Huda mencolek pindak Yila pelan.
"Uaaaaah, di mana kita?" tanya Yola sambil menggeliat.
"Kita ada di usaha kecilku," ucap Huda.
Yola pun menatap bangunan panjang di depan mereka, toko bangunan Al-Huda.
"Ini usaha uang kau bilang kecil?" tanya Yola kaget.
"Ya, ini usaha dari hasil uang yang di berikan Mama kemaren, hasil dari menjual pabrik Papa," ucapnya malu-malu.
"Ini bukan kecil, ini mah besar," Yola pun bermaksud turun.
"Tunggu! Ada yang ingin aku katakan padamu," ucap Huda.
__ADS_1
"Ada apa? Kok serius amat?" tanya Yola kebingungan.
"Maukah kau menikah denganku?" lamar Huda pada Yola.
Yola terdiam dan terpana sesaat, Dia hanya menatap wajah tampan Huda yang sangat mirip dengan Papanya.
"Apakah hatimu sebaik hati Papa?" tanya Yola kemudian.
"Aku adalah anak Papa Fathir, tentu saja aku sebaik dia," jawab Huda yakin.
"Tapi apakah kita boleh menikah?" tanya Yola ragu.
"Tentu saja boleh! karena kita bukan saudara kandung," ucap Huda lagi.
"Kita harus menanyakannya sama Kak Zahwa, dia pasti tau," ucap Yola lagi, kemudian dia pun turun sambil berjalan menuju bangunan, sepanjang jalan itu dia tersenyum, senyum aneh malu-malu. Sedang Huda menatap Yola dari belakang dan juga tersenyum manis.
"Apakah dia memberi harapan padaku? Apakah dia menerimaku?" Gumam hati Huda.
"Bosss... Selamat datang," ucap para karyawan Toko tersebut saat melihat kedatangan Huda.
"Hmmm," jawabnya sok col.
"Persis," komentar Yola saat melihat adegan Huda di sapa karyawan.
"Nona mau beli apa?" tanya Karyawan yang melihat Yola datang, karena mereka tidak tau kalau Yola datang bersama Huda.
"Mmmm, aku mau lihat-lihat dulu," ucap Yola.
"Baik Nona,"
Huda pun masuk ke dalam ruangan pribadinya, sementara Yola berjalan dari toko ke toko.
"Ayo kerja yang bener, jangan duduk-duduk saja Kau!" gertak seorang wanita yang terlihat seperti Supervisor toko tersebut.
"Maaf Kak, kepalaku pusing, aku lagi sakit, karena tadi malam aku begadang jagain bayiku yang lagi sakit, nggak bisa tidur," ucapnya.
"Alaaaah, alesan saja kamu! ini tu bukan Toko bapak loe, ayo bangun! nggak enak di lihat Bos, nanti di kira aku nggak mengurus anak buah ku lgi, itu Bos baru datang ada di kantor," ucap perempuan itu lagi.
Wanita itu pun berdiri, namun kakinya seakan tidak kuat berdiri menumpu badannya, dan sempoyongan.
"Hey, kalau kau tidak ingin ku pecat, kerja yang benar, itu ada pelanggan," ucap Supervisor itu lagi. Sambil menatap ke arah Yola, sementara Yola yang dari tadi mendengarkan pembicaraan mereka tampak pura-pura memilih-milih bahan.
"Maaf, Nona mencari bahan yang seperti apa?" ucap wanita yang tadi mengeluh sakit.
"Aku mau lihat-lihat saja, mungkin saja suatu hari nanti aku juga bisa jualan bahan kayak gini," ucap Yola bercanda.
"Aduuuh," wanita itu memegangi kepalanya yang mungkin terasa sakit sekali.
Yola pun menangkap tubuh wanita yang hampir jatuh itu.
__ADS_1
"Baiknya Nona istirahat saja kalau sakit," ucap Yola.
"Hey, kamu ngapain duduk?" Supervisor judes itu datang lagi dan memarahi karyawannya.
"Mbak, kalau dia sakit, baiknya dia istirahat saja, kasian," ucap Yola.
"Kamu boleh istirahat, tapi sekalian kamu nggak usah datang lagi ke mari," ucap Supervisor lagi terlihat jengkel.
"Jangan Kak, bagaimana aku bisa menghidupi anakku yang masih bayi kalau aku di pecat," ucapnya menghiba.
"Itu urusanmu, kenapa sampai suamimu selingkuh dan pergi dengan lelaki lain," ucap Supervisor lagi emosi.
"Hey, mbak, kalau mulut itu di jaga! jangan asal menyalahkan orang, kamu nggak ad hati sama sekali ya?" Yola emosi mendengar atasan itu kasar dan sombong.
"Maaf Mbak, ini urusan kami, perusahaan kami, kalau ada karyawan yang males, perusahaan yang rugi," sahut atasannya lagi.
"Mmm, baiklah, kau ku panggil ke kantor sekarang! sekarang juga kalian berdua ke kantor, aku tunggu!" ucap Yola angkuh, Dia pun berjalan meninggalkan stand keramik dan pergi menuju ruangan Huda yang ada di pintu ruko sebelah.
"Ha? ruangan? apa maksudnya?" tanya atasan itu bingung, sementara karyawan hanya terdiam bingung.
"Mbak Lala, juga sindy, di panggil pa Huda ke ruangannya," ucap karyawan lain.
Mereka pun bergegas menuju ruangan Huda.
Sementara di ruangan.
"Aku menerima lamaran kamu, asal..."
"Asal apa?" tanya Huda gugup dan was-was.
"Asal hari ini aku kau izinkan menjadi Bos kantor, hanya sehari," ucap Yola.
"Hanya itu? Heh, mudah sekali, selamanya lun kau akan ku izinkan, apa benar hanya itu?" tanya Huda tak percaya.
"Mmm," Yola mengangguk.
"Dan... " ucapnya lagi.
"Apa lagi?" Huda agak gugup.
"Apa pun yang ku lakukan pada karyawan mu hari ini, jangan kau tanyakan, jangan kau protes, cukup lihat dan dengarkan," ucap Yola
"Oke,"
Ceklek.
Dua karyawan itu masuk ke ruangan Huda, Yola menarik Huda untuk berdiri, dan menyuruhnya duduk di sofa di pojokan ruangan.
Kedua karyawan kaget saat melihat wajah Yola terlihat dingin yang duduk di kursi Bos Huda.
__ADS_1
Bersambung...