Mendadak Jodoh

Mendadak Jodoh
Di dalam Sangkar Emas


__ADS_3

Setelah di bujuk oleh Fathir, akhirnya Ezra mengalah dan mau menuruti perintah Fathir, untuk menunda transferan uang.


Fathir dan yang lainnya pun pergi ke kantor polisi. Sementara ternyata Bima sangat cerdas, dia mengirim orang untuk memata-matai Fathir dan keluarga lainnya.


"Bos, mereka terlihat ke kantor polisi Bos," seorang mata-mata Bima menelpon Bima, dan melaporkan kejadian yang dia lihat.


"Pantau terus mereka, dan sore ini kau temui aku di tempat kemaren," ucap Bima.


"Baik Bos,"


Ternyata sepintar-pintarnya Bima, lebih pintar lagi Fathir mantan pembunuh bayaran itu bisa memprediksi aap yang akan terjadi apabila mereka keluar dari rumahnya.


2 jam sebelum Fathir pergi ke kantor polisi.


Fathir dan Ezra juga Rangga sedang rapat di kamar Ezra tanpa sepengetahuan yang lainnya.


"Ezra dan Rangga, setelah kita keluar dari rumah hari ini, maka kita pasti akan di mata-matai oleh seseorang, maka sebelum kita keluar dari rumah ini, kita akan menyewa orang untuk memata-matai sekeliling rumah kita, hingga kita berangkat, dan kita harus mempunyai banyak mata-mata, agar tidak di curigai," ucap Fathir.


"Mengapa Papa sangat yakin akan hal itu?" tanya Rangga.


"Hmmm, kau sudah tau pekerjaan Papa dulu 'kan?" tanya Fathir menatap Rangga.


"Trus untuk apa kita punya banyak mata-mata?" tanya Ezra heran.


"Pertama, kita harus tau yang mana orang yang mengikuti kita dari sini, sampai kantor polisi, berarti dia mata-mata kita. Setelah di kantor polisi, kita harus ganti pemain untuk mengikutinya, ke mana pun dia pergi, ke tiga, sampai di tujuan, kita harus mengganti lagi mata-mata yang lain, dan begitu seterusnya," ucap Fathir menjelaskan.


"Oooh, bener juga ya?" Ezra mengangguk-angguk tanda setuju.


***


Dret


Telepon Fathir bergetar.


"Target sudah terlihat, lelaki yang mengikuti bapa dari rumah pemuda berusia antara 27 tahun, berbaju biru, motor ...,"


"Baiklah, mengerti,"


Fathir pun menghubungi mata-mata lainnya untuk mengawasi pemuda yang telah di sebutkan tadi.


Kini mata-mata lain pun mengincar pemuda itu.


Setelah selesai urusan kantor, mereka pun kembali ke rumah.


"Ezra, ayi makan duku Nak!" bujuk Shaina sang mertua pada Ezra, karena mulai pagi tadi Ezra tidak makan sama sekali.


"Nggak Ma, aku rasa nggak sanggup nelen nasi, bagaimana dengan Zahwa, apakah dia di beri nasi, dia sedang hamil ma, kasian dia, heeeeeeeee(menangis)"


"Tapi kalau kamu tidak makan, nanti malah kamu yang sakit, bagaimana kamu bisa mencari Zahwa dan menangkap penjahat itu? malah nanti kamu yang di banting-banting," ucap Shaina lagi.

__ADS_1


Ezra masih menangis pelan.


Sebenarnya Shaina pun belum makan sejak pagi, begitu juga Rangga.


"Ayo Rangga ajak Ezra ke dapur, biar aku ambilkan nasi," titah Shaina seraya berjalan ke dapur dan mengambilkan nasi, juga membuatkan teh panas.


"Bang, ayo! kita makan dulu, biar kita kuat untuk grebek penjahatnya."


" Kamu duluan saja!" jawabnya


"Nggak, aku mau makan sama abang."


Rangga menarik tangan Ezra hingga berdiri dan berjalan terpaksa mendekati dapur.


Yola yang melihat kejadian itu pun merasa prihatin, hatinya merasa iri dengan Ezra yang mencintai istrinya begitu dalam, padahal mereka hanya nikah dadakan, sementara dia yang menikah penuh cinta, namun di campakkan begitu saja.


"Ayo makan!"


Ezra sudah duduk di depan meja makan dan mulai menyuap nasi walau tanpa lauk, lauk ayam opor kesukaannya itu tak di sentuh olehnya. Tatapannya kosong.


"Bang, makan yang banyak, habis ini kita akan berangkat!" ucap Rangga lagi.


"Hmm,"


Air mata Ezra menetes begitu saja. Shaina yang melihat itu oun ikut meneteskan air mata.


"Mama belum makan juga?" Rangga kaget.


"Iya Tuan Muda," jawab Bibi.


"Ayo Ma, ini makan!"


Rangga segera berdiri dan mengambil piring dan nasi.


"Hiks hiks hiks,"


Shaina malah rapuh dan menangis, akhirnya Ezra Rangga dan juga Shaina menangis bersama.


***


"Siapa kau sebenarnya?" tanya Zahwa.


Sebenarnya Zahwa di perlakukan sangat baik dan sopan, dia di beri satu kamar yang ada kamar mandi dan di beri mukena bersih oleh Bima, tangannya pun tidak di ikat, mulutnya tidak di bekap. Setiap Bima menemui Zahwa, jantungnya berdebar keras, hatinya telah jatuh cinta, cinta yang tulus, baru kali ini dia merasakan hal itu, sebelumnya ada puluhan wanita yang sudah di gilir olehnya, namun itu bukan cinta, tapi nafsu saja. Bima slalu menggunakan topeng dan tidak pernah mengeluarkan suara, walau pun Zahwa bertanya ribuan kali.


"Apa yang kau inginkan? apa kau ingin uang? biar ku neri berapa pun kau ingin,, sekarang lepaskan aku," ucap Zahwa.


Bima hanya mengantar makanan di depan pintu yang di pasangi teralis yang di kunci.


"Kalau kau hanya diam, bagaimana aku bisa tau keinginanmu? sudah satu minggu aku di sini tanpa melakukan apa-apa, aku merasa lesu karena kekurangan sinar matahari, tolong lepaskan aku, aku sedang hamil, tolong tuan," pinta Zahwa.

__ADS_1


Bima merasa kasian, namun dia mengingat Ezra dan marahnya pun kembali muncul, Ezra yang telah mengambil jodohnya dari tangannya itu harus merasakan sakit, itu yang ada di pikirannya.


"Tuan, lepaskan aku!" pinta Zahwa sedikit berteriak.


Bima pergi tanpa kata.


"Sebenarnya siapa orang ini? mengapa dia tidak pernah bicara padaku?" tanya Zahwa heran, akhirnya dia pun mengambil nasi dan memakannya.


Setiap di beri nasi lauk pauk dan buah dia slalu memakannya, karena dia ingin bayinya sehat.


"Surat? Dia menulis surat untukku?"


Zahwa menemukan secarik kertas di bawah piring nasi.


"Maafkan aku Nona, aku terpaksa melakukan ini, tapi aku sudah menghubungi keluargamu untuk meminta tebusan, Nona tenang saja, Nona aman dan tidak akan di sakiti, selama Nona tidak mencoba lari dari sini."


"Apakah dia kekurangan dalam bidang ekonomi? Dia memperlakukan aku dengan baik, walau ini bagai sangkar emas, namun aku ingin pulang, hiks hiks,"


Zahwa menangis karena merindukan kekuarganya.


***


Hari ke 9.


"Pa, apakah ada kabar tentang penculiknya?" tanya Ezra lagi hari ini.


"Iya, hari ini, pemuda itu akan menemui Bosnya, kita akan mengikutinya, sudah ada 5 orang mata-mata yang bersiap mengikuti pemuda itu beriringan, agar setiap jarak tempuh 1km maka akan di gantikan oleh yang di belakangnya," ucap Fathir.


"Baiklah, ayo kita siap-siap,"


Ezra begitu bersemangat dan segera bersiap.


"Z'ra, bagaimana? Ya Allah, di mana mereka menyembunyikan menantuku, dia sedang hamil, lindungi dia ya Allah,"


Mita yang memang sengaja tinggal di kamar Ezra dan bermalam di rumah ini, agar tahu segera kabar tentang Zahwa. Sementara Ezra tidur bersama Rangga di atas.


"Pa, aku akan ke kantor hari ini, apakah hari ini ada janji dengan klien? Biar aku yang handle," ucap Huda.


"Tidak ada, kalau ada berkas, jangan asal tanda tangan, kau kirimkan saja filenya ke aku ya?" ucap Fathir.


"Baik pa,"


"Aku ikut," ucap Saila yang tiba-tiba sudah rapi dengan pakaian sopan, walau tidak mengenakan kerudung.


"Ayo!"


Mereka pun berangkat menuju kantor, menggunakan mobil yang paling mewah di rumah itu tanpa sepengetahuan Fathir, padahal itu 'kan mobil Rangga.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2