
Zahwa berlari ke kamarnya dan menghempaskan tubuhnya dengan keras ke ranjang dan menangis tersedu sedu.
Tok tok tok
"Kak.. ada apa?"
Rangga mengetuk pintu Zahwa saat melihat Zahwa datang, Rangga adiknya sedang menuruni tangga, dan melihat Zahwa sedang menangis.
"Tidak apa apa dek," jawabnya.
"Aku masuk ya!"
Ceklek.
"Kenapa kakak menangis?"
Rangga pun membelai pundak kaka nya yang tengkurep karena meredam tangisnya di atas bantal.
"Ada apa Ngga?" Tanya Mamanya yang juga masuk ke kamar Zahwa.
Rangga sering di panggil gitu oleh orang rumah.
"Tau ni ma, di tanyain diem aja," Jawab Rangga.
"Sayang, ada apa?" Shaina pun duduk di sisi ranjang.
"Nggak papa Ma, Zahwa cuma kurang enak badan," jawabnya.
"Jangan bohong, emang kenapa?"
Zahwa tetap diam, dia mencoba berhenti dari isakan nya walau sangat sulit.
"Ma, aku pergi dulu ya, ada kerja kelompok nih di pak Dosen yang ini."
Rangga salim dan pamit pergi.
Rangga pun sudah pergi keluar.
"Ma.."
Zahwa bangun dan memeluk mamanya.
"Ada apa? katakan pada mama!"
Shaina membelai rambut anak gadisnya itu lembut.
"Ma...kenapa mama dan papa baru menikah?" pembuka bicara Zahwa, dan Shaina mengerti maksud dan tujuan Zahwa.
"Nak...ada sesuatu hal yang dulu tidak bisa mama lakukan untuk kamu, maafkan mama yang tidak bisa memberikan yang terbaik buat kamu."
Shaina pun mengeratkan pelukannya.
"Hik hik hik, Mamaaaaa."
Zahwa kembali menangis, walau beribu pertanyaan tersusun rapi di otaknya, namun dia mengurungkannya, untuk menjaga mungkin saja luka mamanya akan kembali berdarah, karena Zahwa sudah pernah mendengar cerita itu dari neneknya dulu. Shaina pun ikut menangis dan mereka saling berpelukan.
"Maafkan mama hik hik hik."
Kini Shaina malah mengeluarkan tangis yang nyaring.
"Hey...ada apa?"
Fathir yang baru datang ingin makan siang pun kaget mendengar suara tangisan dari kamar Zahwa, dia pun mendekat dan bertanya, heran melihat ke dua wanitanya itu menangis bersamaan.
"Beng beng sudah pulang?"
__ADS_1
Shaina menyeka air matanya melepaskan pelukannya dari Zahwa. Sementara Zahwa pun berpaling tidak ingin papanya melihat kesedihannya.
"Ada apa?"
Fathir masuk dan duduk di samping Zahwa.
"Tidak apa apa Pa!"
Jawab Zahwa sambil menyeka air matanya.
"Nggak papa kok nangis? ayo ceritakan lah sama Papa!"
"Papa mau makan?"
Tanya Shaina yang menyadari bahwa Zahwa tak ingin bercerita apa pun pada Ayahnya, Shaina tau, Zahwa takut Ayahnya yang emosi dan akan mencelakai seseorang. karena memang Fathir sangat pemarah kalau menyangkut keluarganya di sakiti.
"Aku masih kenyang Sayang."
Fathir kembali menatap anak kesayangannya.
"Ayo!"
Akhirnya Shaina pun menarik tangan Fathir keluar dari kamar Zahwa dan menutup pintunya rapat.
...
...
...
"Lho Z'ra, kok udah pulang? nggak jadi ke kampus?"
Tanya Mita yang melihat anaknya sudah duduk manis di sofa ruang tamu.
"Nggak Mi... oh ya Mi, Ummi kan udah lama kenal sama Tante Shaina, sebenarnya Zahwa itu seperti apa sih Mi? apa dia orang yang tertutup, apakah ada rahasia di keluarga mereka?" Tanya Ezra.
"Mi...Tadi Zahwa di bu-ly, dan entah mengapa Ezra merasa kesal sama Zaira."
"Kok Zaira? dia kan gadismu?" Tanya Mita.
"Zaira kurang sopan Mi, dia menghina Zahwa, katanya Zahwa itu anak ha---m, dia sangat kurang ajar," ucap Ezra.
Dia menceritakan semuanya tentang perkataan Zaira dan kawan kawannya, bahkan dia juga ceritakan kalau Zaira telah mengambil jilbab Zahwa hingga terlepas.
"Astagfirullah Z'ra, jadi itu gadis yang kau pertahankan untuk kelak menjadi ibu dari anak anakmu?" Tanya Mita sambil menatap kedua bola mata anaknya.
"Mi...sebenarnya ada sedikit keraguan tentang masalah itu," Jawab Ezra.
"Jangan di biarkan berlarut-larut, kalau kamu ragu baik kau tinggalkan sekarang, sebelum nantinya melukai terlalu dalam, tapi kalau kamu ingin lanjut, bimbing ia seperti yang kau ingi kan, kamu jangan mau mengalah, karena kamu kelak akan menjadi nahkoda kepal keluarga lho Z'ra." Nasehat Mita untuk pewaris kerajaannya itu.
...
...
...
Sebulan sudah berlalu sejak kejadian itu. Zaira sudah di peringati Ezra agar dia tak mengulangi perbuatannya itu dan dia mengancam, kalau sampai terjadi lagi, maka dia akan meninggalkan Zaira tanpa ampun.
"Kak...kakak pulang saja duluan! aku ada janji hari ini dengan seseorang."
Ucap Yola pada Zahwa saat pulang kuliah.
"Seseorang? apakah dia perempuan atau laki-laki?" Tanya Zahwa.
"Hemmm kasih tau nggak ya? nanti deh aku akan kenalin kakak dengan dia, aku duluan ya! tolong bayarin makananku ya kak! assalamualaikum."
__ADS_1
"Wa alaikum salam, hati-hati dek, jangan macem macem nanti papa marah."
"Iya kak."
Yola pun pergi seperti biasa Bima slalu menunggu Yola di tempat yang jauh dari kampus, karena dia tidak ingin Zahwa atau Linda mengetahui perihal ini.
"Mas Bim!" Teriak kecil Yola ketika sudah sampai di pintu mobil.
"Hey. kemana hari ini kita?" Tanya Bima.
"Terserah kau saja Mas, aku cuma ngikut." Yola pun masuk ke dalam mobil Bima. Tapi ternyata Zahwa penasaran dan mengintip Yola dari jarak jauh.
"Yola masuk ke mobil siapa ya?"
Gumam Zahwa sambil terus mengintip dan mencoba melihat sopir yang ada di dalam mobil.
"Zahwa!"
Teriak Ezra yang tiba tiba memanggil namanya, sehingga Zahwa pun kaget dan spontan berbalik mencari arah suara.
"Tuan Ezra? ada apa?" Tanyanya.
Mudahan saja dia tidak sempat melihat Yola yang pergi dengan Bima
Bathin Ezra. Ezra terpaku menatap kepergian mobil Bima.
"Tuan? kok bengong, ada apa?" Tanya Zahwa lagi.
"Oh tidak apa apa, apa kau mau pulang? biar ku antar," Ajak Ezra.
"A Ezraaaaa!"
Teriakan Zaira membuat Zahwa mengambil langkah seribu, dia pun berjalan berbalik meninggalkan Ezra.
"Zaira...kau sudah pulang?" Basa-basi Ezra pada Zaira.
"Iya A, antar aku pulang yuk!"
Zaira pun berani menarik tangan Ezra, namun Ezra menepisnya.
"Maaf Ra, aku ada urusan kali ini, aku ingin bertemu Dosenku di kampus, aku hanya mampir sebentar karena ada sedikit urusan." Sahutnya.
"Sedikit urusan? apakah menemui Zahwa itu urusan kamu?"
Zaira kesal karena Ezra tidak mau mengantarnya pulang.
"Tadi aku hanya kebetulan melihatnya dan menyapanya".
Aduuuh, kok aku begini ya, padahal tadi cuma mau liat Zahwa dari jarak jauh, tapi karena aku melihat Bima dan Yola pergi, aku coba alihkan perhatian Zahwa, untung berhasil.
Bathinnya.
"Ya udah..."
Zaira pun berjalan menggandeng teman lelakinya yang lewat di depannya, maksudnya ingin memanas-manasin Ezra. Namun Ezra hanya diam memandang kepergian Zaira dan teman lelakinya itu.
"Kenapa Ezra nggak marah ya Ndra?" Tanyanya pada laki laki itu yang bernama Andra.
"Kamu jablay ya Ra ha ha ha."
Tawa Andra.
Ezra pun memalingkan wajahnya tak ingin melihat Zaira dan Andra berjalan berdua.
Mengapa hatiku terasa ringan dan tak masalah saat Zaira menggandeng orang lain, apakah hatiku ini sudah berpaling?
__ADS_1
BERSAMBUNG....