Mendadak Jodoh

Mendadak Jodoh
Tebar Pesona


__ADS_3

Zahwa sudah berada di dalam Taksi bersama dua temannya. Mereka akan mengerjakan tugas bersama. Karena sebentar lagi mereka akan magang.


"Yola?"


Ucap salah satu temannya saat melewati sebuah mobil sport, dan tak sengaja teman Zahwa itu melihat Yola masuk ke dalam mobil tersebut.


"Yola? dimana?" tanya Zahwa.


"Itu tadi naik mobil Sport," jawab temannya.


"Salah liat kaliii... Yola kan masih di kampus, dia bilang masih ada tugas yang belum kelar," sahut Zahwa.


"Mana mungkin salah! aku sangat kenal Yola kok," jawabnya lagi.


"Tapi mana mungkin dia naik mobil semewah itu? setahuku dia tidak punya teman yang bermobil begituan!" sahut Zahwa lagi.


Zahwa masih tidak percaya dan meragukan penglihatan temannya.


"Ya sudah lah, kita fokus pada kerjaan kita aja deh."


Temannya yang lain menengahi perdebatan mereka.


Mereka pun kembali membahas masalah yang akan di hadapi mereka, menyusun rencana dan lain lain.


...***...


"Kita mau ke mana hari ini?"


Tanya Bima pada Yola saat mereka sudah berada di jalan yang jauh dari kampus.


"Terserah kau saja," Jawab Yola.


"Oke Sayang kuuu."


Bima pun menebarkan pesonanya menatap Yola manis dan tersenyum penuh makna.


Mobil mewah itu pun meluncur menuju tempat wisata yang terletak jauh dari kota itu. Sementara Yola tampak mengantuk dan tertidur hingga dia tidak menyadari kalau perjalanannya kali ini menempuh perjalanan 2 jam baru sampai ke tempat tujuan.


"Sayang, ayo bangun!"


Bisik Bima di telinga Yola yang di lapisi kerudung.


"Kita di mana?"


Yola pun mulai membuka matanya.


"Di gunung, ayo turun!"


Bima pun sudah membukakan pintu Yola.


Sementara teman teman Bima yang lain sudah bergandengan tangan duduk berjejer menatap pemandangan gunung yang indah.


"Wooow, indah sekali, ini di mana? kenapa mama dan papaku tidak pernah membawaku kemari ya?" gumamnya.


"Bukit Halayung, kau suka?" Tanya Bima sambil menarik tangan Yola dan mengecupnya. Yola pun kaget, namun dia hanya menatap Bima merasa tersanjung.


"Jam berapa sekarang?" Tanya Yola.


"Jam 5." Jawabnya.


"Ha? aku harus segera pulang sebelum magrib. ayo!" Ajaknya panik.


"Ini di Halayung Yola, perjalanan dari sini tu menempuh perjalanan 2 jam, dan lagian kita baru sampai, kok udah mau pulang?" Tanya Bima sambil terus memegangi tangan Yola.


"Aku akan kena marah papa kalau begini, ayo!"


Yola tetap bersikeras mengajak pulang.


"Baiklah."


Bima terpaksa menuruti, mereka pulang berdua, karena teman temannya akan bermalam di puncak gunung itu. Puncak gunung yang memang bisa naik dengan membawa mobil.


...***...


Tok tok tok

__ADS_1


"Mama..."


Zahwa mengetuk pintu mamanya, karena ada hal yang ingin Zahwa tanyakan.


Ceklek


"Ada apa Zahwa?" Shaina pun keluar.


"Ma, Yola belum balik. Di telpon nggak aktif." Ucap Zahwa sedikit panik.


"Emang kalian tadi nggak bareng?" Tanya Shaina.


"Nggak Ma, aku duluan, karena Yola masih ada kelas Ma."


Zahwa menceritakan kalau tadi Yola menyuruh Zahwa duluan.


"Ada apa?"


Tanya Fathir yang nongol di belakang Shaina.


"Yola belum balik Pa," Ucap Shaina.


"Paling lagi kumpul kumpul sama temen temennya."


Tiba tiba Rangga turun dari tangga.


"Temen gimana sih Ngga? ini udah malem lho!" Ucap Shaina khawatir.


"Kita tunggu aja," Rangga pun duduk di sofa tamu dan memainkan Hpnya.


"Assalamualaikum."


Suara Yola melegakan orang orang di rumah, mereka pun menyambut kedatangan Yola.


"Yola, kamu kemana? kok baru datang, di telpon nggak aktif." Tanya Zahwa.


"Iya Yola, bikin kami semua khawatir tau nggak?"


Cerucus Fathir juga.


Sedang Shaina memilih diam.


"Kamu itu anak gadis Yola, lihat contoh yang baik, lihat Zahwa kakakmu, dia nggak pernah telat pulang. Dan slalu ngabarin." Ketus Fathir sedikit kesal.


"Hp ku lowbat pa, bagaimana mau ngabarin?" Jawab Yola dengan menunduk.


"Kamu kan bisa minta tolong chat kakakmu, masa teman temanmu nggak punya no Zahwa?"


Fathir terus menanyai Yola dengan berbagai macam pertanyaan. Dan Yola terus saja membela diri merasa tak bersalah.


"Coba ces HP mu, aku ingin tau teman yang mana yang hari ini kerja kelompok sama kmu sampai malam malam begini." Ucap Fathir. Dia mulai terlihat marah.


"Pa, sudahlah! Yola kamu mandi dulu sana!" Shaina mencoba menghentikan ketegangan.


"Sayang, kamu nggak boleh manjain anak begitu, dia harus disiplin," Ucap Fathir lagi sambil mengambil tas Yola.


"Pa, mengapa papa tak percaya, sedangkan kalau Zahwa yang pergi papa slalu percaya begitu saja." Yola terdengar kesal dan berjalan meninggalkan Fathir.


Fathir pun mengikutinya.


"Yola, kamu itu tanggung jawabku, aku yang harus menjagamu."


Ucap Fathir lagi sambil terus membuntuti anaknya sampai ke dalam kamar.


"Trus Zahwa itu bukan tanggung jawab papa karena dia bernasab pada ibunya? begitu kah?" jawab Yola sambil berpaling menatap wajah papanya tajam.


Plak


Tamparan pun mendarat di pipi kiri Yola.


"Papa."


Shaina yang melihat dari kejauhan pun kaget.


"Kamu keterlaluan Yola, dari mana kamu belajar kurang ajar begitu heh?"

__ADS_1


Yola hanya diam dan meneteskan air mata. Sejak kenal Bima dia memang sering membangkang walau hal sepele, kali ini dia memang keterlaluan.


Zahwa yang mendengar itu sekali lagi hatinya terluka, dia pun ke dapur dan mengambil air untuk minum, mencoba menenangkan hatinya yang terasa sakit.


"Nduk...ada apa? kok nangis?"


Bibi yang sedang membersihkan meja makan heran melihat Zahwa yang menangis, walau pun tidak bersuara, namun terlihat jelas dari wajahnya yang memerah.


"Tidak apa apa Bi."


Zahwa duduk dan meneguk air minum pelan. sambil terus membaca istigfar.


"Bi, aku mau bertanya, dan ini sudah sangat lama aku pendam. tolong Bibi jawab. Sebenarnya aku ini anak siapa? dan ada beberapa orang mengatakan kalau aku adalah anak ha*am, sedang aku tidak pernah tau kisah yang sebenarnya. Aku sering di bull* di kampus Bi, kalau aku bernasab pada ibuku saja." Ucap Zahwa sedih.


"Nduk, Bibi nggak ada kuasa menceritakan semua itu padamu, kau tanyakan saja pada mamamu, mungkin mamamu akan menjelaskannya." Jawab Bibi.


"Aku enggan bertanya sama mama, mungkin saja itu akan membuka luka lama." Ucap Zahwa pelan.


"Zahwa..."


Hap


Shaina yang memang dari tadi mendengarkan Zahwa pun tak mampu menahan tangisnya, dia memeluk Zahwa dan ikut meneteskan air mata.


Bruk brak bruk


Terdengar suara amburadul dari kamar Yola, seperti ada orang yang ngamuk.


Tap tap tap


Zahwa dan Shaina pun berlari untuk melihat. Ternyata Fathir yang lagi membanting beberapa barang dan melemparnya ke tubuh Yola.


"Beng, hentikan! kenapa kamu seperti ini? kamu tidak pernah seperti ini, kamu slalu bisa mengendalikan amarahmu Beng!"


Teriak Shaina sambil memeluk suaminya.


"Dia keterlaluan, mulutnya kotor sekali, ku lihat dalam sebulan ini dia memang slalu banyak alasan, dan tak pernah pulang bareng Zahwa lagi, aku curiga ada lelaki yang telah meracuni otaknya." Fathir sangat emosi.


Tap tap tap


Yola mengambil tasnya dan berlari keluar.


"Hey kau mau kemana lagi?"


"Pa...biarkan dia, mungkin dia perlu menenangkan diri, aku akan mengikutinya."


Zahwa pun berlari mengambil tas berisi uang, dan mengambil motornya. Sementara Yola sudah memanggil gojek yang memang ada di dekat rumahnya.


Yola dan ojol sangat gesit, dan Zahwa akhirnya kehilangan jejak.


...


...


...


"Emang loe kenapa sayang? kok wajahnya cemberut gitu?"


Tanya Bima yang sudah bertemu dengan Yola di sebuah Cafe tempat tongkrongan Bima dan kawan kawan.


"Aku di marahin papa, kali ini sungguh sangat menyakitkan." Jawabnya.


"Ayo minum dulu! biar kamu tenang!"


Yola yang memang masih sangat emosi meneguk minuman yang di berikan Bima.


Bima dengan setia mendengarkan curhatan Yola dan....


"Aku sangat ngantuk, mengapa kepalaku terasa berputar, itu tadi minuman apa sih?"


Yola terlihat menutup buka matanya seperti orang yang sangat mengantuk.


"Kau rileks saja biar malam ini kau akan merasakan kedamaian yang sebenarnya." Bima tersenyum menyeringai. Dan akhirnya Yola tertidur. Bima pun membopong tubuh Yola keluar dari Kafe menuju mobilnya.


"Hey, dapat mangsa baru ni, pasti masih bersegel."

__ADS_1


Ucap Sahabatnya yang memang tau kelakuan Bima. Bima hanya tersenyum menanggapi komentar sahabatnya.


BERSAMBUNG...


__ADS_2