
Mentari menyinari pagi yang cerah, terlihat Zaira merapikan pakaian dan memasukannya dalam Tas. Hari ini Zaira dan Bram memutuskan untuk pindah rumah.
"Arsya, kau sangat tampan pagi ini," puja Bram sambil menimang anak itu.
"Sangat malang nasibmu Arsya, kau telah ku pisahkan dari orang tua kandungmu karena sakit hatiku, tapi aku bingung untuk mengembalikan mu pada orang tuamu, aku takut di penjara lagi," lirih hati Zaira, sambil menatap Arsya.
"Zaira, Kenapa kau melamun? Ayo cepat! Apakah semuanya sudah beres? " ucap Bram.
"Oh iya Mas, aku sudah selesai merapikan baju kita, sekarang aku akan ke kamar Mama dulu, untuk membantu Dia merapikan pakaiannya, " ucap Zaira.
"Iya cepat biar kita tidak kesiangan berangkat dari sini ke sana nanti, nanti di sana kita kembali merapikan pakaian kita, kan perlu waktu lama, "ucap Bram.
Zaira pun bergegas meninggalkan kamarnya menuju kamar ibunya. Terlihat Ibunya sedang merapikan baju satu persatu ke dalam tasnya.
"Kenapa kita harus pindah rumah? Bukankah di sini sudah sangat nyaman? " tanya sang mama.
"Ma... Mas Bram yang meminta untuk kembali ke sana, sepertinya ingatannya mulai pulih, "ucap Zaira.
"Kenapa ingatannya bisa pulih? Apakah kau sudah tidak memberinya obat lagi?"tanya mamanya.
"Iya Ma, aku sudah tidak memberinya obat lagi, kemarin... sejak mama jatuh dan stroke, aku sudah berhenti memberinya obat, aku merasa bersalah, mungkin semua kita alami sekarang, karena kita telah menyakiti orang lain, aku juga berencana mengembalikan Arsya pada Eza," ucap Zaira.
"Tunggu! jangan kau bilang kau sudah sadar, dan tidak ingin membalas dendam lagi pada mereka?" tanya mamanya.
"Iya Ma, aku ingin fokus kepada anakku, dan juga Mas Bram," ucapnya.
"Apa maksudmu Zaira?" tanyanya.
"Aku hamil Ma, dan aku ingin aku dan Mas Bram menatap masa depan kami," ucapnya lagi.
"Zaira... Apa kau lupa, apa yang telah Ezra lakukan padamu? ayahmu... suamiku, sakit karena olah Ezra, dia merasa malu karena kalian gagal menikah," ucap sang mama.
"Itu mungkin adalah takdir kami, kami tidak berjodoh, sekarang aku punya Mas Bram, aku ingin kami hidup bahagia, dan aku akan membuang semua kenangan masa laluku, aku sudah mulai menerimanya, Ma... tolong jangan kau campuri lagi urusanku ini Ma, aku mohon," ucap Zaira.
"Kau sungguh anak durhaka! apa kau tidak ingin membalas sakit hati mama, aku sakit hati, aku kecewa sama kamu Zaira," ucap sang Mama.
"Terserah mama, aku hanya ingin menetap masa depan kami bersama Mas Bram, maafkan aku kalau aku tidak bisa melanjutkan pembalasan ini Ma," ucapnya.
Zaira pun pergi meninggalkan kamar sang mama. Sementara sang Mama sangat marah. dhempaskannya tas yang sudah berisi baju-baju itu.
"Kurang ajar Zaira, sebaiknya aku pergi saja dari rumah ini, atau apa aku harus membawa Arsya dan aku balaskan dendam ku sendiri? ucap sang mama.
***
__ADS_1
Gedung apartemen tempat Ezra sekarang tinggal . Ezra tampak mondar-mandir di depan kamarnya. Sepertinya dia sangat ingin tahu kapan Zaira akan pindah ke apartemen itu.
"Ezra, Apa kau sudah makan?" tanya Pasha yang baru datang dari bawah, karena Pasha merasa lapar dia pun makan lebih dulu.
"Paman, aku merasa tidak di selera makan, Aku sangat merindukan Arsya paman, aku harap Zaira segera pindah ke apartemen ini, biar aku bisa secepatnya merebut Arsya darinya," ucapnya.
"Kau harus makan, jaga kesehatanmu," titah sang paman.
"Baiklah paman, aku akan turun ke bawah untuk mencari makan, paman tunggu di kamar saja," ucapnya.
Pasha masuk ke dalam apartemen, sementara Ezra tampak masuk ke dalam lift dan akan mencari makan di sekitar apartemen itu.
Ezra sudah tampak di bawah.bDia berjalan dengan gontai menuju halaman gedung yang sangat besar itu, sebuah mobil taksi tempat berhenti di depannya, berjarak 300 meter.
Ezra yang berjalan tidak memperhatikan sekitar pun, Dia tampak cuek namun kakinya terhenti ketika seseorang memanggilnya, Dia pun spontan mendongakkan kepalanya dan sangat terkejut, sedetik kemudian dia pun berlari.
"Di mana anakku!? kau simpan di mana anakku!? cepat serahkan anakku padaku!?" teriak Ezra, membuat semua orang yang ada di situ pun menoleh ke arah mereka.
Ezra sambil mencengkram bahu Zaira sangat kuat.
"Aduh... lepaskan! Sakit," pekik Zaira.
"Aku tidak perduli padamu! Serahkan anakku!" teriaknya lagi, sambil terus menekan tangan Zaira.
"Aku kesakitan, lepaskan aku!" ucapnya lagi.
Ezra terus mencengkram tangan Zaira sangat kuat.
"Berbulan-bulan lamanya kami dalam kegelapan, rumah kami sepi bagai kuburan, Kami jarang tertawa, kami terus menangis, sementara kau? apa yang kau lakukan kepada anak kami? mana anak kami!?" Ezra terus berteriak teriak, hingga security gedung pun datang.
"Ada apa ini? siapa dia?" tanya Bram yang keluar dari mobil.
"Bram? Kenapa kau lupa padaku? aku Ezra Bram! Kita pernah bertemu dan bahkan kau ke Indonesia dan bekerja sama dengan perusahaan istriku, ini aku Ezra, Kenapa kau menghilang? Di mana anakku?" tanya Ezra lagi sambil terus mencengkram Zaira.
"Aduh, kepalaku...- Bram memegangi kepalanya yang terasa sakit.
"Mas Bram..."
Akhirnya Bram pun ambruk.
"Ada apa dengan dia?" tanya Ezra.
"Dia sakit," jawab Zaira.
__ADS_1
"Apakah kalian bersekongkol dan pura-pura sakit?" tanya Ezra curiga.
"Mas Bram memang sedang sakit, dia lupa ingatan, setelah terjatuh di kamar mandi," ucap Zaira.
"Ini pasti akal-akalan kalian bukan? Iya kan? kau sangat licik Zaira," bentak Ezra lahi.
"Itu tidak benar, dia memang sedang sakit, sudah beberapa bulan ini dia sakit, dan dia baru saja bisa berjalan, sebelumnya dia hanya duduk di kursi roda," ucap Zaira.
"Alaaaah... ini pasti akal-akalan kamu zaira, pasti kau yang telah meracuni otaknya Bram, ya kan? sebelumnya Bram begitu bersemangat untuk membantuku mengambil Arsya darimu, sekarang di mana Arsya? cepat katakan padaku!"
Ezra kembali mencengkram pergelangan Zaira. Dia pun meringis.
"Aduh.... tolong bantu Mas Bram dulu, dia sakit, dia harus dibawa ke dokter," ucap Zaira.
"Baiklah... aku akan membantunya, tapi ingat! kalau sampai Kau Bohongi ku lagi, Aku akan mem-bunu*hmu tanpa ampin," gertak Ezra.
Zaira pun terdiam kemudian masuk ke dalam mobil, Ezra juga masuk ke dalam taksi itu, dan pergi ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Brampun diperiksa.
"Bagaimana dok, ingatannya mulai membaik?" tanya Zaira.
"Setiap dia mengingat sesuatu. Mungkin dia akan pingsan karena saraf-saraf yang bekerja keras," ucap dokter.
"Emangnya apa yang terjadi dengannya?" tanya Ezra tidak mengerti.
"Oh jadi begitu ya Dok? Dia mungkin mengingat lelaki iti tadi, mereka pernah bertemu berapa bulan lalu," ucap Zaira.
"Iya, mamun karena ingatannya masih belum pulih, dia bekerja keras untuk mengingatnya," ucap dokter.
"Saat melihatku, dia tampak memegangi kepalanya, jadi benar dia sedang sakit dok?" tanya Ezra.
"Iya, Dia mengalami kerusakan di syarafnya, karena minum obat yang memang di sengaja," ucap dokter.
Zaira tampak menunduk, sementara Ezra menatap Zaira, bagai hunusan pedang menancap di tubuh Zaira.
"Dia hanya butuh istirahat," ucap dokter lagi, seraya pergi meninggalkan Mereka.
"Aku mohon padamu... tolong serahkan Arsya padaku!" bentak Ezra dengan suara yang meninggi.
"Sebenarnya... aku ingin menyerahkan Arsya padamu... dan saat kami kembali ke apartemen... itu pun aku akan menyerahkan Arsya padamu.... tapi....." Zaira kembali menunduk.
"Tapi apa... ayo Katakan padaku! kali ini aku harus membawa Arsa kembali pada Zahwa," bentak Ezra lagi.
__ADS_1
"Tapi Arsya...."
Bersambung...