Mendadak Jodoh

Mendadak Jodoh
Kepulangan yang Indah Setelah Minta Maaf


__ADS_3

"Sasa, kok lama banget ambil jemurannya, aku mau mandi ini," ucap Bibi, mengagetkan Sasa yang lagi menelpon seseorang.


"Oh ini lagi telponan sama teman Bi, kami janjian mau ketemuan minggu depan," ucapnya berbohong dengan wajah pucat, karena merasa takut kalau Bibi mendengar pembicaraannya.


"Ooh, cepat sedikit, nanti kita mempersiapkan menyajikan makanan Nyonya jam 5. Ini udah ashar," titah Bibi lagi.


Bibi ini di panggil lagi bekerja setelah Saila dan Huda menjual perusahaan Shaina.


"Bi.... Kalian di mana? Apa lauk sudah masak?" ternyata Zahwa dan Ezra sudah mandi dan ingin makan sore.


"Iya Non, sudah semua, sebentar, bibi belum mandi Non,"


"Nggak papa Bi, biar aku ambil sendiri saja,"


Zahwa pun mengambilkan makanan Ezra. Mereka pun makan bersama.


***


"Mas, tolong, sakiit, sakit sekali Mas," ucap Saila sambil memegangi perutnya yang nyeri.


"Sabar, mungkin ini reaksi habis operasi," ucap Huda.


"Maaf, bisa kita bicara sebentar?" ucap perawat.


Huda pun mengikuti perawat ke ruangan lain.


"Emang ada apa Mas?" tanyanya sama perawat itu. Mereka sampai di ruangan kecil, Huda pun duduk di kursi.


"Begini Tuan, Istri anda mengalami pembusukan pada ususnya, kami sudah memotong sebagian, namun karena sudah terinfeksi, maka kami tidak bisa mengambil semuanya, kemungkinan bertahan hidup itu sangat sulit, dia akan mengalami kesakitan sepanjang hidupnya," ucap perawat.


"Jadi harus bagaimana?" tanya Huda.


"Mungkin dia bisa pulih seperti sedia kala, kalau dia operasi penggantian usus, tapi itu sangat mahal sekali,"


"Benarkah? Berapa itu?"


"Sekitar 5M,"


"Ha? 5M?"


Huda termenung.


Dari mana dia bisa dapat uang sebanyak itu? uang yang ada di tangannya saja sekarang tersisa 2 M saja, sisa penjualan perusahaan Papanya.


"Apa tidak ada cara lain?" tanya Huda.


"Tidak ada Tuan, tapi dia bisa meminum obat,penahan rasa sakit kok setelah 6 jam, obat pengurang rasa sakit itu akan mengurangi sakitnya." ucap perawat.


"Terimakasih."


***


Zahwa dan Ezra tampak bersantai di meja makan sambil makan buah habis makan nasi, Ezra yang mengupas buah, Zahwa yang memakannya dengan lahap.


"Kenapa kau menatapku begitu? Aku bisa terluka karena grogi," ucap Ezra karena Zahwa terus menatap wajah Ezra.

__ADS_1


"Abang ini aneh, di tatap orang saja bisa terluka, terus kalau aku pun di tatap orang juga semakin terluka, apa aku pakai cadar dan pakai kaca mata aja ya, biar kalau lagi natap orang nggak kelihatan," ucap Zahwa.


"Eh jangan, malah gawat itu, kalau nanti kamu ngelirik mantanmu, aku malah nggak tau 'kan?" sahut Ezra protes.


"Hmmm,"


Bruk


"Mama, Kak Zahwa, kalian di mana? Ma... " suara Huda menggelegar dari arah pintu depan.


"Siapa Bang?" Zahwa dan Ezra,pun berdiri dan pergi menuju ruang depan.


"Huda? Ada apa?"


"Kakak... hiks hiks, maafin aku Kak, maafin Saila," ucapnya sambil bersimpuh di kaki Zahwa.


"Ada apa? Kenapa menangis?" tanya Zahwa heran.


"Saila sakit Kak, sakit keras," ucap Huda.


"Mampus, lagian siapa suruh jadi maling,"


Tiba-tiba Yola sudah berada di belakang Zahwa dan mencerca perbuatan Huda dan Saila.


"Hust, Yola!" bentak Zahwa pelan.


"Duduk dulu,"


Ezra pun membawa Huda berdiri dan duduk di sofa.


"Saila mengalami infeksi usus, karena tabrakan dahulu, dia terus mengeluh kesakitan, dia sangat kesakitan Kak," ucap Huda sambil terus menangis.


"Kalian ke mana selama ini? Datang-datang hanya mengeluh sakit saja," ucap Yola lagi kesal.


"Yola, kita dengarkan dulu apa katanya," ucap Zahwa lembut.


"Dia mengalami kerusakan pada usus sebab kecelakaan itu, harusnya di di operasi, tapi biayanya terlalu mahal," ucap Huda lagi.


"Berapa?" Zahwa penasaran.


"5M,"


"5 M? Heh, mending biarin mati saja si kunti, dari pada bayarin pengobatannya, belum tentu juga sehat kalau di obatin," ucap Yola lagi tambah kesal.


"Hust, Yola, diam dong," titah Zajwa lagi.


"Kata perawat, dia bisa di beri obat penahan rasa sakit aja kok, iya itu aja, dan ini, sisa uang perusahaan Papa 2M, aku serahkan ke pada Mama, maaf kan aku,"


"Ada apa ini ribut-ribut," Shaina baru keluar dari kamarnya saat mendengar suara-suara di ruang tamu.


"Mama, maafkan aku, hiks hiks," Huda kembali mendekati mama tirinya dan bersujud di kakinya.


"Eh eh eh, apaan ini?" Shaina mundur beberapa langkah karena Huda sujud di kakinya.


"Mama, maafkan aku, aku anak durhaka Ma, aku khilaf ma hiks hiks," Huda terus menangis memohon maaf.

__ADS_1


"Sudaj-sudah, sekarang Saila di mana?" tanya Shaina.


"Di Rumah sakit dekat pantai ma, karena saat sakit kemaren kami sedang berlayar,"


"Cuieh, enaknya berlayar, naik kapal pesiar habisin uang hasil curian, trus sakit-sakitan, itu karma namanya," cerucus Yola lagi, dia benar-benar kesal dengan lelaki yang tertukar posisi itu dengannya.


"Baiklah, ayo Zra anfar aku ke sana!" ucap Shaina.


"Baik ma,"


Shaina pun membawa Wulan ibunya Saila untuk di bawa ke rumah sakit.


***


Kondisi Saila sangat memprihatinkan, bahkan ada sedikit tercium bau busuk dari tubuhnya.


"Saila... Nak, kau dengar mama?" ucap Shaina membelai kepala Saila.


"Mama... Maaf," hanya kata itu yang terucap.


"Hi hi hi, kau bayiku yang cantik, kau sangat cantik," Wulan pun membelai kepala Saila sambil menciumnya.


"Kau BAB ya, kok bau, sini biar ibu ganti in popoknya," ucap Wulan sambil ingin membuka selimut Saila.


"Mbak Wulan, biar aku saja, Mbak duduk saja ya!" titah Shaina, Wulan pun menurut,


"Ibu... " Panggil Saila menatap ibunya sedih.


"Saila, jangan khawatir, kami akan membiayai pengobatan Ibumu, tapi mungkin kami tidak bisa merawatnya di rumah kami, kami akan mengantarnya pada nenekmu lagi, dan memberikan biaya hidup selamanya." ucap Shaina lagi.


"Ter-ima-ka-sih" ucapnya pelan. Saila seakan tidak sanggup lagi membuka matanya.


"Saila, kau harus kuat, kita baru saja mulai, ayo kuatlah!" ucap Huda sambil menggenggam tangan istrinya.


"Mas, ma_af-kan aku!" lirihnya, matanya pun tertutup walau masih bernafas.


"Sayang!" Huda menciumi wajah mulus istrinya yang baru dia gauli 2 kali itu. Lagi hangat-hangatnya.


"Ma__af,"


Nafas Saila pun semakin jauh, dan akhirnya habis.


"Innalillahi waa inna ilaihi rooji'uun," ucap Ezra, Zahwa dan Shaina bersamaan.


"Saila, jangan sekarang! Saila, ku mohon, tunggu Saila!"


"Huda, Dek, sabar, jangan begini, dia sudah melewati masa sulit, kau harus ikhlas, jangan kau halangi jalannya untuk menemui Robbnya Dek," bujuk Zahwa sambil memeluk tubuh adik seayahnya itu.


Perawat pun datang dsn memeriksa kondisi terkini Saila, dan akhirnya di nyatakan meninggal.


"Kakak,"


Huda pun memeluk Zahwa si ibu hamil, eh tapi Ezra seakan tidak rela kalau istrinya itu di peluk.


"Sudah, ayo kita bersiap!" Ezra melerai pelukan Huda dari Zahwa😃

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2