Mendadak Jodoh

Mendadak Jodoh
Melamar untuk Rangga


__ADS_3

Bruk.


Zahwa menjatuhkan teleponnya, dan tatapannya kosong, matanya menerawang sesaat kemudian dia pun lemes dan tersandar di bahu Ezra.


"Sayang, ada apa? Sayang...," panggil Erzra berulang ulang, namun tak ada jawaban, Ezra pun menepikan mobilnya. Aunty pun turun dan membuka pintu mobil depan.


"Tuan, itu telepon Nonya Muda kayaknya masih menyala," ucap Aunty.


Ezra pun mengambil Hp Zahwa dan mengangkatnya.


"*Hello, ada apa Huda?" tanya Ezra.


"Mama masuk Rumah sakit Kirana, cepat susul ke sini ya!" ucap Huda.


"Baik*,"


Zahwa pun di sandarkan di sandaran, Ezra meluncur menuju Rumah sakit, karena kalau pun Zahwa di bawa ke rumah, pasti kalau bangun bakal mencari Mamanya juga. Jadilah Zahwa di bawa saat pingsan menuju Rumah sakit.


"Aunty, aku tidak tau harus bagaimana, kalau aku titip anak pada kalian, pasti Zahwa akan marah, kalian tau 'kan, sejak kejadian Arsya, tak noleh meninggalkan Arsya di tangan orang lain, bolehkah aku minta bantuan?" tanya Ezra.


"Iya Tuan, silahkan, kami mengerti soal Arsy Tuan," sahut Aunty.


"Tolong kalian Cari kamar Mama Zahwa, nanti kalau Zahwa siuman kami akan menyusul, tolong lihat kondisi mama ya!" titahnya.


"Baik Tuan,"


2 Aunty pun pergi mencari ruangan Shaina, satu Aunty menemani Ezra mengurus Arsy.


"Uaaaah, Mama... Mama...," ucap Zahwa pelan, ternyata dia sudah terbangun dari pingsannya.


"Sayang, kita sudah di Rumah sakit ini, apa kita langsung menemui mama? Rangga juga sudah jalan ke mari," ucap Ezra.


"Iya Bang, tolong bawa aku menemui Mama,"


Ezra menyuruh Aunty mengambil kursi Roda dan membawa Zahwa masuk, 3 Aunty pun juga mengikutinya di belakang, lama menyusuri jalan Rumah sakit, mereka pun sampai di tujuan.


"Mama... Mama...," panggil Zahwa mendayu dayu, tenaganya terasa terkuras, kakinya lemes.


"Kak Zahwa," Yola lun memeluk Kakaknya erat.


"Apa ya


ng terjadi dengan Mama? Kenapa dia bisa begini?" ucap Zahwa sambil terus menangis.


"Nggak tau Kak, tiba tiba saja Mama jatuh di depan pintu," jawab Yola.


Dokter pun datang dan memeriksa kondisi Shaina.


"Kami akan memeriksanya dengan alat, tolong bawa ke ruangan Radiologi!" ucap dokter, perawat pun membawa Shaina ke ruangan tersebut di iringi Ezra.


"Kamu tunggu di soni ya!" ucap Ezra pada Zahwa. Zahwa pun memangku Arsy yang sedang tertidur pulas.


***

__ADS_1


Bram dan Zaira sudah resmi menikah, kini Zaira dan Bram juga Arsya dan Mamanya berada di Apartemen yang sama.


"Ra, emang be er, itu adik kamu, klo aku lihat, mamamu udah tua lho!" tanya Bram curiga, tapi kalau mencurigai anak Zaira tidak mungkin, karena saat itu, Zaira masih ting ting.


"Hemmm, kasih tau nggak ya? Tapi karena kita udah menikah, aku akan kasih tau, sebenarnya itu adalah anak musuhku, musuh dalam selimut, aku ingin membalas dendam dengan menggunakan Dia nanti," ucap Zaira.


Bram sesaat hanya terdiam dan menatap wajah Zaira.


"Siapa wanita yang ku nikahi ini? Kenapa dia punya rahasia seperti itu?" lirih hatinya.


"Oooh, jadi maksudnya? Kamu menculik anak ini dari orangtuanya?" tanya Bram.


"Iya, sekarang aku ingin kau juga memberitahuku satu rahasia besar padaku, kenapa kau ingin menikahi ku?" tanya Zaira pada Bram.


"Itu...,"


2 tahun silam.


"Mas, aku hamil," ucap Aqila pada Bram.


"Hamil? Tapi kita 'kan hanya sebagai hubungan tanpa status? Kenapa kau melapor padaku?" jawabnya ketus.


"Iya Mas, tapi aku percaya, bayi ini adalah anakmu, aku bahkan tidak pernah melakukan hubungan dengan siapa pun selama 5 bulan terakhir ini, aku sangat berharap suatu saat kau bisa menerimaku," ucapnya.


"Alaaaaah, maling mana ada ngaku, kamu juga punya hubungan sama reza. Bagas dan siapa lagi, si itu, kenapa harus ngadu padaku?" jawabnya lagi.


"Mas, tapi sumpah, ini anakmu, aku nggak pernah ngelakuin sama yang lain, karena aku ingin kau bisa menerimaku suatu saat nanti," ucap Aqila lagi.


Bram pun meninggalkan Aqila yang berdiri mematung di halaman warung makan, karena mereka habis makan siang bersama. Selepas kepergian Bram, Aqila pun berjalan menyusuri jalanan di bawah hujan yang mulai turun. Kakinya terus melangkah tak ada arah tujuan. Hingga dia sampai di depan sebuah club malam, masuklah,dia dengan pakaian yang masih basah kuyup. Seorang mucikari menghampirinya dan akhirnya...


Mulai saat itu Aqila menjadi wanita satu malam dan terus melayani orang orang tampa henti, hingga akhirnya dia pendarahan dan saat di bawa ke rumah sakit, jiwanya sudah tidak bisa di tolong.


"Bram, udah dengar kabar?" tanya temannya.


"Ada apa?" tanya Bram.


"Aqila pendarahan dan sekarang ada di rumah sakit, cepet sono!" ucap temannya.


"Benarkah? Kenapa harus aku?" ucap Bram merasa tak penting.


"Katanya dia menjadi wanita satu malam yang tak henti bekerja, melayani para hidung belang, itu karena kau meragukan anak yang di kandungnya itu, bukan anak kau 'kan?" ucap sang teman.


"Ah masa? Masa segitunya dia?" heran Bram.


"Ah sudahlah, kalau kau mau minta maaf, atau apalah, kau temui saja dia sana!" ucap teman Bram lagi.


"Nggak ah," cueknya.


"Ya sudah, aku duluan ya, ada urusan nih," Teman Bram pun pergi.


"Apa bener dia lagi kritis? " lirih hati Bram.


Kemudian dia pun berlari mengambil motornya dan menuju rumah sakit yang sudah di sebutkan temannya tadi. Tak berapa lama Bram sudah sampai. Dia berlari dan bertanya pada perawat.

__ADS_1


Bram perlahan mendekati pintu pasien dan seketika matanya terbelalak saat melihat wanita terbaring bersimbah darah, pendarahan yang tak bisa di hentikan.


"Aqila..., Aqila...," Bram memeluk tubuh yang sedang di tangani dokter itu, para dokter heran melihat kedatangan Bram.


"M..a..s.. Br..am," lirihnya.


"Aqila, maafkan aku, maafkan aku,"


"Bram... Kok bengong, hey?" Zaira pun menggoyang badan suaminya.


"Ooh iya, ayo kita pergi untuk makan malam," ajak Bram.


"Kau belum menjawab pertanyaan ku," ucap Zaira.


"Itu, nanti saja, cerita yang sangat panjang, mungkin kita perlu beberapa jam untuk menyelesaikan kisah ku, aku lapar, ayo!"


Akhirnya mereka pun makan malam bersama.


***


"Maaf, kondisi ibu Anda sangat kritis, kami hanya bisa berusaha untuk ini," ucap seorang perawat mewakili dokter yang sedang bekerja.


"Lakukan yang terbaik Mas, tolong ibu saya!" ucap Rangga, sementara Zahwa hanya bisa duduk dan membenamkan kepalanya di pelukan Ezra(bagian perut, karena posisi Zahwa duduk di kursi roda)


"Bang, aku tidak bisa begini, aku baru saja bisa tersenyum karena Rangga menyukai sahabat dekatku, kenapa aku harus kembali menangis begini?" ucapnya.


"Sayang, kita berdo'a saja, mudahan ada keajaiban yang bisa merubahnya.


"Bang, aku ingin menikahkan Diba di depan Mama sekarang," ucap Zahwa.


"Ha? Apakah Diba mau?" tanya Ezra.


"Aku akan meneleponnya."


Ezra pun mengambil Hp Zahwa dan menelepon Diba, Ezra hanya menyuruh Diba ke rumah sakit karena Shaina sedang sakit keras. Sopir pun meluncur menuju kantor Diba untuk menjemputnya.


***


"Asa apa? Kenapa,kalian menatapku,seperti itu?" Diba sudah sampai di rumah sakit. Dia,heran melihat semua orang diam, termasuk Rangga.


"Diba... Maukah kau menikah dengan Adikku Rangga, aku meminang mu sekarang?" ucap Zahwa sambil terbata.


"A...aku?" Diba tampak gugup dan malu.


"Ya, aku ingin kalian menikah sekarang! di hadapan mamaku," ucap Zahwa lagi mengulangi.


"Tapi...? Apakah Rangga___"


"Aku bersedia,"


Belum selesai Diba bertanya, Rangga sudah menjawabnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2