Mendadak Jodoh

Mendadak Jodoh
Shaina di Pindahkan


__ADS_3

Ezra duduk di samping Zahwa dan terus membelai pipi wanita halalnya itu. Wajah Zaira tampak kesal saat melihat adegan itu.


"Siapa sebenarnya Mai itu? Mengapa dia tampak marah saat melihat ini?"


bathin Ezra.


Ternyata Ezra sengaja meletakkan layar HPnya mengarah wajah Zaira, dan Ezra sesekali menatap layar itu, tampaklah wajah Zaira yang cemberut.


"Mai? tolong belikan susu kedelai ke kios depan ya! yang dingin aku sangat ingin itu." titah Ezra.


"Baik Tuan." jawabnya.


"Z'ra, kamu ngidam juga ya?" tanya Mita heran, Ezra kan bisa jalan sendiri kalau pengen. Ezra pun berdiri dan menengok keluar kamar, mungkin dia ingin memastikan sesuatu. Apakah Mai sudah pergi. Lalu dia menutup pintu.


"Lho? Kok di tutup?" tanya Mita.


"Mi, jangan kaget dengan apa yang ingin aku katakan ini! Begini Mi.... "


Ezra pun menceritakan semua yang mereka lalui hari ini bersama Fathir, Mita terlihat Syok. Matanya tak berhenti melotot, tangannya pun terus menutupi mulutnya yang tak bisa di kendalikan terus terbuka walau mengucap "Allaaaah...Allah...Allah."


"Jadi siapa sebenarnya Mai itu? Kita harus bagaimana?" tanya Mita.


"Kita akan bersandiwara, bahwa, tidak terjadi apa-apa, Papa sudah mengutus orang akan berjaga di sekitar sini, dan mengikuti ke mana pun Mai pergi saat kita di sini." ucap Ezra.


"Baiklah, ayo kita mulai, Dia licik, kita pun harus lebih licik."ucap Mita.


"Baik Mi," jawab Ezra.


"Sekarang di mana Shaina dan Rangga?"


"Papa sudah mengurusnya." jawabnya.


"Ooh baiklah, ayo bersiap!"


Kemudian Mita dan juga Ezra bersiap, seolah tidak terjadi apa-apa dengan keadaan yang saat ini sedang memburuk.


Tak berapa lama Mai pun datang, walau hati Ezra mau pun Mita merasa tidak bisa bersikap biasa, akhirnya mereka berpura-pura biasa walau dengan susah payah.


"Kamu ngidam juga ya Z'ra? Kok pengen tiba-tiba dadakan gitu sih?" basa-basi Mita.


"Entah Mi, aku merasa haus, dan hanya ada minuman ini yang ada di otakku, itu Mi di minum, kamu juga Mai, minum aja ! aku beli 5 ini sengaja untuk kalian juga." ucap Ezra.


"Iya Tuan."

__ADS_1


Mai merasa haus dan dia pun mengambil satu dan meneguknya.


"Berarti aman ini." batin Ezra.


Dia pun ikut meneguknya pertiga tegukan.


"Aaaaaah, legaaaa, enak tenaaaaan, rasa plong rasanya tenggorokan ini." ucap Ezra sambil mengangkat botol susu kedelai itu tinggi.


"Mai, kalau misal kamu mau pulang atau mau up mingguan, kamu boleh aja libur, lagian Ezra sudah bisa jalan, jadi dia bisa ngerjakan sendiri," titah Mita.


"Iya Nyonya, mungkin sabtu ini aku akan pulang, minggu sore aku bisa balik lagi." ucapnya.


"Oooh, baiklah. Oh iya, emang kampung mu di mana?" tanya Mita menyelidik.


"Mmm anu Nya... Jauh," Zaira tidak menyangka tiba-tiba Mita menanyakan itu.


"Di mana? mungkin nanti Ezra bisa mengantarmu untuk pulang kampung, mungkin di antar sopir juga ada kok." ucap Mita lagi.


"Ti__tidak usah Nya, aku naik taksi saja, nggak perlu repor kok." sahutnya.


"Ooh, terserah kau saja, asal liburnya satu hari saja ya?" ucap Mita, seakan keberatan kalau dia pulang. Padahal dia ingin wanita ini tidak pernah lagi kembali.


"Iya, Nya. Aku mau mandi dulu Nya," ucapnya.


Mai pun mengambil bajunya dan menuju kamar mandi.


"Iya," sahut Mita lagi.


...***...


Fathir sudah membawa Shaina dan Rangga ke rumah sakit besar yang ada di kota tersebut, dia sengaja memesan kamar Vip untuk istri dan anak sambungnya itu.


"Dok, bagaimana keadaan mereka? Mengapa sudah seminggu mereka juga belum sadar?" tanya Fathir.


"Kayaknya terlalu banyak obat tidur atau obat bius yang masuk ke tubuh mereka, maka perlu beberapa hari lagi untuk menetralkan nya." ucap Dokter.


"Oooh, tapi apakah tidak membahayakan nyawa atau kondisi mereka saat bangun?" tanya Fathir lagi.


"Kemungkinan tidak masalah, paling sangat terasa pusing dan linglung." jawab Dokter.


"Baiklah, aku akan menempatkan dua orang untuk berjaga, ingat, tak boleh ada seorang pun yang tau dia berada di sini, tolonglah, karena nyawa mereka terancam." pinta Fathir.


"Baik lah Pa, kau tenang saja." sahut Dokter.

__ADS_1


Dokter itu pun pergi meninggalkan Fathir di ruangan itu.


"Assalamualaikum-


Suara salam dari depan kamar.


"Wa alaikumsalam, kalian sudah datang? masuklah!"


2 orang suruhan Fathir pun sudah datang, mereka pasangan suami istri yang belum mempunyai anak.


"Terima kasih Bos." ucap suaminya.


"Begini, kalian tidak boleh meninggalkan kamar ini sedikitpun, kalau kalian ingin keluar, maka harus bergantian, ingat! Nyawa istri dan anakku sedang terancam, ada orang yang ingin mencelakai mereka, maka kalian harus berhati-hati, ingat!" Fathir memperingati.


"Baik Bos, siap!"


"Bagus, dan juga, karena mulai hari ini hidup kalian di sini, berdua, dan sedang mereka berdua sedang tidak sadarkan diri. Maka kegiatan kalian sebagai suami istri pun boleh kalian lakukan di sini, tapi ingat! Jangan sembrono, jangan sampai kalian lupa, bahwa ada dua nyawa di kamar ini juga. Mengerti?"


Maksud Fathir apa ya😄😄😄.


"I___ya Bos."


Bikin suaminya jadi grogi saja.


"Aku akan pulang, ingat! Jangan lupa kunci pintunya kalau kalian lagi ehem... Ehem."


Fathir pun berpaling dan tersenyum.


"Apa yang aku katakan tadi, heh, memalukan." batin Fathir sambil terus tersenyum. Ini pertama kalinya dia tersenyum sejak saat dia kehilangan Shaina belahan jiwanya.


...***...


"Hei, ke mana pasien yang ku titipkan padamu heh?" ucap Zaira terlihat marah dan panik.


"Mereka sudah sadar dan sudah pergi dari ruangan itu Nona." jawab perawat itu.


"apa? Sadar? Tidak mungkin." ucapnya.


"Sebenarnya, Nona benar nggak sih anak Nyonya itu? Katanya anak Nyonya itu pakai hijab, kalau Nona___?" perawat memindai tubuh Zaira yang berpakaian biasa dan tidak menggunakan hijab.


"Aaaah."


Zaira pun panik dan pergi meninggalkan tempat tersebut.

__ADS_1


"Kemana mereka? Tidak mungkin mereka sadar begitu saja, aku sudah memberi mereka obat tidur setiap 2 kali sehari. Tidak mungkin mereka sadar. Apakah ada seseorang yang membawa mereka?"


BERSAMBUNG...


__ADS_2