
Ceklek.
Suara Rangga membuka pintu mengagetkan Zaira, dia pun cepat-cepat menyeka air matanya, dan pura-pura merapikan selimut Zahwa.
"Siapa Kau?" Tanya Rangga.
"A__aku Mai, yang membantu mengurus Nyonya muda Zahwa," Suara Zahwa sedikit bergetar, karena sedikit gugup.
"Oooh."
Rangga pun duduk di sofa ruangan itu.
"Kau boleh tidur, aku akan berjaga." Titah Rangga.
"Baik Tuan."
Zaira pun berjalan ke pojokan yang di hampar tikar tebal untuk dia tidur malam ini, tubuhnya terasa remuk dan hancur, setelah bekerja seharian ini.
"Hufs."
Zaira menghempaskan nafasnya kasar.
...***...
Cekleeeeeeek.
Di pagi buta tepat jam 3 pagi, pintu Zahwa di buka pelan.
"Semoga mereka tidak terbangun." Ucap Aldo yang berencana mencelakai Zahwa yang lagi koma. Dia berjalan pelan menuju Zahwa yang masih koma.
Ha?siapa itu?
Zaira yang terbangun karena merasa ada angin berhembus kaget, saat dia sedikit membuka matanya, namun dia masih sangat mengantuk.
Aldo mula mengambil jarum suntik yang ada di balik kantong jaketnya.
Saat itulah Zaira benar-benar terbangun.
Kakak, tidak, jangan lakukan itu, aku harus mencegahnya, kalau sampai dia memberikan racun oada Zahwa, maka aku tidak puas, Zahwa harus menderita.
Batinnya.
"Uhuk... Uhuk... "
Zaira pura-pura terbatuk-batuk saat tidur, membuat Ezra pun menggeliat. Sontak saja, Aldo pun segera keluar dari ruangan itu.
"Gawat," Gumamnya sambil berjalan cepat tanpa sempat menutup pintu ruangan itu.
"Ha? Kok pintunya kebuka?"
Rangga yang juga ada di ruangan itu pun terbangun, dan kaget saat melihat pintu terbuka begitu saja.
"Iya Tuan, tadi saat saya terbangun karena merasa aneh, kayak ada orang yang masuk, dan benar saja, saya melihat laki-laki masuk dan mendekati Non Zahwa, makanya saya pura-pura batuk."
Zaira kayaknya cari muka nih. Biar sangat di percaya, sangat licik.
"Benarkah? Syukurlah, apakah laki-laki itu sempat melakukan sesuatu pada Zahwaku ?"
"Tidak Tuan," Jawab Zahwa sambil menunduk, hatinya sangat sakit saat mendengar kata' Zahwaku'
"Baiklah, kalau begitu, kalian tidur saja, biar aku berjaga, atau kita kunci saja pintunya, mungkin perawat tidak datang sepagi ini.kan masih jam 3 pagi ini."
"Baik kak."
__ADS_1
Rangga pun menutup dan mengunci pintu. Mereka kembali mencoba tidur kembali.
...***...
"Ma... Pa... Apa yang terjadi dengan anakku?" Yola terlihat menangis sepagi ini, dia baru di beri tahu, bahwa hari ini dia harus keret karena kandungannya tidak bisa di pertahankan.
"Sayang, kamu sabar ya, mungkin ini yang terbaik."
Dret...
Hp Fathir bergetar.
"Assalamualaikum, ada apa Pak?"
Fathir sedang menerima telepon dsri seseorang.
"Pak Broto ngamuk? Baiklah, aku segera ke sana."
"Sayang, aku,harus ke kantor dulu, jaga Yola baik-baik ya! Assalamualaikum."
"Baik Pap, waalaikumsalam."
Fathir pun pergi meninggalkan Rumah sakit. Sepanjang jalan dia merasa tidak tenang dan merasa emosi.
...***...
"Apa yang kau inginkan? mengapa kau menarik semua sahammu dari perusahaan kami? dan juga kau mengajak orang-orang yang menanam saham padaku untuk memilih!"
"Apa kau tidak tau perbuatan anak bobrokmu itu heh?"
Fathir terlihat emosi, bahkan wajah tampannya kini tidak terlihat lagi. Hanya wajah pemangsa yang siap menerkam mangsanya.
"Apa maksudmu?"
"Heh, Bima telah berulang kali menyakiti Yola, dan kemaren adalah puncak dari kesabaran kami, hingga akhirnya Yola ke guguran karena olah anakmu."
Fathir semakin emosi. Sambil menunjuk wajah Broto yang juga tak kalah sangar.
"Apa? Tidak mungkin, anak itu sudah berjanji untuk memperbaikinya, pasti Yola membuatnya marah." Pak,Broto malah membela anaknya, yang membuang Fathir tambah emosi.
"Kurang ajar."
Fathir melayangkan tangannya ingin meninju wajah Broto.
"Tunggu! Ben, jangan lakukan ini!"
Untung saja Shaina datang tepat waktu, hingga Fathir pun menurunkan genggaman tangannya.
"Sayang, mengapa kau kemari? Bagaimana dengan Yola?" Tanya Fathir khawatir dengan anaknya yang di tinggal sendirian.
"Aku menyuruh Rangga untuk menemaninya pagi ini."
"Baiklah, ayo kita pulang!"
Ajak Fathir sambil menggandeng pindak istrinya, kalau sudah ada Shaina, Auto adem deh Beng Fathir.
"Dia?" Tanya Shaina sambil melirik pa Broto.
"Pak, tolong urus dan jelaskan, aku lagi sibuk."
Broto hanya terdiam dan duduk sambil memijet kepalanya.
...***...
__ADS_1
"Yola... Bangun! Bangun Nak! Shaina, lihat! Ini semua gara-gara kamu, kamu meninggalkan dia ketika sedang rapuh. Hiks hiks hiks.... "
Fathir menggoncang-goncang tubuh Yola yang tidak sadarkan diri.
"Beng, aku mohon maaf, aku tidak menyangka dia senekat ini."
Shaina menggenggam tangan Fathir. Dan terus meminta maaf. Sementara Rangga yang berdiri tak jauh dari mereka pun tidak terima kalau ibunya di salahkan, Rangga adalah anak tiri Fathir dari suaminya terdahulu. Rangga mengepal genggamnya.
"Kalau kamu menjaganya, tentu semua ini tidak akan terjadi, Yola! Yola! Bangun!"
Hap
"Ma, ayo kita pergi!"
Tiba-tiba Rangga menarik tangan mamanya."
"Rangga tunggu! Biarkan Mama di sini."
"Aku tidak rela kalau Ma disalahkan, sudah baik kita mengurus dia yang telah merebut tunangan kak Zahwa, mengapa dia malah menyalahkan Mama, ayi kita pergi dari sini, kita tidak di butuhkan di sini."
"Beng, maaf, Rangga, jangan! aku harus tetap di sini!"
"Tidak Ma,"
Rangga terus membawa dan memeluk Mamanya, sementara Fathir hanya perduli dengan Yola yang terlihat pingsan. Dia memotong urat nadi di tangannya dengan pisau buah.
"Rangga, dia suami Mama, Mama harus patuh ladanya."
"Buat apa Mama patuh pada lelaki yang tidak menghargai pengorbanan Mama? Bukankah Mama sudah banyak berkorban selama ini? kaka Zahwa juga harus menikahkan tunangannya sendiri demi anak Fathir itu."
"Nak, walau bagaimana pun, dia tetap Ayahmu juga, jangan menyebut nama begitu Nak, tidak baik."
Rangga memasukkan Shaina ke dalam mobil dan membawanya menjauh, namun, Shaina menyadari, kalau jalan ini bukanlah jalan pulang.
"Rangga, kamu mau bawa Mama ke mana?"
Shaina memindai jalan sekitar, tidak asing.
"Aku ingin membawa Mama menemui seseorang yang sangat menghargai Mama."
Tak berapa lama, mereka pun sampai di TPU, di mana Hendra Ayah Rangga di makamkan.
Shaina pun turun dsn berjalan menuju makam suaminya.
Rangga berjongkok dan menggandeng pundak mamanya yang sudah duduk di atas semen di sisi kuburan yang memang di desain untuk duduk.
"Ma, maafkan Papah, Papah tidak bisa menemani Mamah hingga akhir."
Ucap Rangga sambil membelai-belai pundak mamanya.
"Tangga, hiks... Hiks... Hiks..."
Shaina pun menangis, terkilas di benaknya, betapa Hendra adalah lelaki yang sangat menyayanginya. Tak terasa mereka sudah satu jam di sana, mereka pun pulang.
Dor
Semua kaca rumah pada pecah, barang-barang pun ada yang berantakan di halaman Rumah Shaina.
"Nyonya, Tuan Muda itu Bima... "
Paman Satpam yang menyambut kedatangan Shaina pun terlihat ketakutan.
BERSAMBUNG...
__ADS_1