Mendadak Jodoh

Mendadak Jodoh
Belajar Merayu


__ADS_3

Mereka pun makan di kantin.


"Hari ini kita ke mana?" Tanya Aisya semangat.


Tak ada jawaban dari Ezra.


"Emang Aisya mau ke mana?"


Karena merasa tak enak hati, Zahwa pun akhirnya angkat bicara.


"Naik balon terbang," Jawabnya.


"Emang berani naik sendirian?"


Tanya Ezra.


"Ya sama kakak laaah, masa sendirian?" Protes Aisya.


"Ogah, kami berdua mau naik Kereta Gantung."


Ucap Ezra.


"Ikuuut."


Rengek Aisya.


"Kamu naik aja sendiri!"


Ucap Ezra lagi.


"Takut kak."


"Nggak papa kan Bang Ez, kalau Aisya juga ikut?"


Zahwa kini membela Aisya. Sekali lagi Ezra tak berdaya, gagal nih acara romantis yang sudah ada di benak Ezra.


Mereka pun selesai makan. Rizal, Difan dan juga Faris pergi ke arah berbeda. Sementara Ezra, Zahwa dan Aisya akan naik Kereta Gantung.


Saat ingin membeli Tiket.


"Kok kepala Aisya tiba-tiba pusing nih? Hua....."


Entah mengapa kepala Aisya terasa pusing dan berputar.


"Kamu kenapa? Masuk angin?"


Zahwa pun dengan sigap merangkul Aisya dan membawanya duduk di kursi yang ada di depan loket.


"Nggak tau kak, Kepala rasa berputar-putar."


"Sebentar, biar ku ambilkan obat."


Zahwa yang memang sudah sedia membawa ke mana pun obat sakit kepala, mengambilnya dari tasnya.


"Bagaimana? Jadi ikut?"


Tanya Ezra.


"Mungkin nggak kak, kepalaku pusing banget nih, biar aku tunggu di sini saja, tapi kasih aku uang ya!" Pintanya.


"Yakin? Nggak jadi ikut?" Ucap Ezra lagi.


"Iya kak!"


Akhirnya Ezra pun beli tiket untuk mereka berdua.


Akhirnya... bisa berduaan juga.

__ADS_1


Lirih hati Ezra sambil menatap wajah Zahwa.


Zahwa pun tsk mengerti arti tatapan sang suami, namun bulu roma nya jadi bergidik sendiri.


Ezra dan Zahwa kini sudah berada di kereta gantung, hanya berdua Ezra menyewa kereta itu hanya untuk berdua.


Saat mulai berjalan dan melewati hutan, rumah penduduk yang terlihat sangat jauh, Zahwa pun mengeratkan pegangannya di kursi duduk.


Hap.


Ezra merangkul pundak Zahwa.


Kini mereka duduk bersebelahan.


"Apa kau takut?" Tanya Ezra.


"I-iya," Sahutnya.


"Hwa...aku akan memanggilmu Hwa. Cantik kan?" Tanya Ezra.


"Mmm.."


"Boleh aku bertanya?" Ucap Zahwa ragu-ragu.


"Boleh?"


Ezra menatap wajah Zahwa.


"Mengapa kau mau menikahi ku?"


Tanya nya.


"Karena aku mau!" Jawabnya tegas.


"Iya kenapa? Bukankah kau punya pacar?"


"Zaira, wanita yng datang ke pernikahan kita, dan mengaku sedang hamil anakmu,"


Akhirnya Zahwa berani bertanya.


"Ha ha ha, apa kau percaya dia sedang hamil anakku?"


Ezra meletakan kedua tangannya di sisi pipi kiri kanan Zahwa.


"Ho?"


Kini malah Zahwa grogi dan tak berkutik.


"Apa kau percaya aku menghamilinya?"


Tanya Ezra lagi sambil mendekatkan wajahnya, hingga wajah mereka tak berjarak


"Mung-kin." Sahutnya pelan.


"Bagaimana mungkin aku menghamilinya? dengan istri halal ku saja aku tak berani menyunruhnya, sebelum aku mendapat izinnya."


Ezra melepaskan tangannya, dan memandang jauh ke bawah Kereta gantung.


Zahwa menatap wajah tampan Ezra, sambil mencari kejujuran di balik gurat-gurat wajah itu.


"Jadi.... Dia berbohong?"


Tanya Zahwa lagi.


"Kau jawab saja sendiri! Mulai sekarang, aku ingin kau hanya percaya padaku, hanya padaku, oke?"


Titah Ezra, sambil kembali merangkul pundak istrinya, dan membawanya bersandar di bahunya.

__ADS_1


"Hmmm, baiklah."


"Apa pun yang mengganjal di hatimu, aku ingin kau jujur padaku! Mengerti?"


"Hemmmm,"


"Karena mulai sekarang, akulah lelakimu, akulah tempat kepalamu bersandar, sampai kita menutup mata, akulah yang akan slalu menjagamu, selamanya."


Hati Zahwa tersentuh, dia tidak menyangka, Jodoh dadakannya itu, seromantis ini."


...


...


...


Dugh


Dugh


Dugh


"Mita! Buka pintunya!"


"Nyonya, tolong sabar dulu, jangan seperti ini, Nyonya Mita pasti akan menemui Nyonya."


Ceklek


"Ada apa pak?"


"Ini Nyonya, Mama Zaira ingin bertemu anda."


"Aku ingin bicara denganmu Nyonya yang terhormat!"


Mama Zaira pun masuk ke dalam dan duduk di ruang tamu.


"Baik paman, kau boleh kembali ke pos!"


Mita pun menyusul Mama Zaira.


"Aku ingin kau bertanggung jawab pada Zaira!" Ucap Mama Zaira ketus.


"Bertanggung jawab apa?" Tanya Mita Heran.


"Zaira hamil, aku ingin Ezra bertanggung jawab untuk ini!" Ucapnya lagi.


"Heh, Nyonya! apakah anda percaya anak saya melakukan itu? Jangankan begituan, bergandengan tangan saja mereka tidak pernah!" Ucap Mita membela Ezra.


"Mana kita tau kelakuan mereka di belakang kita, pokoknya, kalau Ezra tidak bertanggung jawab, aku akan melaporkannya ke polisi!"


Tambahnya lagi mengancam.


"Baiklah, kita tunggu Ezra datang dari liburannya, karen aku tidak mau ikut campur, Ezra sudah dewasa, dia akan menentukan semuanya." Katanya lagi.


"Ingat, aku akan datang lagi! Permisi."


Mama Zaira pun pergi meninggalkan Mita.


Ezra...apakah mungkin benar apa yang Zaira katakan? Bahwa dia sedang hamil? Apakah itu benar?


Mita berpikir keras.


"Oh tidak! Itu tidak mungkin. Au, kepalaku pusing."


Bruk.


Mita jatuh pingsan, mungkin asam lambungnya naik karena merasa stres.

__ADS_1


...BERSAMBUNG......


__ADS_2