Mendadak Jodoh

Mendadak Jodoh
Siuman


__ADS_3

Sepanjang jalan Rangga terus menciumi wajah Diba yang masih pingsan, tak berapa lama mereka pun sudah sampai di halaman rumah sakit. Rangga segera membawa Diba masuk ke ruangan.


"Tolong istri saya, dia terlalu banyak menghirup asap," ucap Rangga.


Perawat pun segera mengambil tindakan dan memasangkan infus. setelah dipasangi infus, perawat pun memeriksa kondisi Diba yang lainnya.


"Apakah ada keluhan lainnya Tuan?" tanya perawat.


"Istri saya sedang hamil Mas, tolong Rawat dia dengan sebaik-baiknya, aku akan membayar mahal untuk ini," ucap Rangga.


"Baik Tuan, kami akan memeriksanya dan memanggil dokter terlebih dahulu," ucap sang perawat.


Diba pun dipasangkan oksigen agar nafasnya bisa teratur. Rangga masih panik dan menelepon Zahwa.


"Hello Kakak, aku ada di rumah sakit sekarang, menemani Diba," ucap Rangga.


"Di rumah sakit? kenapa ke rumah sakit?" ucap Zahwa.


"Tadi saat di kantor, ada konsleting listrik, sehingga ruangan ku terbakar. Diba terkurung di dalam," ucap Rangga.


"Benarkah? Baiklah... aku akan segera ke sana," ucap Zahwa.


"Tiidak usah, kakak merawat Kak Ezra saja, kak Ezra kan juga sedang sakit," ucap Rangga


"Tapi bagaimana denganmu nanti kalau suruh tebus obay dll, nanti biar Ummi yang ku suruh kemari, Aku akan menyusul kamu ke rumah sakit," ucap Zahwa.


"Baik Kakak," jawab Rangga.


Rangga pun menutup teleponnya.


Sementara di kostan Yola. Yola dan Fitri tampak bersiap untuk menuju kampus mereka. Dengan menaiki motor milik Yola. Sepanjang jalan mereka tampak bercerita banyak hal.


"Terima kasih banyak ya, sejak berteman denganmu, aku merasa jadi orang yang sangat bahagia," ucap Fitri.


"Emangnya selama ini kamu tidak punya teman banyak?" tanya Yola.


"Punya... tapi hanya beberapa, mereka tahu aku orang tak mampu, jadi mereka tidak ada yang mau berteman akrab denganku," ucap Fitri.


"Kok begitu sih? berteman... emang harus punya uang ya? berteman itu kan tidak usah bermodal uang?" ucap Yola.


Tak berapa lama Berapa lama mereka sudah sampai di kampus dengan mengendarai motor matic milik Yola.


Saat memarkirkan motornya, tak sengaja Yola menetap lelaki yang sudah duduk di taman bersama teman-temannya, dan Yola terdiam terpana.


Fitri yang merasa heran dengan tatapan Yola pun mengikuti arah mata Yola yang lagi kasmaran seelrtinya.


"Ehem ehem... Yang lagi kesemsem ni yee..." ucap Fitri.


"Apaan sih? ogah ah, aku 'kan masih masa iddah," ucap Yola.


"Tapi 'kan kalian sama-sama single, siapa tahu nanti kalian malah jodoh lagi," ucap Fitri.


"Kalau itu mah... Mana aku tahu, ayo!" Yola pun berjalan meninggalkan parkiran memasuki area kampus, namun ketika melewati taman, Yola dipanggil oleh seseorang.


"Yol... kemarilah!" ucap seseorang.


Sepertinya itu teman Bima, yang melihat keberadaan Yola.Yola pun menoleh.

__ADS_1


"Ada apa?" tanyanya.


"Ke marilah sebentar," ucap teman Bima.


Yola pun berjalan mendekati pria itu bersama Fitri.


"Nih Bima mau ngomong," ucap sang teman.


Mereka semua pun pergi meninggalkan Bima.


"Loh? kok aku?" tanya Bima bingung. Bima tak tahu apa-apa pun tambah Gugup dan merasa nervous.


"Ada apa Bim?" tanya Yola.


"Nggak tahu," ucap Bima.


"Yola aku duluan ya, aku tunggu di sana," ucap Fitri.


Fitri pun juga meninggalkan Bima dan Yola yang masih berdiri. Yola menatap buku yang dipegang oleh Bima.


"Buku apaan itu Bim?" tanya Yola basa-basi.


"Oh... ini aku lagi belajar."


Bima pun memperlihatkan buku itu bertuliskan 'tobat' ternyata Bima membaca novel yang berjudul Tobat dari karya Nana Shin.


"kalau tidak ada yang diomongin, Aku pergi dulu ya," ucap Yola seraya berbalik.


"Tunggu!" ucap Bima kemudian.


"Hingga saat iddah mu habis, aku akan menunggumu," ucap Bima.


Hati Yola seakan berbunga-bunga, entah perasaan apa yang sedang dia rasakan sekarang, dia sangat bahagia mendengar kata-kata Bima. kemudian dia pun beristigfar karena merasa khilaf didalam hati, setelah tersadar. Walaupun bibirnya tersenyum karena bahagia yang spontan,tak bisa di tolak.


Lalu Yola berjalan meninggalkan Bima, begitu juga Bima, Bima tersenyum menatap kepergiannya hingga punggungnya tenggelam di balik bunga dan pepohonan kecil di taman kampus tersebut.


"Emang mau apa Bima itu ke kampus sini?" tanya Fitri.


"Entahlah, mana aku tau?" ucap Yola.


Sepanjang jalan, Yola tak bisa menyimpan kebahagiaannya di dalam hati. Bibirnya terus menyunggingkan senyum.


***


Sementara di rumah sakit, Diba di temani Zahwa tampak mulai membuka mata, dan menggerakkan jemarinya yang indah.


"Gaga... Di mana aku? Sayang... pusing... hidungku kok terasa mampet," ucap Diba.


"Kamu nggak apa-apa 'kan? Apanya yang sakit?" tanya Zahwa merasa khawatir dengan sahabat sekaligus adik iparnya tersebut.


"Zahwa? Aku di mana ini? kok putih semua?" tanya Diba.


"Kamu sekarang ada di rumah sakit, Katanya tadi ruangan Rangga kebakaran, Emang kenapa kamu nggak bisa keluar?" tanya Zahwa.


"Oh iya ya... tadi aku ikut ke kantor Rangga, karena Rangga memaksa untuk ditemenin, katanya bosen kalau sendirian, maunya nggak ngantor, jadi terpaksa aku ikut. Terus pintu dikunci, karena aku mau tidur di dalam, aku merasa capek dan ngantuk, mungkin karena hamil," ucap Diba.


"Haduh... keterlaluan Rangga ini," kesal Zahwa pada sang adik.

__ADS_1


Tak Berapa lama, Rangga pun datang.


"Rangga! kok bisa-bisanya sih kamu kunci pintu? Padahal ada istri kamu di dalam sedang tidur, gimana kalau tidak sempat tertolong? coba kamu itu jangan sembrono, masa istri lagi hamil ditinggal-tinggal?" bentak Zahwa lagi.


"Kakak...."


"Aku mau, pokoknya jangan dibawa Diba, jangan dibawa lagi ke kantor, kamu sendiri bisa 'kan ke kantor sendiri? dia lagi hamil, kalau ke kantor capek-capek nanti dia sakit, bayi kalian juga bisa sakit, kalau ibunya sakit. Istri hamil itu harus jaga kesehatannya, bukan dibawa ke sana ke mari kayak boneka aja."


Zahwa merasa kesal dengan adiknya itu.Dia terus ngoceh tak memberi kesempatan pada Rangga.


Diba yang melihat pun ketawa.


"Sudah... Zahwa. tadi aku juga kok Yang minta di kunciin pintu dari luar, karena aku takut kalau ada yang tiba-tiba masuk, padahal aku kan lagi tidur enak," ucap Diba membela Rangga.


"Iya kak, aku yang salah, ntar aku nggak bawa lagi kok, Diba ke kantor, biar aku ke kantor sebentar terus pulang aja deh, biar aku percayakan saja perusahaan itu sama Pak Rahman," ucapnya.


Pak Rahman adalah kaki tangan orang kepercayaan Rangga, yang sangat dia percaya,


"Ya Bagus dong, kamu sadar, lihatlah! Gimana kalau nanti tidak tertolong, malah dia terpanggang di dalam sana, kamu juga... kalau dikunci, tapi berikan juga satu kunci sama dia, jangan semuanya di bawah!" ucap Zahwa dengan adiknya yang sembrono itu.


"Iya kak Sayang, aku salah," ucapnya terus menyalahkan dirinya dengan wajah sendu.


Tak Berapa lama perawat pun datang bersama dokter perempuan cantik. Diba di periksa bagian dadanya, pernapasannya dll.


"Alhamdulillah... istri anda baik-baik saja, mungkin dengan beberapa hari istirahat total, rasa sesak itu akan hilang, jangan sampai ada yang ngerokok di rumah, untuk menghindari sesak yang berlebihan, karena kayaknya dia terlalu banyak menghisap asap. Membuat paru-parunya terasa tidak enak."


"Begitu... Iya Bu, terima kasih banyak," ucap Rangga.


"Kapan saya boleh pulang?" tanya Diba.


"Jangan pulang dulu Sayang, biar kita istirahat di sini aja, beberapa hari sampai kamu pulih betul," ucap Rangga.


"Sebenarnya hari ini pun kamu boleh pulang kok," ucap dokter.


Diba pun tersenyum.


"Ya pulang hari ini saja," ucapnya.


"Besok aja pulangnya, hari ini kita istirahat aja di sini," bujuk Rangga.


"Tapi aku pengen di rumah, di sini mah nggak enak, sedih... " rengek Diba.


Akhirnya Rangga pun setuju membawa pulang Diba hari ini. Setelah menyelesaikan berkas Diba pun di bawa Rangga pulang. Di dalam mobil, saat pulang menuju rumah.


Diba bersandar di bahu suaminya mesra.


"Ga... Kamu tahu nggak kenapa aku pengen cepet pulang?" tanya Diba.


"Kenapa sayang?" sahut Rangga.


"Kalau aku di rumah sakit, mana bisa aku begini sama kamu, aku pengen disayang-sayang, pengen peluk-peluk sama kamu waktu tidur. Kamu 'kan tahu aku sekarang lagi hamil, pengennya deket sama kamu," jawab Diba. Rangga pun tersenyum kemudian mengelus kepala istrinya.


"Ya Allah, jadikanlah kami suami istri yang engkau rahmati"


Do'a Rangga di dalam hati.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2