Mendadak Jodoh

Mendadak Jodoh
Bumil bikin Greget


__ADS_3

Ezra sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, kalau sudah melihat Zahwa menangis, dia pun memeluk Zahwa erat sambil mengelus-elus kepalanya dengan lembut, Ezra membiarkan Zahwa menangis di pelukannya lama, sangat lama.


"Sayang, ayo kita makan! apa perlu ku gendong?" tanya Ezra.


"Bang___ hiks hiks hiks, aku sakit Bang... " ucap Zahwa tiba-tiba.


"Ayo kita makan! Biar ku gendong ya!"


Ezra pun berdiri dan menggendong istrinya, tubuh kekar Ezra tentu tidak masalah mengangkat tubuh mungil Zahwa yang kurus, hanya karena baju syar'i nya lah, sehingga dia terlihat sedikit berisi.


Tap tap tap


Dia berjalan melewati ruang tamu.


Humairo dan Ummi nya pun terpana saat melihat pasangan romantis itu. Sementara Mita kaget.


"Sayang, ada apa? Apa Zahwa sakit?" tanya Mita khawatir.


"Iya Mi, tapi tak apa-apa, aku akan mengurusnya,"


"Sebentar ya Humairo!"


Mita merasa khawatir dan mengikuti Ezra ke dapur.


"Sayang, ada apa?" Mita khawatir.


"Nggak papa Mi, dia cuma lapar aja," ucap Ezra, sementara Zahwa merasa malu, namun dia pura-pura tidak perduli.


Ezra mendudukkan Zahwa di kursi dan mencari lauk juga mengambil nasi.


"Mi, hari ini Ummi masak apa?" tanya Ezra. Karena Ezra tau, dari tadi Zahwa ingin makan masakan Umminya.


"Hari ini aku nggak masak Z'ra, hari ini Bibi masak opor ayam," ucap Mita.


"Huak, huak..."


Spontan Zahwa merasa mual dan pengen muntah saat mendengar opor ayam.


"Sayang ada apa?"


Ezra pun menepuk-nepuk pundak Zahwa lembut.


"Nggak tau huak... " Zahwa terus berusaha memuntahkan makanan namun tak bisa keluar.


Mita pun mengambilkan minyak kayu putih dan mengolesinya di pundak Zahwa, hingga Zahwa merasa nyaman.


"Mi, sebenarnya dia belum makan siang, dia tidak mau makan di jalan, malah memaksa pulang dan ingin masakan Ummi," ucap Ezra.


"Ha! Benarkah? Baiklah, kamu mau makan apa Nak?" tanya Mita khawatir.


"Nggak paap Mi, aku akan coba makan apa yang ada aja," sahut Zahwa merasa tidak enak, karena bakal merepotkan mertuanya.


"Sebentar,"


Mita pun keluar menemui tamunya.


"Maaf Humairo, Ustadzah, menantuku sedang sakit, maaf, kalian menunggu lama, karena aku harus memasak untuk menantuku, dia tidak bisa makan kalau tidak masakan ku," ucap Mita sengaja, agar Humairo dan Umminya tau, bahwa, dia sangat menyayangi mantunya, dan tak akan mengganti dengan yang lain.


"Oh baiklah, kalau begitu, kami pulang saja, maaf mengganggu," ucap mamanya Humairo.


"Tidak papa kalau kalian mau menunggu di sini kok," sahut Mita juga merasa tidak enak.


"Kami pamit saja, assalamualaikum.


"Wa alaikumsalam,"


Mita pun mengantar sampai depan teras. Dan kembali ke dapur.


"Sssst, Mi, Zahwa tidur," ucap Ezra memberi isyarat pada mamanya yang baru datang. Zahwa terlihat tertidur dengan meletakkan kepalanya di atas meja makan berbantalkan tangannya sendiri.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan memasak untuknya, nanti kalau dia bangun, mungkin dia akan kelaparan."


Mita pun memulai dengan mengambil ikan dan sayur mayur. Setelah kurang lebih 30 menit, Mita selesai memasak.


"Aku mau ke kamar dulu ya," ucap Mita.


Mungkin dia lelah dan ingin tidur siang, karena menantu kesayangannya ini mengganggu tidur siangnya.


"Iya Mi, terima kasih Mi," ucap Ezra.


Akhirnya Ezra pun ikut duduk di depan Zahwa dan merebahkan kepalanya juga di atas meja, sambil menatap wajah cantik istrinya.


"Heemmmmm, cantiknya kamu, pengen rasanya aku gigit, kalau udah ngambek, bikin otakku nggak bisa berpikir lagi," gumam Ezra.


***


"Nona, kamu kerja di gedung ini?" tanya Sopir Pa Handono.


"Bukan, aku hanya melihat-lihat, aku calon pemilik gedung ini," ucapnya terlihat angkuh.


"Benarkah? tapi aku belum pernah melihat anda sebelumnya? kami sering ke sini karena Bos ku rekan bisnis Pa Fathir," ucap Sopir.


"Benarkah? aku baru di sini, dan kami pun baru menjalin hubungan sejak seminggu yang lalu," ucapnya lagi.


"Emang kamu berasal dari mana?" tanya sopir penuh selidik.


"Dari Desa," sahut Saila singkat, dia mulai bosan menjawab pertanyaan Sopir itu.


"Saila, kamu di sini rupanya, aku mencari mu ke kantin, ayo kita pulang!" ucap Huda.


Paman Bakso pun kaget saat melihat wajah Huda yang sangat mirip dengan Fathir.


"Jadi ini tunangan mu Nona? Apa dia juga anak Bos Fathir?" Paman Bakso merasa penasaran dengan wajah yang sangat mirip Fathir itu.


"Iya paman, aku anak Fathir," ucap Huda bangga.


"Oooh, aku baru kali ini melihat Tuan," ucap paman lagi.


"Ayo sayang!" Huda pun menggandeng Saila mengajaknya pulang, setelah membayar makanannya.


Setelah keeprgian Huda dan Saila.


"Ooh jadi merwka baru di sini? Tanya Sopir Handono.


"Iya, aku baru melihatnya hari ini, apa benar dia anak Fathir, kalau di lihat dari wajah sih mirip, tapi kayaknya yang ini agak kurang sopan sama perempuan, karena setahuku Rangga atau Zahwa tak pernah mempunyai pacar, atau bersentuhan bergandengan kayak itu," ucap Paman bakso heran.


"Oooh, terima kasih paman, ini,"


Sopir itu pun pergi setelah membayar baksonya.


***


"Jadi gadis itu dari desa?" tanya Handono.


"Iya pa, apa kita ikuti?" tanya Sopir.


"Iya, ayo!,"


Mereka pun mengikuti mobil Huda dari jarak yang sangat jauh.


"Mengapa mereka menuju hotel? apa mereka ingin melakukan sesuatu?" tanya Handono.


"Mungkin saja Bos,"


Huda memarkirkan mobilnya di halaman parkir dan turun sendirian. Tak berapa lama dia kembali ke mobil, ternyata dia hanya mengambil uang.


"Berapa Papamu mengirim uang belanja buatmu?" tanya Saila.


"Hanya 10 juta," ucapnya.

__ADS_1


"10 juta? Mana cukup buat shoping," sahut Saila ketus.


"Nanti aku minta lagi deeeh, sekarang kita pakai aja dulu ini ya?"


Mereka pun pergi meninggalkan halaman Hotel menuju sebuah pusat perbelanjaan.


Sementara Handono dan Sopirnya terus mengikuti mereka. Menunggu di dalam mobil hingga Huda dan Saila kembali dan menuju jalan pulang.


Mereka kembali kekediaman Fathir.


"Sekarang bagaimana Bos?" tanya Sopir.


"Aku akan bertemu dan mencari tau tentang gadis itu, mungkin saja dia anak wulan, atau hanya mirip saja," ucap Handono.


Setelah Huda dan Saila masuk, Handono pun siap-siap turun dari mobil dan memencet bel.


"Assalamualaikum," ucapnya.


"Wa alaikum salam," ternyata Zahwa yang membukakan pintu.


"Maaf, Bapa mencari siapa?" tanya Zahwa.


"Pa Fathir ada?" tanyanya.


"Tunggu sebentar,"


Zahwa pun masuk dan mengetuk pintu Mamanya.


"Ada apa?" tanya Shaina.


"Papa ada? Ada tamu," ucap Zahwa.


"Siapa?" Fathir nongol.


"Nggak tau," jawab Zahwa.


Saila pun terlihat ke luar dari kamarnya dan duduk di dekat meja dan ngeces Hpnya. Sambil menatap HP dan tersenyum-senyum, mungkin dia lagi nonton YouTube.


Tap


Tap


Tap


"Pak Handono? ayo masuk!"


Handono pun masuk sementara sopirnya hanya menunggu duduk di teras rumah.


"Maaf mengganggu, Zahwa dan Shaina pun berdiri di belakang Fathir hanya ingin menyapa sebentar, setelah itu mereka pun pergi, Shaina mengambilkan minum, sedang Zahwa masuk ke kamarnya.


"Nggak apa-apa, bagaimana kabar istri bapak sekarang?" tanyanya.


"Alhamdulillah, mulai membaik, sudah operasi kanker rahim, mudahan tambah membaik," ucapnya.


"Apa ada yang ingin Bapak bicarakan? aku sampai kaget, mendadak sekali Bapak kemari," tanya Fathir sedikit grogi, karena di datangi rekan bisnisnya yang kaya raya itu.


"Yang tadi nukain pintu anakmu ya?" tanyanya.


"Iya,"


"Kalau yang itu?"


Handono menunjuk ke Saila.


"Bukan, anak tetangga," ucapnya.


"Apa boleh kita bicara rahasia?" ucap Handono.


"Boleh, ayo kita ke ruanganku____ Sayang, bawa minumnya ke ruangan saja ya,"

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2