
Membunuh?
Zahwa kaget saat mendengar percakapan Bima dan Yola di ruang tamu.
Apakah ada yang Rangga dan Yola sembunyikan akhir akhir ini?
"Uhuk uhuk."
Zahwa pura pura batuk saat keluar dan pura pura memegangi lehernya.
"Eh Tuan Bima?" Zahwa menyapa Bima.
Tap tap tap
Rangga menuruni anak tangga. Dan menatap Sinis pada Bima. Dia sangat membenci Bima setelah tau Bima ingin membunuh Yola.
"Kak Zahwa, apa besok kakak ke kampus?" tanya Rangga.
"Ke kampus sebentar, ada apa?" tanya Zahwa.
"Biar Rangga yang antar, nanti siangnya Rangga yang jemput, Rangga takut nanti kakak ada yang ingin mencelakai." Rangga menatap Bima dan juga Yola dengan tatapan sangat sinis dan menusuk.
Bima merasa Yola sudah menceritakan semuanya pada keluarga ini, Rangga menjadi panas dingin karena merasa was was dan takut.
"Zahwa, aku cuma antar ini, titipan mama, kalau begitu aku pamit."
Bima berdiri dan meletakkan bungkusan kecil berbentuk kotak.
"Oh, apa tidak minum dulu?"
__ADS_1
"Tidak usah."
Bima tergesak-gesak meninggalkan Ruang tamu, di ikuti Rangga ke depan pintu, sementara Yola dan Zahwa hanya berdiri di tempatnya semula. Sesampai di teras.
"Awas! aku memperingatkan mu satu hal! seujung kuku saja kau menyakiti kakakku Zahwa, maka perusahaan orang tuamu akan jatuh dari langit ke tujuh, ke dasar terdalam bumi, mengerti!" ancam Rangga.
"Heh, emang siapa kau berani mengancam ku seperti itu?"
Akhirnya Bima punya keberanian melawan. Kalau di hadapan Zahwa, seakan dirinya kaku dan tak berdaya, entah mengapa, kesopanan Zahwa sebenarnya telah menjerat hatinya, namun ke egoan nya di hadapan orang lain membuatnya tetap keras kepala.
"Kau tidak mengenalku? masa iya kau tidak kenal denganku? Aku, Rangga Linggar Pratama dari perusahaan Linggar, yang membantu perusahaan Ayahmu kemaren." ucap Rangga dengan wajahnya yang terlihat angkuh dan sombong. Bukankah orang sombong itu harus di hadapi dengan kesombongan juga?
"Kau, cucu Pak Pratama itu?" Bima kaget dan beranikan bertanya.
"Ya...aku." jawab Rangga.
"Ooh, baiklah, aku pamit, assalamualaikum." Tiba tiba Bima seperti di ikat di leher dia memelankan suaranya dan pergi meninggalkan Rumah Zahwa.
"Bukankah itu pacar Zaira? pasti dia sedang menunggu Zaira, lihatlah lelaki itu sangat tampan!" Ucap Linda, Teman Zaira dan sekaligus pacar tetap Bima.
"Oh God....mengapa ada orang setampan dia? Kayaknya aku perlu merebut ni orang." ucap Saila yang juga sahabat Zaira.
"Husst, apaan sih." ucap Linda.
"Ha ha ha."
Zahwa ke mana ya? Kok nggak kelihatan?
Bathin Ezra.
__ADS_1
Dia celingukan menatap Ke dalam kampus untuk mencari sosok yang ingin di lihatnya.
"Z'ra, ngapain Loe tengak tengok? nyari in Zaira? ada tuh di taman sama teman teman lelakinya, lagi pangku-pangkuan hi hi." ucap Lukman masih tetangga jauh sama Ezra.
"Di mana?" Ezra pun pura-pura pengen tau, padahal entah mengapa hatinya kini terasa hambar dan hampa sama gadis itu.
"Ayo masuk! Biar aku antar." Mereka pun berjalan ke dalam menuju taman.
"Emangnya Loe serius ya sama Zaira, secara kan kamu ini F*natik, pacaran kayak jadul gitu, malah agresif teman teman Zaira dari pada elo." ucap Lukman.
"Entahlah, dulu aku memang berusaha merubahnya, namun seiring berjalannya waktu, aku merasa dia bukanlah jodohku." jawab Ezra.
"Tuh lihat."
Di sana memperlihatkan Ada beberapa teman cewek, dan Zaira sedang duduk di samping teman cowoknya di bangku panjang, teman cowoknya itu merentangkan tangannya dan melingkar di leher Zaira.
"Ngapain dia duduk begitu?" Dengan menahan amarah di dadanya.
"Ya emang begitu kesehariannya dengan teman temannya, mereka menganggap biasa kok." ucapnya.
Deg
Darah Ezra bergetar saat melihat adegan tak senon** di hadapannya, tangan lelaki itu dengan sengaja sambil tertawa menempel kilat di gunung milik Zaira.
"Terimakasih ya." Ezra berjalan menuju Zaira Entah apa yang ingin dia lakukan.
"Zaira! aku ingin bicara!" icap Ezra sedikit membentak.
"A Ezra." Zaira panik dan langsung berdiri sedetik kemudian dia berjalan mendekati Ezra. Ezra pun berpaling dan mengajaknya ngobrol di pojokan taman.
__ADS_1
"Zaira...." sungguh berat suara Ezra terdengar, membuat gugup Zaira, dia tau, dia akan kena marah lagi kali ini. Tapi apakah hanya kemarahan yang sering dia dapat dari Ezra, ataukah yang lainnya.
BERSAMBUNG...