
Seorang laki-laki berkulit sawo matang baru saja menyeleseikan sholat dhuha. Enam bulan lalu ia membangun mushola ini. Letaknya di samping sebelah pintu masuk perusahaannya. Ia ingin semua karyawannya bisa menjalankan ibadah sholat di tempat ini. Walaupun tidak terlalu besar ukurannya, namun mushola ini dibuat sangat nyaman. Ada taman kecil di depannya. Siapapun akan betah di sana. Ia merasa berkewajiban untuk memberikan fasilitas ibadah. Tidak hanya itu, ia juga harus bisa menjadi contoh yang baik. Dialah Ammar pemilik bisnis konveksi yang omsetnya sudah milyaran tiap bulannnya.
Ammar sedang mengenakan kaos kaki. Matanya menoleh pada gadis berkerudung tosca yang tengah duduk di sampingnya. Tak sengaja iris mereka bertemu. Walaupun hanya beberapa detik, ia bisa menangkap dengan jelas, gadis bermata indah tersebut. Sepertinya gadis itu juga baru selesei sholat dan tengah menunggu seseorang. Mereka hanya berjarak sekitar tiga meter. Gadis berkuling kuning langsat itu segera menundukkan pandangan. Sementara Ammar masih tergagap melihat pemandangan indah di dekatnya. Beberapa detik kemudian ia baru menyadari. Matanya langsung beralih. Namun pikirannya bertanya-tanya. Ia hafal betul semua karyawannya. Jelas bukan gadis ini. Sebenarnya Ammar ingin bertanya, sedang menunggu siapakah gadis itu. Tapi Ahh..mana mungkin dia menanyakan itu.
Ammar meninggalkan gadis berkerudung tosca itu untuk kembali ke ruangannya di lantai dua. Tanpa menyapanya sedikit pun. Hatinya berbisik. Ayo berbalik, sekedar mengucapkan salam kan tidak ada salahnya. Tapi lagi-lagi dia menggeleng. Tidak-tidak.
Dari jendela kaca ia bisa melihat dengan jelas karena posisi mushola tepat di depannya. Ia bisa mengamati gadis itu dari ruangannya. Bahkan lebih leluasa. Ia meraba dadanya. Masihkah ia berdegub. Sungguh jelita mahluk Allah yang satu ini. Masyallah.
Tiga puluh menit sudah berlalu. Sesekali Ammar melirik gadis itu. Ia masih belum beranjak. Berkali-kali ia mengucap istigfar. Kenapa pula hati ini begitu gusar? Sejak berpisah dengan Diba tiga tahun lalu, hatinya begitu hampa. Gadis yang diimpikan bisa bersanding di pelaminan, kandas di tengah jalan. Sejak saat itu hidup Ammar hanya berisi kerja..kerja..kerja.
Sebuah mobil box memasuki areal parkir. Tadi pagi ada pengiriman mukena di toko citra daerah Surabaya barat tidak jauh dari kantornya. Seorang laki-laki berusia lima puluhan, yang duduk di belakang kemudi bergegas membuka mobil. Dengan agak tergopoh, ia berjalan menuju mushola. Gadis berkerudung tosca itu berdiri dan menyerahkan bingkisan yang berisi makanan. Mereka mengobrol tidak lebih dari tiga menit. Kemudian gadis itu pamit dan bersalaman dengan laki-laki tengah baya itu. Ammar memperhatikan dua manusia terpaut usia jauh itu dari jendela kaca ruangannya dengan penuh tanda tanya.
“Son” Ammar memanggil manager segala urusan.
“Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?”
“Bisa minta tolong panggilkan Pak Faisol.”
Dengan sigap pria yang berusia tiga puluh tiga tahun bergerak cepat. Tidak sampai lima menit Pak Faisol telah berada di depan pintu.
Pak Faisol berjalan menuju lantai dua. Ia menapaki anak tangga dengan penuh tanda tanya. Ada apa gerangan bos muda memanggil dirinya. Biasanya urusan pekerjaan hanya sampai di bagian gudang. Paling tinggi juga di bendahara gaji. Selama satu tahun bekerja di perusahaan ini, tidak lebih dari dua kali berbicara secara langsung dengan pemiliknya. Itu pun hanya sebentar. Pertama saat awal bekerja. Kedua, saat bosnya ini memberikan bantuan bea siswa bagi anaknya. Selebihnya saat berpapasan tidak sengaja, biasanya bos muda ini tersenyum dan menjawab salamnya. Namun bukan berarti bosnya ini sombong. Sebagai karyawan bagian bawah ia merasakan kebaikan si bos ini. Selain tekun beribadah ia juga dermawan. Bagaimanapun Pak Faisol merasa deg-degan ketika Son, manajer segala urusan ini memanggilnya untuk menghadap Pak Bos.
Suara pintu diketuk.
“Silahkan masuk.”
__ADS_1
Bos ganteng ini tersenyum manis menyambut kedatangan Pak Faisol. Lagi-lagi Pak Faisol tertegun dan ragu. Apakah dirinya sudah melakukan kesalahan dalam bekerja. Tapi raut muka si bos nya ini kok senyum-senyum.
“Duduk Pak.” Pak Faisol duduk berhadapan dengan Ammar.
“Bagaimana pengiriman hari ini, lancar Pak?” sapa Ammar.
“Alhamdulillah Pak, lancar.”
“Tadi kirim kemana kok cepat, Pak?” Tanya Ammar lagi.
Pak Faisol menjawab setiap pertanyaan bos muda ini dengan cepat tidak bertele-tele. Ia hanya menjawab sesuai pertanyaan. Tidak lebih dan kurang. Sebagai karyawan apalagi posisinya hanya rendahan ia harus bisa menjaga etika. Sebaik apapun bosnya, ia tidak boleh kurang ajar, seperti banyak bicara atau menanyakan hal yang tidak perlu.
Tentu saja ia masih bingung, kenapa sih si bos harus repot-repot memanggil dirinya. apalagi hanya untuk bertanya hal remeh-temeh, batinnya. Lagian itu kan tidak terlalu penting, pasti banyak hal yang jauh lebih penting. Selama beberapa menit Ammar masih muter-muter pertanyaannya. Pak Faisol semakin tidak mengerti jalan pikiran si bos ini. Sebenarnya maunya apa sih. Tapi lagi-lagi pak Faisol ini harus menjaga lisannya supaya tidak keceplosan. Dalam hati ia berdoa, Ya Allah jagalah lisanku.
Ammar menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Menyadari betapa konyol pertanyaannya. Lagian apa urusannya. Benar-benar seperti tidak punya kerjaan saja.
“Ohh maaf Pak. Itu tadi anak saya. Dia tadi mengantar makanan untuk saya, karena saya berangkat pagi sekali untuk mengirim ke toko, jadi belum sempat sarapan dari rumah. Setelah itu dia langsung ke kampus. Kami hanya berbicara sebentar tidak lebih dari lima menit. Kalau itu dianggap mengganggu, saya akan larang anak saya untuk datang. Sekali lagi maaf.” Ucap Pak Faisol sambil membungkukkan badan. Ia meremas-remas jarinya.
“Oh tidak-tidak sama sekali tidak mengganggu. Saya justru..”
Ammar menggantung ucapannya. Ia ingin mengatakan kalau ia sangat senang, bahkan kalau bisa tiap hari bahkan kalau perlu jamnya juga ditentukan, jadi ia bisa ikut menemuinya. Ammar menyadari, betapa konyol pikirannya.
“Sebelumnya pernah ke sini?” Ups Ammar menutup mulut dengan tangannya.
Pertanyaan apa sih ini. Sejak kapan juga ia kepo dengan urusan orang.
__ADS_1
“Iya Pak, minggu lalu bahkan hampir tiap hari anak saya antar dan jemput saya, saat motor saya di bengkel.”
Pak Faisol terlihat begitu khawatir kalau si Bos kurang senang jika pekerjaannya terganggu. Ammar tampak diam. Pak Faisol terus berzikir dengan jari-jarinya. Ia berdoa semoga si bosnya tidak marah. Tapi bukankah ia hampir belum pernah mendengar si bos ini marah.
“Apa dia sudah punya pacar?”
Pak Faisol kaget dengan pertanyaan si Bos. Begitu juga dengan Ammar sendiri. Ia nyaris tidak percaya pertanyaan itu keluar dari mulutnya. Ammar geleng-geleng sambil tersenyum kemudian mengusap wajahnya dengan kasar.
“Nanti akan saya tanyakan pada istri saya. Karena ia dekat sekali dengan ibunya. Setau saya kok belum. Tapi yang suka sama dia sebenarnya banyak sih Pak.”
Pak Faisol tersenyum saat mengucapkan kalimat terakhir.
Ammar kaget dengan jawaban Pak Faisol. Roman mukanya langsung berubah.
Tapi, sebentar-sebentar. Anak Pak Faisol? Apa tidak salah ya, ck..ck. Mungkin mirip ibunya, Ammar bergumam dalam hati.
“Ya sudah Pak, Bapak boleh meneruskan pekerjaan.”
“Baik saya pamit. Matursuwun.”
Pak Faisol meninggalkan ruangan Ammar dengan perasaan lega. Tapi dia bingung kenapa bosnya ini kok ingin tahu anaknya sudah punya pacar atau belum. Apakah itu begitu penting?
Sementara itu Ammar masih senyum-senyum sendiri di dalam ruangan. Pandangannya ke bawah tepat dimana gadis berkerudung tosca tadi duduk. Seolah ia masih melihat bayangan itu di sana. Apakah dirinya sudah kehilangan kewarasan?
🌴🌴🌴❤
__ADS_1