
Aku masih berdiri di ambang pintu ketika wanita itu menarik tanganku, dan mengaku sebagai mamaku. Tentu saja aku menampiknya. Dia saja tidak mengenaliku saat berada di toko baju, sekarang dia ke rumah Papa lalu mengakuiku sebagai anaknya.
Aku dengan terang-terangan mengatakan bahwa aku bukan anaknya. Namun, wanita itu tetap kekeh dan berkata bahwa tidak mungkin dia salah mengenali anaknya. Lalu, yang tadi di mal itu apa? Bukankah tadi dia hanya tersenyum tanpa mengenali aku?
“Sabrina cukup!” teriak Oma yang membuatku menoleh padanya.
Oma yang tadinya masih sibuk membayar ongkos taksi, kemudian menghampiriku yang masih berdiri di hadapan Mama.
“Ma, aku pengen ngobrol sama Kimmora, Ma,” kata Mama dengan tangan dirapatkan seakan Mama sedang memohon pada Oma.
“Maaf, Nyonya. Saya rasa tidak ada yang perlu dibahas antara kita. Saya bukan anak Anda, karena mamaku sudah meninggal sejak dua belas tahun yang lalu.” Aku berjalan meninggalkan Mama dan Oma, dengan langkah cepat masuk ke dalam rumah Papa.
Setelah bertemu Mama, aku mengunci diri di kamar. Tidak ingin diganggu Oma, atau siapapun, aku memilih menghabiskan waktu menonton drama korea dengan volume kencang.
Aku menangis sejadi-jadinya saat drama menampilkan adegan sedih yang menyayat hati. Bukan karena drama itu, mungkin aku menangis karena sedih diabaikan oleh Mama.
Bertahun-tahun aku hidup tanpa kasih sayangnya, Papa dan semua orang tidak pernah memberi tahu kenyataannya, membuatku menebak-nebak apakah Mama sudah meninggal, atau Mama masih hidup dan melupakanku.
Setelah bertemu Tante Sabila, aku tidak percaya bahwa seorang ibu rela meninggalkan anaknya demi kesenangannya sendiri. Namun, hari ini, setelah melihat semuanya dengan mata kepalaku sendiri, aku menjadi yakin, bahwa Mama benar-benar tidak peduli denganku. Aku sangat yakin, kedatangan Mama pasti karena satu tujuan yang aku belum mengerti.
Lama melamun karena lelah menangis, aku dikejutkan dengan kemunculan Arsen dari balkon kamarku. Napasnya terengah-engah, menandakan dia baru saja melakukan kegiatan yang melelahkan.
__ADS_1
“Oppa, kamu kenapa?” tanyaku sambil mengusap keringat di wajah Arsen. Penampilannya begitu berantakan, rambutnya sudah tidak se-rapi tadi pagi, juga kemejanya sudah keluar kemana-mana.
Dengan napas terengah-engah, ia langsung memelukku erat, lalu mengusap-usap rambutku.
“Kamu baik-baik saja, ‘kan?” Arsen mengurai pelukannya, tetapi tangan kirinya masih memegang erat pinggangku.
“Aku baik-baik saja, kamu kenapa muncul dari balkon?” tanyaku. Bingung pastinya melihat Arsen yang terengah-engah muncul dari balkon kamar. Apa dia memanjat tembok?
“Kamu kunci pintunya, diketuk, digedor kamu nggak menyahut, yaudah aku masuk lewat kamar Kak Darren. Mau pakai kunci cadangan, tapi kunci cadangan kamar ini kan ada di laci, waktu kamu ngambek pulang dari pantai, ingat?”
“Ngapain bahas itu sih, kamu kasihan sama Yumna yang aku timpuk pake bola.” Aku berjalan menuju ranjang, dan merebahkan diri di atas kasur empuk milikku.
Arsen mematikan layar televisi, sehingga suasana menjadi hening. Lalu, ia berjalan mendekatiku dan ikut naik ke kasur, dan memelukku.
“Apaan sih, lagian kenapa kamu repot-repot manjat terus lompat dari balkonnya Kak Darren? Kenapa nggak di dobrak aja?” Kamu nggak kuat ya?” Aku mengejek Arsen.
Namun, laki-laki itu malah mengukungku “Karena kalau aku dobrak dan rusak, malah bahaya nanti malam,” bisiknya.
Arsen benar-benar laki-laki yang mesum. Entah mengapa sejak malam pertama kami, setiap kalimat yang diucapkannya tidak jauh dari hal-hal yang menjurus seperti itu.
“Kamu tadi ketemu mama ya?” tanya Arsen yang masih berada di atasku.
“Aku nggak punya Mama, mamaku udah meninggal Arsen," jawabku malas.
__ADS_1
“Aku akan selalu mendukungmu, Sayang. Apapun yang kamu rasakan, apapun yang kamu inginkan, katakan saja.” Arsen memandangku begitu lekat.
"Dia bukan mamaku. Dia nggak langsung mengenali aku.” Air mataku mengalir saat aku mengatakan itu pada Arsen.
Sementara Arsen terus mendengarkan ceritaku. Aku mengatakan semuanya, saat aku dan Mama memilih baju yang sama.
Berkali-kali Arsen menghapus air mata yang mengalir deras dari mataku. Ia menatapku dalam-dalam, membuatku merasa nyaman menceritakan semua perasaanku. Rasa sakit dan kecewaku, aku mengatakan semuanya pada Arsen.
“Kalau kamu mau, aku bisa membuatmu melupakan kesedihanmu,” kata Arsen.
“Caranya?”
🌹🌹🌹
...Hayo-hayo, apa ya yang mau dilakukan bang Arsen....
Dah lah, aku polos, diam saja. Biarkan kalian yang lebih paham ini bersuara.
Yok, ritual jejaknya jangan lupa!
Biar aku makin sayang, eh, makin semangat maksudnya.😄😄😄
Makasih udah setia sampai detik ini. Sayang-sayangnya Kimmy-Arsen.
__ADS_1
Sampai ketemu besok, kalau ingat 😄😄😄