Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
BAB 74


__ADS_3

Sedari tadi, Arsen hanya diam. Merenung, menatap lurus pada air danau yang begitu tenang. Semilir angin yang menerpa rambutnya membuat Arsen begitu tampan.


“Kata Bapak, Ibu meninggal saat melahirkan aku.” Arsen kini berbalik badan. Ia menyandarkan tubuhnya pada pembatas jembatan, lalu menarikku ke dalam pelukannya.


“Arsen ini tempat umum!” protesku.


“Ada orang lewat, Sayang. Aku nggak mau ada yang nyentuh kamu selain aku,” jawabnya dengan begitu posesif.


Aku hanya mengerutkan dahi saat menyaksikannya, jalanan di jembatan ini cukup luas, tidak mungkin orang akan dengan sengaja menabrakku. Dasar Arsen, jadi suami posesif banget.


“Arsen, jadi kita sama-sama nggak punya ibu ya,” ucapku yang masih dipelukan Arsen.


“Aku dan kamu punya Ibu Sri, kamu dari kecil sama beliau, aku juga.” Arsen mengubah posisinya, kini ia di belakangku, dengan kedua tangannya di sampingku berpegangan pada besi pembatas jembatan. 


“Oh ya. Kamu dulu tinggal di mana sebelum ke ibu kota,” tanyaku tanpa menoleh padanya.


“Dulu sama nenek, tapi pas SMA nenekku meninggal. Waktu itu kamu juga datang ke pemakaman, ‘kan? Karena kamu datang itu, aku dipaksa bapak untuk sembunyi di rumah tetangga.” Arsen memajukan wajahnya tepat di sampingku, membuat bahu kami saling bersentuhan.


“Benarkah? Pak Aji sayang sekali sama aku ya daripada sama kamu.” Aku tertawa membayangkan bagaimana kacaunya Arsen saat itu.


“Dasar!” Arsen kembali mengacak rambutku.


***


Hari mulai gelap saat aku dan Arsen memutuskan pulang. Sebenarnya kami berencana kembali di sore hari, tapi kami kemalaman gra-gara Arsen.


Bagaimana tidak kemalaman, jika setelah pulang dari danau, Arsen kembali merayuku, membawaku meledak bersamanya di atas langit ke tujuh lagi da lagi.


Kami melewati jalanan berliku, melewati turunan dan tanjakan yang sepertinya tak ada habisnya. Namun, Arsen tiba-tiba menghentikan motornya dan berbalik menatapku tanpa turun dari motor.


“Kenapa berhenti?” tanyaku tak mengerti.


“Kamu nggak mau lihat pemandangan malam di sini? Turun bentar yuk!” Arsen mengulurkan tangannya untuk membantuku turun dari motor milik Kak Darren ini.


Dari atas bukit ini, aku bisa melihat dengan jelas bagaimana pemandangan kota saat malam hari. Meski yang terlihat hanya lampu yang berkelap-kelip, tapi tetap saja semuanya tampak begitu indah.

__ADS_1


“Cantik, ’kan?” Arsen memandangku, lalu aku langsung merangkul pinggangnya.


“Iya, makasih udah ajak aku ke tempat sebagus ini.” Aku menatap wajah Arsen.


“Aku pengen kamu bisa tahu, kalau pemandangan ini benar-benar cantik, maka di mata aku, kamu seribu kali lebih cantik," kata Arsen.


“Kamu gombal banget deh.” Aku langsung menenggelamkan wajahku ke dalam dada bidangnya.


“Kimmora,” panggil Arsen setengah berbisik.


“Iya.” Aku mendongak untuk menatap matanya.


“Aku mencintaimu.” Arsen merapatkan wajahnya ke wajahku. Menyampaikan cintanya dengan embusan napasnya yang hangat menerpa wajahku.


Arsen langsung me*lu*ma*t bibirku, tangannya mengusap-usap kepalaku di bagian belakang. Aku membuka mulutku untuk membiarkan Arsen melakukan apa yang ia inginkan. Aku mengalungkan tangan di lehernya untuk mengimbangi ciumannya yang lembut. Untuk sesaat aku dibawa hanyut oleh arus cinta Arsen yang begitu membuatku terombang-ambing.


Karena begitu menikmati ciuman, kami begitu terkejut saat tiba-tiba ada orang berdeham di samping kami.


Aku dan Arsen sama-sama terkejut saat dua orang polisi berdiri di hadapan kami, lengkap dengan mobil patrolinya.


“Kami … kami … sedang, eh, menikmati pemandangan, Pak,” jawab Arsen.


“Sambil berciuman?” sahut polisi satunya.


“Em, itu, kita bisa jelaskan, Pak.” Arsen terlihat sedikit panik.


“Pak, kami sudah menikah, dan tadi cuma terbawa suasana saja.” Aku ikut meyakinkan polisi itu.


“Di tempat ini sudah sangat banyak hal seperti ini, lebih baik kalian tunjukkan KTP!”


Aku dan Arsen kemudian mengeluarkan kartu tanda penduduk kami, dan menyerahkannya pada polisi itu.


Polisi itu nampak mengerutkan dahi, lalu memandang remeh padaku dan Arsen.


“Kalian ini masih sangat muda, bisa-bisanya membohongi aparat.”

__ADS_1


Arsen memandangku, sambil berkedip-kedip.


“Kenapa?” tanyaku pada Arsen.


“Kita kan belum mengubah status di KTP, aku juga nggak bawa buku nikah,” jawab Arsen yang membuatku menjadi ikut panik,


“Bukannya tadi di danau, kamu bilang bawa buku nikahnya?” tanyaku. Aku ingat tadi Arsen mengatakan itu pada bapak-bapak yang mengatakan bahwa kami mesum di tempat umum.


“Aku cuma bercanda aja.” Wajah Arsen terlihat bingung.


“Hah, yang bener aja Arsen.Terus gimana sekarang? Handphone kamu mana?”


“Low-bat,” jawabnya pasrah.


Aku tertawa garing.


"Sudah ngobrolnya? Sekarang ikut kami ke kantor, motornya akan kami bawa juga.”


Aku dan Arsen saling pandang, benarkah kami akan dipenjara karena berciuman?


🌹🌹🌹


...Hah, Rasain! Salah sendiri piknik nggak ajak-ajak istri kedua. Othor panggilin Pak Pol deh jadinya....


Hai Gengs, apa kabar kalian?


Othor udah nggak wafer eh baper maksudnya.


Tapi untuk update, nggak janji ya bisa double up!


Tapi sehari tetep Othor usahain untuk update.


Oh ya, mohon maaf ya barangkali prosedur di kepolisian tidak seperti cerita Kikim. Semuanya murni karena kehaluan Othor 😁😁


Okay, Ritual Jejaknya jangan lupa, seperti biasa. Like + Komen + Kembang + Kopi + Vote + Favorite Sesekali kirim hati juga boleh 😍😍😍

__ADS_1


Sampai ketemu hari lebaran ♥️♥️♥️


__ADS_2