Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
BAB 88


__ADS_3

Setumpuk kado telah berpindah ke kamarku. Belum ada satupun yang kubuka, karena aku masih penasaran dengan kado apa yang diberikan Arsen untukku.


“Ini, kado yang udah aku persiapkan beberapa minggu ini.” Arsen menyerahkan kado berbentuk tabung dengan bungkus kado berwarna merah muda, tanpa hiasan pita atau bunga atau apapun, hanya merah muda polos saja.


“Apa ini?” tanyaku sambil memutar benda kecil yang panjang itu. Sebenarnya ini tidak terlalu menarik, karena aku pikir Arsen akan memberikanku kado kalung atau cincin, atau setidaknya buket bunga. Ini apa? Dari tampilannya nampak meragukan.


“Buka aja.” Arsen duduk di sampingku di tepi ranjang.


Aku pun membuka bungkusan itu secara perlahan, deg-degan juga apa isi aslinya.


Apa ini? Selembar kertas putih diikat karet gelang warna hijau. Jangan-jangan bungkus kacang yang dibeli Arsen.


Dengan sedikit khawatir karena takut kecewa, aku membuka karet gelang yang mengikatnya. Perlahan aku membaca isi kertas itu di dalam hati.


“Oppa, ini apa?” tanyaku dengan menunjukkan kertas yang bertuliskan ‘Surat Pernyataan Kepemilikan Tanah’. Ada namaku dan nama Arsen di dalamnya.


“Itu hadiah dariku, hasil dari tabungan dan investasi yang selama ini aku kembangkan.” Arsen tersenyum dengan bangga.


“Kamu membeli ini dengan seluruh tabungan kamu?” tanyaku sedikit ragu.


“Nggak semua, Sayang. Masih ada sisa 20 persen aja sih tabungan kita, tapi setidaknya kita ada harapan untuk hidup bahagia, nggak terus-terusan tinggal di kontrakan, ‘kan?” Arsen mengusap kepalaku.


“Tapi papaku punya banyak tanah, pasti Papa akan kasih kita tanpa perlu kita beli.” Aku menatapnya dengan serius.


“Nggak, Sayang. Kamu sekarang tanggung jawab aku, semua kebutuhan kamu adalah kewajibanku. Ya, aku akui aku bisa mendapat tanah itu dengan harga murah karena relasi papa, tapi aku jamin, papa nggak mengeluarkan uang sepeser pun dari jual beli ini.”


“Oppa, kamu benar-benar dewasa, aku kagum banget sama kamu.” Aku memeluk Arsen.


“Aku nggak bisa janji kapan rumah kita akan dibangun, tapi setidaknya kita sudah memiliki tanah.” Arsen membalas pelukanku dengan mengusap-usap punggungku.


“Terima kasih, Oppa. Aku mencintaimu.” Aku semakin mengeratkan pelukanku pada tubuh Arsen.

__ADS_1


“Kamu serius? Coba ulangi lagi, aku mau merekamnya, karena ini pertama kalinya kamu bilang mencintaiku.” Arsen mengurai pelukan kami dan hendak berdiri.


“Ah udah ah, aku malu.” Aku berjalan meninggalkan Arsen, menuju tumpukan kado yang menungguku untuk dibuka.


Sebenarnya, aku sangat malas, tapi Oma mewanti-wanti agar aku memakainya malam ini juga.


“Aku penasaran, apa sih yang Oma kasih sampe aku harus laporan, pake disumpah segala nggak boleh bohong. Kenapa nggak minta foto aja, ya?” celoteh Arsen yang menyusulku.


“Nggak tau, dari Oma ada lima, ‘kan? Apa harus aku pakai semua?”


“Oma bilangnya gitu, Sayang.”


“Aku buka ini dulu, pasti ini cincin berlian, Oppa.” Aku mulai membuka dari kotak terkecil yang sudah ditandai dengan angka 1. Dari tampilannya yang cantik, aku yakin isinya pasti cincin, atau mungkin kalung. Lalu, aku membuka pita yang mengikat kotak itu, dan ternyata isinya lipstik dengan warna merah menyala.


“Apa ini?” Aku menunjukkan lipstik pemberian Oma itu kepada Arsen.


Arsen malah tertawa terpingkal-pingkal. “Cincin model baru, Sayang,” candanya masih dengan sisa-sisa tawa.


Dengan kesal, aku membuka kado kedua dari Oma. Sebuah bungkus kado yang mirip paper bag, berhiaskan dasi kupu-kupu lengkap dengan tiga kancingnya. Semoga isinya tiket liburan ke Korea.


“Apa itu?” tanya Arsen yang sudah menunggu.


Aku menarik keluar kotak berisi cairan wangi yang bertuliskan nama sebuah merek ternama. Jika ini asli, satu botolnya bisa mencapai belasan juta rupiah.


“Parfum,” jawabku setengah malas.


Sebenarnya Oma ingin aku bermain apa sih, sampai aku harus memakai parfum di malam hari tanpa pergi ke manapun.


“Parfum mahal, ya? Udah lanjutin lagi Sayang, mungkin aja ada yang benar-benar kamu inginkan,” kata Arsen.


“Iya, tapi ngapain parfum aja harus banget dipakai malam ini,” jawabku.

__ADS_1


Kemudian aku mengambil kotak ketiga dari Oma. Dari bentuknya sama seperti kado pertama, tapi yang ketiga ini sedikit lebih besar.


Lagi-lagi aku dibuat bingung dengan kado dari Oma.


“Ini kayaknya buat kamu deh, Oppa.” Aku menyerahkan gulungan dasi berwarna senada dengan lipstik di kado pertama tadi.


“Tapi Oma bilang itu buat kamu,” sahut Arsen yang kini menyerahkan kado keempat dari Oma.


“Apa lagi ini?” Aku menerima kotak yang ukurannya paling besar. Dari beratnya, jelas tidak mungkin ini sebongkah berlian.


Dengan kesal aku merobek kado yang tidak dihias apapun kecuali tulisan angka empat di luarnya.


Isinya sebuah sprei yang lagi-lagi berwarna merah bergambar dua angsa ciuman yang membentuk hati. Oma benar-benar norak.


“Nenek Sihir itu nyuruh kita tidur dengan sprei baru, Oppa.” Aku meminta Arsen untuk mengambilkan kado terakhir dari Oma.


“Semoga kado terakhir nggak mengecewakan ya, Sayang,” ucap Arsen sambil menyerahkan paper bag warna tosca yang dihias pita merah muda di bagian atasnya.


“Semoga aja.” Aku pun membukanya dengan tidak sabar, dan muncullah wujud asli dari kado kelima yang membuatku bergidik ngeri.


“Wau, seksi sekali,” ucap Arsen dengan wajah melongo memperhatikan pakaian minim yang tidak layak disebut dalaman.


Sebenarnya, yang ulang tahun aku atau Arsen, kenapa Oma memberiku pakaian mengerikan ini?


❤❤❤


...Apa sih Kim isinya, kepo deh. Nanti malam kasih tahu aku ya, Kim 🤭🤭🤭...


Hay gengs lollipop, aku balik lagi. Semoga masih ada yang kangen aku 😍😍


Sebenarnya mau bikin bab hareudang, tapi kan siang, nggak asik lah. Nanti malam ya Insya Allah 🤭🤭🤭

__ADS_1


Ritual jejaknya jangan lupa 🥰🥰🥰


See U again 👋👋👋


__ADS_2