
Jam makan siang hampir tiba, dengan langkah anggun, aku berjalan menuju ruangan Arsen. Sudah tidak ada lagi drama tanya jawab dengan resepsionis, karena pegawai Papa itu sudah tahu bahwa aku adalah istri Arsen.
Sampai di ruangannya, aku melihat Arsen sedang bersandar di kursi sambil memijat kepalanya.
"Kamu kenapa? Masih mual terus ya?" tanyaku sambil menutup pintu lalu berjalan mendekatinya.
"Iya, kamu bawa rujaknya kan, Sayang?" Arsen terlihat lemas.
"Iya aku bawa, tapi makan nasi dulu ya." Aku membuka kotak bekal yang sengaja aku siapkan dari rumah. Ada nasi, sambal goreng ati dan sayur bayam yang aku masak sendiri. Aku juga membawakan rujak mangga permintaan Arsen.
"Aku makan mangganya dulu deh." Arsen meraih kotak berisi irisan mangga dan juga sambal rujak yang juga aku buat sendiri.
"Makan nasi dulu, baru makan rujak, nanti sakit perut loh." Aku menyuapkan nasi pada Arsen.
"Kamu udah makan belum?" tanya Arsen yang kemudian aku jawab dengan menggelengkan kepala. Kemudian Arsen mengambil sendok, lalu menyendokkan nasi ke mulutku.
Satu kebiasaan kami saat makan berdua adalah saling menyuapi. Kami akan makan di piring yang sama sambil memandangi wajah satu sama lain. Mungkin karena hal-hal kecil seperti itulah, aku dan Arsen jarang sekali bertengkar.
Saat kami masih asik makan saling menyuapi, suara ketukan di pintu ruangan Arsen membuat aktifitas mesrah kami sedikit terganggu. Tak lama Kak Darren masuk setelah diizinkan oleh Arsen.
"Enak banget makan siang romantis berdua gini." Kak Darren duduk di sampingku, menatap aneh pada kotak bekal berisi irisan mangga juga bumbu rujak itu.
"Iya dong, kan udah sah, Kakak kapan sih mau nikahin Nana?" tanyaku sambil terus menyuapi Arsen seperti anak kecil.
"Setelah Nana selesai skripsi, makanya aku lagi pusing bantu ngerjain skripsi dia," jawab Kak Darren.
"Sama, Kimmy juga aku yang ngerjain," sahut Arsen yang kini selesai makan.
"Nah kan, mereka yang kuliah kenapa jadi kita yang pusing ya?" Kak Darren mengomel karena kesal dengan Nana. Sebenarnya aku yang mengajari Nana untuk bisa memanfaatkan kepintaran dan pengalaman para laki-laki ini.
"Ya ampun, bantu gitu aja apa susahnya sih, dengan begitu kan kalian bisa semakin dekat," sahutku.
__ADS_1
"Bukan cuma makin dekat, tapi jadi sering berantem."
"Kita jarang berantem kok, iya kan, Sayang?" Aku mencari pembelaan dari Arsen.
"Kalau Arsen kan enak, habis bantu skripsi kamu, dia dapat hadiah yang enak-enak, nah kalau kakak dapat apa, Dek? Dapat omelan yang ada."
"Yaudah, Kakak anggap aja si Nana lagi ngutang, nanti kalau kalian sudah sah, tinggal suruh si Nana bayar utang skripsinya itu," usulku yang membuat Kak Darren mengernyit, sedangkan Arsen menatapku dengan senyuman gantengnya.
"Maksud kamu nanti kakak dapat banyak bonus gitu? Dapat enaknya berkali-kali sekalian bayar utang?" tanya Kak Darren yang langsung paham dengan maksudku.
"Nah betul, pinter deh Kakak."
"Kamu juga pinter, Dek."
"Kan adiknya Kakak."
Arsen hanya senyum-senyum menyaksikan tingkahku dan Kak Darren, membuka kotak berisi rujak itu lalu menawari Kak Darren untuk makan.
"Nggak ah, takut sakit perut," jawab Kak Darren.
"Emang Kakak belum makan siang?" tanyaku sambil mencomot rujak di meja.
Rasa mangganya asam sekali, ada rasa manis gula merah dan juga pedasnya cabai.
Arsen malah terlihat lahap dan tidak merasa kepedasan atau mengernyit karena asam, ia terlihat biasa saja saat memakannya.
"Sudah, tadi sama klien. Oh iya, kalian jadi pindahan?" tanya Kak Darren.
"Rencananya hari minggu besok Kak, semoga nggak ada halangan sih," jawab Arsen.
"Baguslah, semoga semuanya lancar. Kakak balik dulu ya, lihat Arsen makan rasanya malah perut kakak yang mules." Kak Darren berdiri lalu meninggalkan ruangan Arsen.
__ADS_1
Arsen masih sangat menikmati mangga mudanya, sedari tadi ia tidak berhenti mencelupkan mangga di wadah sambalnya.
"Kamu doyan banget ya, Sayang?" tanyaku heran.
"Enak banget kok, Sayang. Kamu kenapa makannya dikit?"
"Nggak, aku nggak terlalu suka. Aku tu malah kepikiran roti bolu buatan mamanya Dera, waktu itu kan aku muntahin semuanya."
"Kamu mau roti bolu? Kita beli di toko kue biasanya aja, kan ada."
"Nggak mau, aku maunya roti bolu buatan mamanya Dera."
"Terus aku ngomongnya gimana, Sayang?"
"Ya nggak tau, aku cuma pengen kok, nggak ngidam kayak kamu."
Sebenarnya aku lagi menguji kamu Sayang, kamu berhasil nggak dapetin kue itu buat aku?
♥️♥️♥️
...Jadi, yang ngidam siapa sih, kenapa dua duanya gini 😅😅 Tapi, kalau aku jadi Kimmy, memang harus manfaatin suami sih, kan mumpung hamil 🤣🤣🤣...
Selamat pagi gengs lolipop,
Udah ketemu hari senin ya,
Pasti udah dapat vote, sini bagi ke aku.
Kembang sama kopi juga mau banget kok 😅😅
makasih gaess 🥰🥰
__ADS_1
Sampai ketemu lagi 😘😘😘