Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
MAS2 BAB 73


__ADS_3

"Jangan seperti aku yang hamil duluan, Ra."


"Kok bisa sih kamu sama Kak Dion ... maksudku bagaimana kalian bisa sampai melewati batas."


"Sebenarnya, kami hanya melakukannya sekali." Yumna menundukkan kepala. "Aku juga nggak nyangka, kekhilafan kami berakibat fatal."


Penyesalan memang selalu datang di akhir Yumna, tapi semoga itu bisa menjadi pelajaran berharga untukmu.


"Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, tidak ada manusia yang sempurna, Sayang. Yang penting sekarang kamu tahu, sebelum melakukan sesuatu pikirkan juga dampaknya nanti," kata Mama Nisa.


Benar, tidak ada manusia yang sempurna, dan setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Begitu pun aku, Arsen, Yumna dan Dion. Kami semua pernah melakukan kesalahan, tapi yang paling penting kita semua bisa belajar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama di kemudian hari.


*


*


*


Hari demi hari kian berganti. Bagi sebagian orang semua terasa sangat cepat, tapi tidak bagiku. Semakin hari kehamilanku semakin besar, banyak yang ku keluhkan. Tidak bisa tidur nyenyak, gampang capek, sering sakit pinggang. Semua rasa sakit ini membuatku merasa hari sangat lama berganti. Ingin sekali meloncat di hari persalinan, tapi itu tidak mungkin, 'kan?


Saat ini, aku sudah melewati sidang skripsi, seharusnya minggu kemarin aku wisuda, tapi karena hamil besar aku memilih untuk menundanya pada periode selanjutnya. Jadi, aku dan Nana tidak wisuda bersama-sama.


Hari ini, hari paling bersejarah untuk Kak Darren dan sahabatku Nana. Mereka akan mengucapkan ikrar suci pernikahan beberapa jam lagi.


"Cantiknya istriku." Arsen menghampiriku yang baru saja selesai dirias.


"Aku gendut," ucapku sambil memajukan bibirku.

__ADS_1


"Bagiku kamu tetap seksi kok," balas Arsen sambil berbisik.


Percaya atau tidak, setiap kali Arsen berbisik, pipiku akan terasa hangat, dan seutas senyum dari bibirku selalu muncul setelahnya.


"Yaudah yuk, nant kita nggak dapat jatah tempat duduk di depan loh," kata Arsen yang kemudian menuntunku berjalan menuju aula tempat akad nikah digelar.


"Kalau kita gandengan kita kayak angka sepuluh," kataku.


"Sepuluh itu sempurna, dan sebentar lagi kamu akan membuatku semakin sempurna dengan melahirkan anakku," jawabnya sambil merangkul pinggangku.


Kami duduk di kursi paling depan, bersama Mama Papa dan Oma, juga Om dan Tanteku yang baru datang dari Singapura.


"Kim, perut kamu udah turun gitu, emang perkiraan lahiran kapan?" tanya Tante Feni, istri Om Rendy —adik kandung Papa.


"Kalau nggak maju mundur ya dua minggu lagi Tante, doain lancar ya," jawabku.


"Kalau Oma prediksi sih itu sebentar lagi, nggak sampai dua minggu lah," kata Oma yang duduk tepat di belakangku.


"Kalau gitu aku harus cepet--cepet sahur ya Oma, sebelum imsak, terus puasa 40 hari," jawabku yang membuat Oma mendelik.


SementaraTante Feni menahan tawanya.


Kak Darren terlihat sangat gagah dengan pakaian pengantin. Ia duduk di depan bersama penghulu dan dua saksi.


Nana yang digandeng papinya, mendekat ke arah Kak Darren yang tersenyum malu-malu. Keduanya lalu duduk berdampingan, dikerudungi selendang putih yang menutup kepala keduanya. Lalu, beberapa menit kemudian, Kak Darren mengucapkan ijab kabul, yang disusul dengan kata 'sah' oleh kedua saksi.


Akhirnya kakakku resmi menjadi seorang suami, dan Nana kini menjadi kakak iparku.

__ADS_1


Tiba saatnya para tamu mengucapkan selamat kepada kedua mempelai yang selalu tersenyum.


Arsen membantuku berdiri dari kursi, lalu kami berjalan menghampiri kedua pengantin yang pasti sedang bahagia.  Harus kuakui, Arsen selalu memperlakukanku seperti seorang putri raja, ia menjagaku dengan sangat baik.


"Selamat ya Markonah." Aku memeluk Nana yang terlihat cantik dengan gaun kebaya modernnya.


"Kak Nana, nggak sopan tau!" jawabnya.


"Hem, ngelunjak bener, baru sejam jadi ipar," balasku yang kemudian beralih pada Kak Darren. "Selamat ya Kak, cie yang bentar lagi unboxing."


"Nggak mubazir sunatnya," kata Arsen yang berdiri tepat di belakangku.


Aku dan Arsen cekikikan, sementara dua pengantin itu tampak senyum malu-malu.


♥️♥️♥️


...Selamat markonah, jangan jadi ipar yang menyebalkan ya🥰🥰...


Ada yang kangen nggak sih, yang nungguin gitu, yang nanyain ke aku kapan up thor wkkkkk ngaco.


Jangan lupa besok pengumuman giveaway.


Yang belum menang, tenang. Mungkin ada kesempatan di novel berikutnya. Doakan aku ya gaess supaya lancar menghalunya. Biar nggak kena penyakit malas 🤭🤭🤭


Jangan lupa ritualnya.


Sampai ketemu lagi 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2