
Aku menemani Arsen bekerja hari ini, ia begitu sibuk membantu pekerjaan Kak Darren yang sedang pergi ke luar kota. Sementara Arsen sibuk dengan kerjanya, aku malah sibuk dengan memandang wajah tampannya.
Jari-jari tangan Arsen menari di atas keyboard komputernya. Sementara matanya bergantian menatap dokumen juga layar komputer di hadapannya.
Akhirnya, jam makan siang pun tiba. Arsen mengajakku makan di kantin perusahaan yang seumur-umur baru ini aku datangi.
Banyak sekali wajah penasaran dari para wanita yang memperhatikan kedatanganku dan Arsen. Bahkan, saat kami sudah duduk berdua pun, mereka masih tetap memandang kami dengan tatapan aneh.
“Apa lihat-lihat? Arsen itu milik aku,” kataku pada wanita-wanita itu.
Lalu mereka mulai berbisik-bisik. Yang aku dengar samar-samar, mereka bertanya-tanya aku ini siapa kok tiba-tiba ada di kantin khusus pegawai.
Aku sebenarnya ingin membalas omongan mereka, tapi Arsen langsung menarik tanganku.
“Jangan diladenin, kamu itu wanita terhormat, kamu anaknya pemilik perusahaan tempat mereka bekerja. Kamu harus punya wibawa sama kayak Papa dan Kak Darren,” nasehat Arsen yang membuatku mengalah dan tak menanggapi mereka.
Aku masih sedikit kesal dengan para karyawati Papa itu, tapi karena Arsen, ah sudahlah.
Tiba-tiba seseorang yang sedari tadi aku hindari justru terdengar memanggilku. Ya, siapa lagi kalau bukan Oma, si Nenek Sihir.
“Kimmora, kamu beneran kabur ke sini?” Oma duduk di dekat kursiku. Lagi-lagi kami menjadi pusat perhatian, apalagi Oma datang bersama Papa.
“Oma, ngapain sih ke sini?” tanyaku sambil berbisik.
“Eh, yang ada kamu tuh ngapain ke sini? Bantuin kerja, nggak ‘kan? Palingan juga gangguin Arsen,” sinis Oma.
“Ma, kita bicara di ruangan aku aja, nggak enak banyak karyawan. Kimmy, ikut ke ruangan Papa!” perintah Papa.
__ADS_1
“Sama Arsen, ya.” Aku mengedipkan mata pada Arsen yang membuatnya tersenyum geli.
Papa hanya menggelengkan kepala, lalu aku, Arsen dan Oma berjalan mengikuti Papa.
Kami sampai di depan ruangan Papa, saat tiba-tiba Papa kedatangan tamu yang sama sekali tidak kuduga. Papa juga terlihat terkejut, sama seperti aku, Oma dan Arsen, saat melihat dua wanita dengan wajah yang sangat mirip itu sedang duduk di hadapan sekretaris Papa.
Aku menghentikan langkah, dan berjalan mundur, tapi Arsen menahan langkahku.
“Hadapilah, Sayang! Aku akan selalu ada bersamamu, kalau kamu terus menghindar, masalah ini tidak akan pernah selesai.” Arsen memegang kedua pundakku dengan kedua tangannya.
“Mas Ardy, Kimmora, Mama” sapa Mama yang kini berdiri diikuti tante Sabila.
“Mau apa kamu kemari?” tanya Papa dengan suaranya yang begitu datar.
“Ardy, kita bicarakan di dalam, jangan sampai ada karyawan yang melihat dan mendengarnya,” kata Oma.
“Masuklah! Kita dengarkan apa keinginanmu.” Papa kemudian masuk ke ruangannya, diikuti Oma juga Tante Sabila yng merangkul Mama. Sementara aku ada di belakang mereka bersama Arsen.
“Kimmora, ini Mama,” ucap Mama yang tak aku pedulikan.
Sebenarnya aku ingin lari dari tempat ini, tapi karena Arsen, aku terpaksa bertahan.
“Masih ingat kamu dengan Kimmora, Kimmora saja tidak pernah mengingatmu,” sahut Papa sinis.
“Mas, aku tetap ibunya, ‘kan? Aku yang melahirkan putri secantik ini, Mas,” balas Mama tak terima.
“Lupakah kamu dengan malam dua belas tahun yang lalu? Saat kamu meninggalkan anak-anak demi rasa egoismu sendiri, apa kamu ingat?” Kali ini Papa menaikkan sedikit suaranya.
__ADS_1
“Untuk itu aku minta maaf, Mas. Aku memang bersalah waktu itu, tapi sekarang aku benar-benar menyesal.” Mama mulai menangis, tapi tidak sedikit pun aku tersentuh dengan air matanya.
“Kimmora, apa kamu mau memaafkan perbuatan mamamu selama ini?” tanya Papa yang kini menatapku.
Aku memandangi wajah Mama, wajah cantik itu terlihat pucat, seakan menahan rasa sakit. Pasti hatinya yang merasakan sakit itu.
“Aku tidak pernah menganggapnya Mama, lagi pula aku juga tidak ingat kalau aku punya Mama,” jawabku sinis.
“Kamu sudah dengar? Jadi, apa lagi yang kamu inginkan?” tanya Papa lagi.
“Aku ingin menghabiskan hari bersama Kimmora dan Darren,” jawab Mama. “Satu minggu sama Kimmora, mama mohon.” Kini Mama menatapku dengan wajah memelasnya.
“Untuk apa?” tayaku.
“Supaya setidaknya mama punya kenangan yang indah bersama kalian, satu minggu saja mama mohon.” Lagi-lagi Mama mengeluarkan air matanya, membuat hatiku sedikit goyah.
Perasaan apa ini? Kenapa aku begitu sedih melihat kesedihan di mata Mama. Haruskah aku menuruti keinginannya kali ini?
🌹🌹🌹
...Haduh, Mama mau ngapain sih Ma, jangan ada kejahatan di antara kita, Ma....
Hai, gengs. Udah lama ya nggak ada yang ngirim kembang apalagi kopi 😂😂😂
Novel ini mau aku tamatin aja, kalian setuju? 🤭🤭🤭
__ADS_1
Jangan lupa ritual jejaknya. Like + Komen + Hadiah + Vote.
Okay, See You Again 👋👋👋