Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
BAB 36


__ADS_3

Hubungan yang dilandasi dengan pengkhianatan memang tidak akan berakhir menyenangkan. Akan ada hati yang terbakar dan tersakiti karena api kesalahan yang memulainya.


Sama halnya dengan hubunganku dengan Dion saat ini. Dibilang putus, tapi kami masih ada ikatan. Dikatakan pacar, tapi kami sudah tidak pernah jalan bersama, hanya sesekali aku mengirimkan pesan dan Dion akan membalas seperlunya saja.


Tiga minggu usai kejadian lima menit itu, hubunganku dan Dion memang sedang tidak baik-baik saja. Namun, ada satu hubungan yang mulai bersemi antara aku dan Arsen.


Di saat berjauhan seperti saat ini, aku mulai merindukan perhatian dan juga kebaikan hatinya yang seminggu ini tak lagi aku rasakan. Bahkan aku merindukan pelukan hangatnya saat aku terbangun di pagi hari.


Mungkin saat ini aku harus berusaha menerima Arsen, apapun keadaannya, karena saat ini yang selalu memenuhi pikiranku hanyalah dia, suamiku.


Hari berlalu begitu lambat, seakan putaran jarum jam bekerja dua kali lebih berat. Tak sanggup lagi memutar dengan cepat. Mungkin ini hanya perasaanku saja karena kerinduan yang mulai merasuki hatiku.


Sekarang aku mulai berani menghubungi Arsen terlebih dulu, meski seminggu lagi aku dan Arsen akan bersama, tapi tidak ada hari yang kami lewati tanpa bertukar sapa.


Aku meraih benda pipih yang layar depannya menampilkan wajah paling cantik di dunia ini, wajahku sendiri. Membuka aplikasi whatsapp, aku tersenyum bahagia saat membaca chat terakhirku dan Arsen tadi pagi. Saat ia mengirimkan stiker bergambar laki-laki yang tengah memeluk wanitanya dengan erat. Arsen bilang laki-laki itu diibaratkan dia yang tengah memelukku erat.


Daripada hanya tersenyum sendiri seperti orang yang tidak waras, aku memilih meneleponnya melalui panggilan video, supaya aku bisa melihat apa yang sedang ia kerjakan saat ini.


Aku sudah berdandan terlebih dulu tadi sebelum meneleponnya. Jadi, saat ini aku sudah siap untuk terlihat cantik di hadapan Arsen.


Lama menunggu, akhirnya Arsen menjawab panggilan telepon dariku. Namun, aku begitu terkejut saat melihat sosok di layar yang seharusnya menampilkan wajah Arsen.


“Hai,” sapa seorang wanita yang begitu aku kenal, yang dengan lancang telah menjawab panggilan telepon di ponsel suamiku.


“Arsen mana?” tanyaku dengan nada kesal.


“Dia lagi di kamar mandi, lagi bersih-bersih. Kamu ngapain nyari Arsen, Kimmora?” tanya wanita itu, siapa lagi kalau bukan Yumna.


“Nggak papa, emang nggak boleh?”

__ADS_1


“Kamu nggak takut pacar kamu cemburu, kalau kamu nelfon cowok lain. Aku aja cemburu lho, Kim.” Wanita itu tersenyum sinis.


“Emang apa hak kamu buat cemburu?” tanyaku tanpa rasa takut.


“Ya, untuk saat ini memang aku nggak punya hak, tapi sebentar lagi aku sangat berhak, jadi mulai sekarang jauhi Arsen, urus aja cowok kamu sendiri,” kata wanita menyebalkan itu.


“Eh, Yumna! Jadi orang jangan kepedean, takutnya pas kamu dilepeh kamu nggak bisa terima kenyataan terus jadi nggak waras.” Aku tersenyum mengejeknya.


Belum sempat Yumna menjawab, layar ponselku tiba-tiba berubah hitam. Sepertinya Yumna menutupi kamera ponsel Arsen, sehingga aku tidak dapat lagi melihat wajahnya. Namun, apa yang terjadi di sana, aku masih bisa mendengarnya dengan jelas.


“Yumna. Kamu masih di sini?” Itu jelas suara Arsen.


“Iya, Arsen. Badanku masih pegel-pegel nih gara-gara kamu tadi nggak mau berhenti.” Suara Yumna yang kemudian tertawa kecil. “Kalau kamu udah selesai mandinya, aku juga mau mandi deh, lengket banget soalnya.”


Seketika itu panggilan berakhir, menyisakan pertanyaan dalam otakku tentang kalimat ambigu yang diucapkan Yumna tadi. Pikiranku menerawang jauh, apa yang mereka lakukan berdua hingga Yumna merasa pegal-pegal dan lengket? Apa mereka melakukan sesuatu yang terlarang?


Pikiran burukku kembali mengingat hari ketika Arsen berangkat KKN, laki-laki itu begitu piawai membuatku merasa terbang. Jika bersamaku saja dia langsung tergoda, bagaimana dia bisa bertahan saat bersama Yumna. Dua tahun bersama pasti mereka sudah melakukan banyak hal, karena dua bulan bersamaku saja Arsen sudah mulai berani melakukan hal seperti itu.


Pikiran buruk itu kembali menciptakan keraguan di hatiku. Apakah benar jika nantinya aku melabuhkan hatiku pada Arsen? Lalu bagaimana jika Arsen bukan laki-laki baik?


Aku harus mencari kebenarannya sebelum benar-benar semakin terjatuh dalam perasaanku pada Arsen.


Dion tiba-tiba mengirim pesan padaku, di tengah kacaunya pikiranku membayangkan apa yang terjadi antara Arsen dan Yumna.


Kami akhirnya bertemu di sebuah kafe setelah tiga minggu ini tanpa bertegur sapa.


Laki-laki berwajah imut itu sudah menungguku di sebuah meja dekat jendela. Segera saja aku menghampirinya yang sudah tersenyum saat melihatku.


“Udah lama?” Aku merasa canggung bertemu dengannya setelah tiga minggu penuh tanpa kepastian.

__ADS_1


“Baru aja kok, duduk dulu, Kimmora!" perintahnya.


Kami duduk berhadapan terhalang meja yang hanya berisi beberapa tangkai bunga mawar merah segar yang diletakkan dalam vas berisi air jernih.


“Kamu apa kabar, Kim?” tanyanya dengan santai, seolah tidak terjadi apa-apa di antara aku dan dia.


“Aku baik, Kak.” Aku menampilkan senyum terbaikku untuk menutupi kegugupan yang kini melanda hatiku.


“Kita pesan makan dulu ya.”


Aku mengangguk, lalu Dion memesankan makanan ringan untukku dan dirinya sendiri.


Sampai makanan datang, kami tidak banyak bicara. Aku sendiri bingung harus mengatakan apa pada Dion. Tidak mungkin kan aku mengaku kalau sudah menikah dengan Arsen?


Dion sendiri hanya bermain-main dengan minumannya, mengaduk-aduk jus alpukatnya yang sudah mulai berubah kekuningan.


“Apa ada yang ingin Kak Dion sampaikan?” tanyaku saat mulai bosan dengan keheningannya.


“Ah, iya.” Dion tersenyum seperti biasanya. “Soal kejadian beberapa minggu yang lalu, aku sudah tahu pelakunya.”


🌹🌹🌹


Nah lho nah lho, siapa yang bocorin nih pelakunya ke Babang Dion. Othor sebenernya pengen ngasih tahu Bang Dion, tapi tunggu Bang Arsen pulang lah biar seru.


Nah, kalau gini, siapa yang kasih tahu?


Aku udah double up hari ini, walaupun vote nya baru lima biji 🤭🤭🤭 Kalau mau lagi, besok ya, tapi kirim vote sama hadiahnya yang banyak 😅😅😅


Santai santai, ritual jejak dulu. Like, Komen, Hadiah dan Vote.

__ADS_1


See You gengs.


__ADS_2