Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
BAB 42


__ADS_3

Arsen menarik tanganku untuk menjauh dari Nana. Sedangkan sahabatku itu hanya bisa melongo saat aku melambaikan tangan ke arahnya.


Arsen menggandeng tanganku, entah ke mana dia akan membawaku? Sementara itu, banyak mata-mata sinis yang menatap kami. Lebih tepatnya para mahasiswi yang tengah berkerumun di depan kelasnya.


"Siapa itu cewek? Kok bisa gandengan sama Arsen," ucap salah satu mahasiswi itu.


"Iya, siapa dia, bukannya Arsen masih pacaran sama Yumna?"


Mendengar ocehan para gadis itu, Arsen semakin mempercepat langkah kami. Sampai akhirnya, Arsen membawaku masuk ke dalam gedung yang biasa dipakai untuk olahraga.


"Arsen," ucapku saat dia mendorongku pelan ke dinding gedung olahraga.


"Siapa dia? Apa aku ada saingan lagi?" tanya Arsen dengan sorot mata yang terlihat marah.


"Aku bahkan belum berkenalan dengannya, dia mahasiswa baru, baru aja tadi masuk kelas," jawabku jujur.


Aku memang tidak ada perasaan apa-apa sama laki-laki tadi. Arsen hanya salah paham saja.


"Kim, luka di wajah aku bahkan belum sembuh, apa kamu tega menambah luka di hati aku?" tanya Arsen dengan nadanya yang putus asa.


"Arsen, aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Kamu harus ingat, aku ini sangat cantik, banyak laki-laki yang terpikat denganku. Apa aku harus merubah wajahku biar kamu tidak cemburu?" tanyaku menggoda Arsen.


"Ubahlah sikapmu." Arsen melepas tangannya yang tadi mengurungku ke tembok.


Menyadari Arsen akan pergi, aku langsung menarik tangannya hingga ia menoleh padaku. Seketika aku langsung berjinjit dan menyambar bibir Arsen, awalnya hanya mengecup lalu melingkarkan tanganku di leher Arsen agar aku tak terjatuh.


Kecupan singkat itu, berubah menjadi ciuman hangat yang begitu menuntut. Sampai akhirnya, Arsen kembali mendorongku ke dinding dan ******* bibirku. Sungguh, rasanya jantungku kembali berdegup kencang.


"Arsen, aku tidak akan meninggalkanmu demi laki-laki lain," ucapku setelah melepaskan ciuman kami. "Tadi, Nana mendorongku hingga aku menabraknya, maaf sudah membuatmu cemburu."


Setelahnya, Arsen kembali menciumku.


"Jangan dekati laki-laki lain lagi, aku tidak akan membiarkannya kali ini."


***


Kejadian di ruang olahraga itu membuatku tersenyum sepanjang hari. Meskipun aku belum tahu pasti apakah aku mencintai Arsen atau tidak, tapi setiap bersamanya aku selalu berdebar-debar.


"Oee Kimminah." Sayup-sayup kudengar suara Nana memanggilku.


Aku merasakan sesuatu yang terasa ringan mengenai hidungku, membuatku tersentak dan seketika aku melihat Nana yang memandangku heran.


"Apa sih, Markona?" tanyaku kesal karena gadis itu membuyarkan lamunanku yang indah.


"Lo kenapa sih, senyum-senyum terus dari tadi?" Nana mengunyah kembali kacang yang bungkusnya bergambar burung itu.


"Nggak ada apa-apa," jawabku santai, sembari mengambil kacang milik Nana.

__ADS_1


"Lo, ngelamunin Kenneth?" tanya Nana.


"Gila lo, kenal aja kagak ngapain gue ngelamunin? Yang ada dia tuh ngelamunin gue," jawabku percaya diri. "Kalau lo berdebar-debar karena seorang cowok, apa itu artinya lo suka sama cowok itu?" Aku mendekatkan tubuhku pada Nana walau kami terhalang meja kantin.


"Siapa sih Kim?"


"Ada lah cowok, selama ini kan gue kalau pacaran selalu disukai duluan, nggak pernah gue ngerasain deg-degan kayak gini, tapi cowok ini beda banget sih Na." Aku tersenyum membayangkan wajah Arsen saat dia akan menciumku.


"Kak Arsen?"


Nana menebak dengan sangat tepat, jangan-jangan dia sudah tahu.


"Kok lo tau?" tanyaku bingung.


"Wah, parah lo Kim. Lo suka sama anak sopir lo sendiri. Harga diri lo di mana Kimmy? Lo nikung gue beneran?"


Sial, sahabat minim akhlak ini malah menanyakan harga diri. Bagaimana jadinya kalau dia tahu aku sudah menikah dengan Arsen. Apa dia juga sakit hati dan menjauhi aku?


"Jangan-jangan bekas merah di leher lo gara-gara Kak Arsen juga?" Tanyanya lagi.


"Itu … gue …." 


Aku tidak bisa berkata-kata, rasanya belum rela kalau ada yang tahu soal pernikahanku dan Arsen.


"Wah gila banget lo Kim."


Tiba-tiba, Arsen muncul dan duduk di sebelahku.


"Kim, handphone kamu lowbat ya? Kak Dareen bilang kamu disuruh pulang cepat!" kata Arsen.


"Ah, iya, tadi malam aku lupa mengisi daya," jawabku sambil menunjukkan ponselku yang mati.


Tadi malam 'kan aku ketiduran, bangun-bangun sudah di kamar sama Arsen.


"Kak Arsen? Kalian ada hubungan apa sih? Bukannya Kak Arsen sama Yumna …." Nana terlihat kebingungan.


"Aku sama Yumna udah putus lama, sekarang aku sama Kimmy," jawab Arsen dengan sangat santai.


Aku menutup mata dengan kedua telapak tangan saat Nana melihatku dengan tatapan tajam.


"Na, sorry," mohonku sambil mengatupkan dua tangan di hadapan Nana.


"Nggak apa-apa Kim, santai aja. Perasaan orang nggak bisa diatur apalagi dipaksain. Kalau kalian udah jadian, gue juga ikut seneng kok. Lagian gue udah ada Randy," jawab Nana.


"Thank you so much Na." Aku menghambur dalam pelukan sahabatku itu.


Rasanya lega, Nana salah satu orang penting dalam hidupku sudah tahu hubunganku dengan Arsen, walaupun dia belum tahu soal pernikahanku, biarlah! Sekali lagi aku memasrahkan semuanya pada waktu.

__ADS_1


Saat pulang, aku dan Arsen mulai berani bergandengan tangan menuju tempat parkir. Tangan kananku digenggam Arsen, dan tangan kiriku merangkul lengan Nana, sahabatku. Meski banyak pasang mata yang memandang aneh pada kami, aku tidak peduli dan terus berjalan bersama Arsen dan Nana.


Sesampainya di parkiran, aku dan Nana berpisah karena kami bawa mobil sendiri.


"Nanti kita pulang ke kontrakan dulu, baru ke rumah Papa," ucapku pada Arsen setelah Nana meninggalkan kami berdua.


"Ya baiklah, aku juga harus siap-siap kerja, nanti aku nyusul aja, kamu nggak keberatan 'kan?"


"Nggak lah Arsen, kamu kerja buat aku juga."


Hatiku terasa bergetar mengatakannya, selama ini Arsen bekerja untukku juga. Walau uang kuliah sudah dibayar lunas oleh Kak Dareen, tapi kebutuhanku setiap hari juga dari Arsen. Sebenarnya Arsen dapat uang dari mana saja ya?


"Udah, buruan masuk! Aku ambil motor dulu." Arsen membuka pintu mobilku, lalu aku masuk dan meninggalkan kampus setelah Arsen mengambil motornya.


***


Aku selesai memarkirkan mobil di halaman depan rumah Papa yang luas. Berjalan seperti biasanya, aku memasuki rumah besar milik Pak Ardy, papaku yang seenaknya sendiri itu.


Sampai di ruang tamu, aku bisa mendengar dengan jelas suara bawel nenek-nenek yang sudah lama tak terdengar di rumah ini. Aku berjalan cepat untuk memastikan pendengaranku tidak bermasalah. Benar saja, seorang nenek tua yang masih lincah itu sedang membuat kehebohan di ruang keluarga.


"Oma!" teriakku saat kulihat nenek tua itu mengajak Bi Sri dan Mbak Lastri untuk bersenam ria di depan layar televisi yang menampilkan kegiatan senam.


Gawat, Nenek Sihir ini kenapa datang ke sini?


"Hai, Kimmy, sini ikut oma senam, biar sehat."


Aku mendekati mereka yang sudah berkeringat. Bi Sri dan Mbak Lastri sudah terlihat memelas. Pasti karena dipaksa Oma.


"Oma, stop!" Aku mematikan televisi dengan remote. "Aku lapar, Bi Sri sama Mbak Lastri tolong bikinin aku makanan!" pintaku untuk menyelamatkan dua wanita yang mungkin tak bisa menghindari perintah Oma.


"Kimmy, Oma 'kan masih asyik senamnya."


"Udah hampir maghrib ini Oma, besok lagi ya."


"Eh, kamu kok sendiri, suami kamu mana?"


Gawat, ini Nenek Sihir juga tahu aku sudah menikah?


🌹🌹🌹


Waduh, Nenek Sihir? Sihir baik apa sihir jahat? Ahhh,, pasti baik dong seperti Othor Ya kan Kim?


Mohon maaf ya kalau ceritanya kurang mengena atau kurang berkenan, jujur ini ngetik juga maksa banget. Masih kurang enak badan aku.


Untuk Kenneth, dia nggak akan seperti Dion ya, jadi selow aja ikutin alurnya.


Jangan lupa ritual jejaknya, Like, Komen, Hadiah dan Vote.

__ADS_1


See You again sayang-sayangya Kimmy-Arsen🥰🥰🥰


__ADS_2