Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
BAB 61


__ADS_3

Mendengar pertanyaanku, Arsen seketika meraih tanganku dan menggenggamnya. Aku tahu, Arsen juga belum siap memiliki anak. Jadi, keputusan kami memang tidak salah.


“Jika saat itu datang, aku pastikan, aku akan menemani kamu melewati semuanya.” Arsen meletakkan tanganku di pipinya.


Wajah tampan yang menggemaskan itu semakin terlihat memukau dengan senyuman yang menawan.


“Kamu kapan mulai kerja di tempat Papa?” tanyaku untuk mengalihkan pembicaraan, karena jika terus membicarakan anak, aku takut kami menjadi galau lalu menyesalinya.


“Lusa kayaknya, aku masih ada janji ketemu dosen lagi besok, skripsiku udah mulai jalan jadi aku bisa sekalian bantu-bantu Papa di kantor.”


***


Aku sudah mewanti-wanti Arsen supaya tidak memberi tahu Oma dan semua orang di rumah Papa bahwa kami menunda masalah anak.


Hari ini, sesuai janji Oma, menjadi hari terakhir kami menginap di rumah Papa. Jadi, aku memutuskan mencari tahu soal Mama sebelum kembali ke kontrakan.


Saat Arsen masih sibuk dengan skripsinya, aku mencari Kak Darren di kamarnya, mumpung Oma sedang belanja bersama Bi Sri.


Aku langsung masuk ke kamar kakakku itu setelah mendapat izin darinya.


“Kakak,” sapaku setelah menutup pintu.


“Hmm, ada apa, Kim?” tanya Kak Darren yang sibuk dengan laptopnya.


“Kakak aku mau ngobrolin soal Mama,” kataku.


Kak Darren langsung mengalihkan pandangan dari laptopnya, lalu dia menatap mataku. Kak Darren yang lebih tua enam tahun dariku pasti lebih mengenal sosok Mama daripada aku.


“Ehem, soal Mama ya. Sebenarnya, kakak nggak tahu harus jujur atau nggak sama kamu, tapi Papa lebih berhak menjelaskannya ke kamu, Kim.” Kak Darren menatapku sendu.


Terlalu sulit bagiku untuk mengingat tentang Mama di hidupku, Papa dan Oma akan terus menghindar setiap kali aku bertanya soal Mama.


“Kakak kan tahu Papa nggak akan kasih tahu aku.” Aku menunduk, berharap Kak Darren akan tersentuh dengan raut kasihan yang kutampilkan.

__ADS_1


“Sebenarnya, Mama meninggalkan kita Kim, dan itu pasti meninggalkan rasa sakit di hati Papa. Kamu bahkan tidak bisa mengingat masa kecil kita dan juga Mama setelah malam itu.” Kak Darren akhirnya buka suara soal Mama yang selama ini juga ia tutupi rapat-rapat.


“Malam a-pa maksud Kakak?” tanyaku tak mengerti.


“Malam saat Mama meninggalkan rumah ini, kakak nggak bisa cerita, karena pasti akan memicu trauma kamu. Intinya Mama pergi ninggalin kita, udah kamu inget-inget bagian itu aja.” Kak Darren kembali menyibukkan diri dengan berkas dan laptop di hadapannya.


“Kak, tolong jelasin ke aku, Kak.” Aku menarik tangan Kak Darren, supaya Kak Darren mau menjelaskan padaku.


“Kimmora, kakak sibuk. Kakak harus selesaikan ini buat rapat besok pagi bersama dewan direksi.” Kak Darren melepaskan tangannya dari genggamanku.


Aku kecewa dengan sikap Kak Darren yang tidak mau mengatakan semua kenyataannya.


Aku keluar dari kamar Kak Darren dengan langkah gontai. Terlalu banyak pertanyaan di kepalaku yang tak bisa kutemukan jawabannya. Rasanya benar-benar membuatku frustasi.


“Kimmy.”


Aku menoleh pada laki-laki yang memanggilku itu. Arsen keluar dari kamar dan menghampiriku.


“Soal Mama, kenapa mereka menyembunyikannya dariku.” Aku merangkul tubuh Arsen dengan tangan kananku.


“Sabar, Kim. Mungkin mereka belum siap mengatakannya sama kamu, kita istirahat aja yuk, luka kamu itu masih basah.” Arsen merangkulku dengan tangan kirinya, lalu membawaku masuk ke kamar.


“Istirahat beneran ya.” Aku mengangkat wajahku untuk melihat wajah Arsen.


“Ya, kamu istirahat, aku yang kerja.”


“Is, katanya nggak enak pakai pengaman,”


“Nanti aku keluarin di luar.”


...❤❤❤M.A.S🚗🚗🚗...


Aku terbangun saat dinginnya pagi menembus kulitku yang hanya tertutup selimut dari kaki sampai dada, tanpa sehelai kain yang melekat di tubuh. Sementara laki-laki di sebelahku masih berkelana dalam mimpinya.

__ADS_1


Aku mencoba menyingkirkan tangan kekar yang memelukku dengan posesif. Lenganku yang kemarin dipasangkan alat kontra-sepsi itu terasa begitu nyeri. Rasanya aku tak sanggup menggerakkannya, dan akhirnya aku mengaduh karena rasanya benar-benar menyakitkan.


Arsen langsung terbangun setelah aku mengeluhkan sakit. Laki-laki itu memeriksa lenganku masih dengan tubuhnya yang tak tertutup apapun, rambutnya begitu acak-acakan sampai membuat perhatianku sedikit teralihkan karena wajahnya yang semakin tampan di pagi hari.


“Kita mandi dulu ya, setelah sarapan obatnya langsung diminum.” Arsen membantuku untuk bangun dari tempat tidur.


Suamiku itu juga membantuku mandi, karena aku tak bisa mengangkat tangan kiriku. Benar-benar ngilu sekali rasanya tidak bisa bergerak bebas.


Arsen akhirnya mengambilkan sarapan untukku karena aku tidak mau bertemu Oma dalam keadaan sakit begini.


“Sini aku suapin,” kata Arsen setelah membawakan sarapan untukku.


“Yang sakit tangan kiri, tangan kanan masih bisa makan sendiri.” Aku berusaha mengambil sendok yang langsung direbut Arsen.


“Udah buka mulut, aaa.” Arsen mengambil sesendok nasi dan lauknya lalu mengarahkannya ke mulutku.


Aku akhirnya mengalah dan membuka mulut. Arsen dengan telaten menyuapiku.


“Berasa jadi bayi aku,” kataku sambil mengunyah makanan yang disuapkan Arsen.


“Aku juga biasanya jadi bayi kalau lagi butuh susu.” Arsen menunjuk ke arah dadaku dengan bibirnya.


“Dasar mesum.”


🌹🌹🌹


...Emangnya cuma bayi doang yang minum susu Bang? Susu kan bagus untuk tulang, Kakek Nenek juga boleh kok minum susu....


Hai Gengs, lelahnya otakku yang update 3 bab hari ini. Butuh mawar sama kopi gengs 😅😅😅 sisa sisa vote juga mau kok.


Ah ya sudah kalau nggak ada, Like sama Komentarnya aja, yang bikin aku semangat 🥰🥰


Sampai ketemu lagi 👋👋👋

__ADS_1


__ADS_2