
Setelah menyegarkan tubuh dengan mandi, perutku kembali lapar. Mungkin makhluk kecil yang tumbuh dalam rahimku ini memang membutuhkan banyak asupan gizi, makanya aku jadi sering kelaparan.
Aku keluar kamar sendirian, karena setelah mengantarku ke atas, aku mengusir Arsen agar meninggalkanku sendiri.
Memangnya tidak risih diikuti terus menerus. Untung saja besok dia kerja, dan aku akan terbebas sampai dia pulang.
Baru saja melangkah turun dari tangga, semua orang langsung berdiri mengawasiku.
"Sayang, kamu udahan mandinya?" Arsen berjalan mendekatiku. Sepertinya ia berniat menuntun langkahku menuruni tangga.
Aku tidak meresponnya, entah kenapa aku jadi kesal sekali dengan Arsen.
Mungkin dia mengerti raut wajahku yang kesal, sehingga ia berhenti di ujung bawah tangga, membiarkanku berjalan menuruni anak tangga sendirian.
Aku melengos saat Arsen tersenyum padaku. Mama berjalan cepat saat aku melangkah menuju dapur.
"Kimmora, kamu lapar ya?" tanya Mama yang ikut berjalan bersamaku.
"Ma, biarkan aku bernafas bebas, jangan ikuti aku kayak anak kecil. Aku bisa jaga diri, Ma," protesku pada Mama.
"Mama juga mau ke dapur ambil minum kok, Sayang." Mama hanya cengar-cengir.
Aku membuka lemari pendingin, berharap ada kue atau apapun yang bisa dimakan. Akan tetapi, yang aku temukan hanyalah buah stroberi dalam kotak bening. Karena tidak ada makanan lain, akhirnya mengambil buah itu dan membawanya ke ruang keluarga.
Mama dan Oma saling melirik saat aku duduk di sofa di samping Arsen, karena posisinya paling pas untuk menonton TV.
__ADS_1
"Kim, kalau kamu pengen makan sesuatu, nanti mama masakin, ya," kata Mama.
"Nggak Ma, makasih. Aku pengen makan buah aja," jawabku.
"Oh gitu, mama mau ke supermarket sama Papa, kamu mau nitip apa?"
"Kinder joy aja, Ma," jawabku cepat.
Mama mengangguk lalu meninggalkan ruang keluarga. Kini, hanya ada aku, Oma dan Arsen yang kini tidur di pangkuanku, dengan meng wajahnya ke perutku.
"Kamu udah mau punya anak masih suka juga sama kinder joy." Oma menatapku aneh.
"Emangnya nggak boleh ya Oma?" tanyaku sambil memasukkan potongan stroberi ke mulutku.
"Ya boleh sih selama nggak berlebihan," jawab Oma.
Aku ingin berdiskusi dengan Arsen, tapi sepertinya dia mulai terlelap. Sedari tadi matanya terpejam.
“Oma, kalau syukuran rumah baru aku nanti, menurut Oma lebih baik ngundang anak yatim atau anak panti asuhan?” tanyaku yang membuat Oma mengerutkan dahi.
“Semuanya baik sih Kim, kalau kamu mau mengundang semuanya juga lebih baik.Niat kamu itu udah baik, Kim. Oma setuju sama kamu.” Oma mengangkat jari telunjuk dan jempolnya, membentuk hati (finger heart) ala artis-artis Korea.
“Hmm, gitu ya, Oma.” Aku mengernyit, aneh melihat nenek-nenek yang bertingkah seperti anak muda seperti omaku ini.
“Aku juga setuju sama ide kamu, Sayang,” sahut Arsen yang tadi kukir tidur.
__ADS_1
“Kamu nggak tidur?” Aku mengusap rambut Arsen yang masih memejamkan matanya.
“Nggak Sayang. Aku lagi membayangkan apa yang dia lakukan di dalam sana,” kata Arsen.
“Alah bilang aja, kalau kamu kangen sama jalan keluar dia nanti, ya kan?” tanya Oma dengan nada sinis.
Jalan keluar bayi, apa sih maksud Oma?
“Maksud Oma apa?”
“Ya, pokoknya, kalau belum ketemu dokter kalian puasa dulu, oma nggak mau cicit oma kenapa-napa nantinya.” Oma berdiri dari sofa.
“Jadi, yang menyuruh kita puasa itu Oma?” tanyaku. Aku benar-benar tidak percaya dengan tingkah konyol mereka.
Oma langsung meninggalkan kami. Arsen pasti sudah mengabari merek semua begitu tahu hasil tes positif. Apa lagi yang mereka katakan sampai Arsen bersikap menyebalkan begini?
“Bukan cuma Oma, Mama sama Papa juga.” Arsen memeluk erat perutku, menyembunyikan wajah tampannya sebelum aku marah.
“Ya ampun, jahatnya kalian sama aku.”
♥️♥️♥️
...Keluarga macam apa sih mereka?? Bang Arsen nurut-nurut aja sih disuruh puasa 😅😅😅...
Jangan lupa ritualnya.
__ADS_1
Sampai ketemu lagi 😘😘😘